by

Cerpen: Akar Berpulas Tak Patah

“Ge, ayo pulang sama, Mas!” perintah Gala. Menunggu di samping mobil.

“T—ta-tapi, Mas, Gea mau pulang sama Pandu,” keluh Gea mendengkus kesal.

“Pandu, kamu bawa helm?” tanya Gala menelisik.

“Mmm … kebetulan saya bawa satu helm, Mas, ajak Gea tadi juga mendadak,” ucap Pandu sedikit berhati-hati. Wajah Pandu pucat pasih saat ia diinterogasi Masnya Gea.

Wajah Gala menampakkan aura bengis, “Kamu mau bawa adik saya tanpa helm? Nanti kalau adik saya kenapa-kenapa bagaimana?” Pandu hanya bergeming tidak bisa menjawab lemparan pertanyaan dari Gala. ”Ayo jawab! Kamu sudah punya SIM?” imbuhnya.

Lagi-lagi Pandu terdiam, nyalinya ciut saat berhadapan dengan Gala.

“Mas, sudah! Kasihan Pandu. Pandu, Gea pulang sama mas dulu, ya, maaf kelakuan masku radak sensi. Kita besok pulang bareng, ya Pandu,” bujuk Gea, ia mencoba menenangkan hati Pandu yang mungkin saat ini gusar.

“Mas Gala, besok saya bawa helm dua. Saya mau antar adik, Mas pulang dengan selamat,” seru Pandu saat Gea dan masnya masuk ke dalam mobil. Mendengar ucapan Pandu, Gala berbalik arah dan mengacungkan jempol.

***

Gea masuk mobil dengan raut muka masam. Geram dengan perbuatan yang dilakukan Gala, ingin sekali melempar wajahnya dengan flat shoes yang ia kenakan. Namun, ia tidak bisa berkutik. Lagipula Gala masnya juga, apa pun yang ia lakukan pasti ada alasanya. Tetapi caranya salah menurut Gea.

“Pakai safety belt-nya,” tutur Gala. Gea hanya melempar senyum sinis.

“Anak SMA, sok-sokan mau bawa anak orang enggak bawa helm, nanti kena tilang polisi baru tahu rasa,” desis Gala sembari matanya fokus menyetir. Sepanjang perjalanan pulang Gea hanya diam tidak merespon masnya yang dari tadi mengomel. Gea membisu menunjukkan dirinya sangat marah dengan ulah masnya, yang melarangnya berboncengan dengan Pandu.

“Gea punya uang kok, paling enggak bawa helm bayar 200 ribu,” sergah Gea.

Mendengar perkataan adiknya Gala tergelak, “Uang siapa, banyak banget?”

“Uang mama dong, Mas,” cicit Gea.

“Dasar anak SMA, di mana-mana kalau ditilang ikut persidangan, bukan malah bayar polisi kaya gitu, itu bisa dinamakan tindakan korupsi, Gea … kamu masih SMA mau belajar jadi tukang korupsi. Astagfrullah, Gea. itu tindakan tidak baik. Aku aduin ke mama, ya?” tantang Gala.

Gea adalah gadis cantik dengan bola mata yang bulat dan lebar, Rambut hitam sedikit cokelat bergelombang. Gea tipe perempuan yang suka menguncir rambutnya seperti ekor kuda dengan alasan lebih simpel dan tidak gerah.

Berjam-jam di dalam mobil berