by

Cerpen: Assalamualaikum Mak, Abah!

Angin sejuk berhembus membuai ranting pepohonan, di sudut desa Meurah dibawah pohon Kuwini besar nan rindang berdiri seorang wanita cantik berkulit sawo matang, baju terusan berwarna hitam dan jilbab biru tua menutup sempurna auratnya.

Wajahnya teduh, tapi tampaknya hatinya sedang sayu saat ini. matanya menatap ke arah sebuah rumah yang tepat berada lebih kurang 8 meter di hadapannya. Rumah berdinding papan dan beratap rumbia itu sedikit miring kekanan, beberapa bagian dinding juga telah lapuk dan berlubang. Wanita itu terus menatap ke arah rumah tua, kali ini dengan tatapan kosong, entah apa yang sedang menjalari pikirannya.

Tak lama kemudian, suara adzan zuhur terdengar berkumandang menyerukan setiap hamba untuk menunaikan kewajiban dihadapan Rabbnya. Wanita itu juga tampak tersadar dari lamunannya, lalu dengan pasti melangkahkan kakinya menuju rumah berdinding papan tersebut.

Halaman rumah penuh dengan daun-daun kering yang berserakan, sehingga setiap langkah kakinya menimbulkan suara gemerisik-gemerisik daun kering yang memecah kesunyian. Ya, sunyi, mungkin karena letaknya yang jauh dari rumah warga yang lain. Sehingga rumah ini terasa begitu terasing.

Saat ini, si wanita telah berdiri tepat didepan pintu rumah. Dengan ragu dipegangnya gagang pintu yang tampak berdebu, lalu didorongnya dengan sangat pelan.

“ucap salam Aisyah, jangan seperti kambing masuk rumah”

Baru beberapa langkah dia masuk, tiba-tiba sebuah suara membuat wanita berbaju hitam itu terkesiap. Matanya langsung tertuju pada pemilik suara yang sedang duduk di sudut sebelah kiri ruang tamu, tepat di dekat jendela.

Di sebuah tikar pandan lusuh seorang wanita tua sedang duduk dengan kaki dijulur kedepan. Di sampingnya tampak sebuah baju kemeja tak berkancing serta ditambal dimana-mana, tak jauh dari baju tersebut, empat kancing baju dengan warna dan bentuk yang berbeda tergeletak dilantai, sedang ia sibuk memasukkan benang kedalam jarum yang pada nyatanya, setiap yang melihat akan sadar, bahwa hanya keajaiban yang akan membuatnya berhasil.

Mungkin karena mata yang pelan-pelan mulai kehilangan fungsinya terguras usia, sehingga jarum dan benang nyaris tak pernah berdekatan, apa lagi untuk memasukkan benang ke lubang jarum yang kecil.

“Assalamualaikum mak” kata wanita berbaju hitam itu kemudian, aura wajahnya tiba-tiba berubah, dia tampak begitu bersemangat lalu menghampiri wanita tua yang dia panggil mak.

“walaikumsalam, sudah pulang kamu Aisyah, shalat zuhur lah, kemudian makan, tadi mak masak ikan goreng, sayur dan terasi.

“abah kemana mak?” Tanya siwanita yang ternyata bernama Aisyah, sambil berjalan mendekat ke arah maknya lalu menghempaskan tubuhnya diatas tikar pandan lusuh tadi tepat dihadapan sang emak.

“kau seperti tidak tau abahmu, sekeras apapun dia bekerja di sawah, dia pasti menyempatkan waktu untuk pulang, bersih-bersih lalu pergi ke surau menjelang waktu sholat”.

Baca Juga  Cerpen: September Rain

Untuk beberapa saat hening, sang emak masih disibukkan menjahit kancing-kancing baju tersebut, sedang Aisyah tatapannya tak bisa lepas menilik setiap inci tubuh maknya.

Keriputnya sudah sangat kentara memenuhi kulit tubuh dan wajah, telapak kakinya pecah-pecah parah dan luka hampir disetiap sela jari kaki. Telapak tangannya kasar dan penuh kapalan, baju yang yang dipakai juga tampak sangat tua, kain sarung yang digunakan untuk bawahan juga ditempel dimana-mana. Kali ini mata Aisyah mulai berkaca-kaca, raut mukanya menggambarkan betapa hatinya terhiris di dalam.

Matanya kembali tertuju pada tangan maknya, kali ini dia tampak kelelahan dengan jarum nya dan beralih memusatkan perhatiannya untuk memilah milih kancing mana yang akan dijahit lebih dulu.

“Mak, kenapa masih diperbaiki, bajunya sudah bisa dibuang” suara Aisyah terdengar bergetar menahan tangis.

“Enak saja, ini bisa dipakai abahmu, kalau sedang dirumah, pokoknya kamu sekolah saja yang benar, jadi orang hebat, jangan sia-sia abahmu jual tanah”.

Tak ada jawaban dari Aisyah, emaknya pun kembali diam.

“nanti kalau kamu pergi dari rumah mu karena menuntut ilmu, bekerja atau dibawa suami mu, sering-sering pulang, janguk kami yang semakin menua ini, tak ada hal paling membahagiakan lain untuk kami selain menyambut salam setiap engkau pulang”.  wanita yang dipanggil emak itu kembali membuka suara, kali ini terdengar sangat menyayat di hati aisyah.

“Aisyah sudah jadi Dosen muda mak, mak ikut pindah ke rumah Aisyah ya” beberapa tetes air mata mengalir di wajah manis Aisyah.

Sedang mak hanya tersenyum.

“Asslamualaikum” sebuah salam terdengar dari arah pintu, Aisyah tau betul itu siapa.

“Walaikumsalam, abah!” panggil Aisyah dengan mata berbinar-binar, dia begitu merindukan sosok itu. Laki-laki yang mendidiknya dengan lemah lembut tapi tak kehilangan sisi tegasnya dalam sebuah aturan.

Beliau juga yang sangat kuat mendorong Aisyah meraih mimpi. Sampai-sampai akhirnya rela menjual sawah yang merupakan harta satu-satunya untuk biaya pendidikan Aisyah, dan akhirnya harus banting-tulang menjadi buruh disawah pak Mahmud.

“Sudah pulang kamu nak!” kata laki-laki yang dipanggil abah itu. Senyumnya hangat kearah Aisyah, lalu duduk lesehan di lantai tak jauh dari Aisyah dan maknya. Beberapa saat dia tampak mengatur napasnya yang terengah-engah, lalu menurunkan peci dari atas kepalanya. Ubannya tampak hampir memenuhi kepala. Aisyah hanya mengungguk kan kepala, lalu matanya beralih menatap sang abah.

Sarung dan baju koko ayahnya juga tampak lusuh, kulit keriputnya tampak legam terbakar matahari, berat badannya juga tampak semakin menurun.

“Kenapa baru pulang Aisyah? Mak sama abahmu sangat merindukanmu”, kata sang abah dengan tetap tersenyum hangat, tapi kali ini dia tak menatap Aisyah, sepertinya berusaha menyembunyikan kesedihan dari anak semata wayangnya.

Baca Juga  Resep Masakan Sega Tiwul

“biarkan dia istirahat dulu abah, yang penting dia tidak lupa dengan kita” wanita tua yang tadi ia sebut emak menimpali dengan suara serak menahan tangis

“Maafkan Aisyah mak, abah” kali ini air mata Aisyah buncah, dia bersujud di kaki maknya, berusaha melebur rindu yang yang membatu dan penyesalan yang mungkin abadi. Tangan hangat wanita tua itu ternyata masih mampu menenangkannya, masih senantiasa menjadi obat gundahnya, Aisyah menikmati setiap elusan tangan kasar wanita tua itu.

Lalu dia bangun dan mendekat ke arah sang abah, tubuhnya ambruk bersujud di kaki abahnya. Diambilnya telapak tangan sang abah lalu dicium berkali-kali tangan kasar itu.

“Sudah kami maafkan nak” kata abahnya, sambil menepuk-nepuk lembut bahu Aisyah.

“sekarang shalat zuhur lah dulu. Sudah azan” sambung abahnya.

Aisyah yang tersadar memang belum sholat zuhur, menyeka air mata dengan kedua tangannya, lalu berdiri meminta izin untuk kebelakang mengambil wudu’.

Aisyah mulai melangkahkan kakinya melewati ruang tengah, masih seperti biasa, terdapat empat kursi kayu disana, tempat biasanya mereka makan bersama, tapi anehnya, setiap hal yang dilihat penuh debu. Bahkan sampai dikamar mandi Aisyah hanya menemukan kamar mandi kotor tanpa setetes airpun, hanya binatang-binatang jorok yang berkeliaran.

Aisyah mulai merasa aneh, wajahnya tampak sangat gelisah, otaknya tidak bisa berpikir sekarang, dia hanya berharap abah dan maknya masih diruang tamu. Tapi sial, abah dan maknya sudah tidak ada disana.

Air mata Aisyah mulai mengalir lagi, deras, seolah tak ada yang bisa menghentikan tangisnya. Dia terus berlari ke setiap ruang dan mendorong dua pintu kamar, dengan terus memanggil mak dan ayahnya layaknya anak kecil yang kehilangan induknya. Tapi ayal, yang ditemukan hanya ruang kosong penuh debu serta kecoa-kecoa yang kucar-kacir terkejut karena kedatangannya.

Dengan putus asa karena tidak menemukan kedua orang tuanya, Aisyah kembali keruang tamu, tatapannya kosong, lututnya terasa lelah menopang tubuh, hatinya terasa begitu perih, ada luka besar bernama kehilangan yang belum terobati, ada rindu yang tak pernah akan lebur dengan temu, abadi dan kadang menghimpit dadanya.

Aisyah terduduk lemah kehilangan tenaga, isakan tangisnya begitu menyayat hati. Dia lupa, Rumah itu telah kosong sejak dua tahun yang lalu, dia lupa, bahwa tempat pelipur lara yang disebut rumah itu sekarang telah kehilangan maknanya.

Dia telah sibuk merantau dan tinggal jauh dari kedua orangtuanya sejak pendidikan S1 nya, kemudian lebih sibuk lagi dengan beasiswa S2nya, meninggalkan kedua orangtunya didesa dan hanya pulang setahun sekali, egoiskah dia?.

Memorinya kembali saat dia mendapat telpon dari bibinya bahwa abahnya sakit dan dia harus segera pulang, padahal seminggu kemudian dia akan momboyong abah dan maknya untuk acara wisuda gelar masternya.

Baca Juga  Harapan Sekeping Hati di Bulan Juni

Dan betapa hancurnya hatinya, saat sampai di sana yang dia temukan adalah keramaian sanak saudara yang sedang melayat, hatinya hancur berkeping-keping, raganya terasa berjalan tanpa nyawa, menapaki langkah demi langkah untuk masuk ke rumah, beberapa saudara berlarian memegang dan memapahnya menuju jenazah abahnya.

Aisyah ambruk, hatinya patah sepatah-patahnya. Airmatanya mengalir bagitu deras.

“Midah….midah…..” teriak seseorang dari dalam kamar emaknya, Aisyah yang tersadar belum melihat emaknya tampak kebingungan. Beberapa orang berlarian menuju kamar, semua pelayat saling bertatapan penuh tanda tanya, Aisyah kemudian ikut berlari dan mendapati maknya terkulai di pangkuan Bi Ramlah, tepatnya di atas tempat tidur .

“sini nak” kata bi Ramlah lalu menarik Aisyah yang masih kebingungan untuk duduk disamping maknya.

“kenapa?” Tanya Pamannya, yang telah berdiri tepat dibelakang Aisyah

“tidak tau, tiba-tiba Midah terkulai” Jawab bi Ramlah sambil terus mengelus-elus kepala maknya.

Pamannya tiba-tiba mengecek bagian leher dan memegang pergelangan tangan Maknya, sepertinya dia mengecek denyut nadi. Tanpa berkata apa-apa pamanya keluar dari kamar, sedang keadaan dikamar kembali hening, tidak lama kemudian, seorang wanita sepuh datang dan juga mengecek bagian leher dan Nadi sang emak.

“Innalilallahi wa innailaihi Rajiun”
Katanya, sambil mengusap muka mak Aisyah, lalu menatap kearah Aisyah.

“sabar nak ya”

Aisyah terdiam, raga dan nyawanya terasa tak beriringan, tubuhnya lemah, tatapannya buram , lalu segalanya menjadi gelap.


“Aisyah bangun nak, Aisyah…?”

Aisyah mendengar namanya dipanggil, sepertinya dia sedang bermimpi, ya, semoga saja ini mimpi, dia terus saja berdoa pada tuhannya agar semua adalah mimpi.

Pelan dia membuka matanya, kepalanya masih sangat berat, tubuhnya begitu lemah, Aisyah mendapati bibi dan sepupu-sepupunya berada di kamar, perasaannya kembali diselimuti ketakutan, dia sudah bangun, tapi sialnya masih berharap berada dialam mimpi.

Tanpa memperdulikan siapapun yang ada di kamar, Aisyah setengah gila berlari menuju ruang tengah, disana dia mendapati dua Jenazah orangtuanya terbujur kaku. Aisyah kembali hancur, sebak memenuhi semua rongga dadanya.

“mak…. Abah” Aisyah berteriak berontak dengan keadaan. Lalu kembali ambruk dan tak sadarkan diri.


Kini, 2 tahun berlalu, Aisyah telah tinggal dikota dan menjadi Dosen Muda, tapi setiap tahun dia selalu pulang mengunjungi mak dan abahnya, mendorong pintu rumah reot itu, dan tak jarang mengucap salam seolah kehilangan sadarnya. Dia selalu ingat kata maknya, bagaimana mereka selalu bahagia mendengar salam saat dia pulang ke rumah.

Dia sudah Ikhlas…. Tapi rindunya kadang tak tau batas…. Abadi… sampai mati…..

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Penulis : Ye Je

Gravatar Image
Menulis untuk belajar, penyuka hujan dan pantai

Comment

Berikan Komentar Untuk Tulisan Ini

Artikel Terkait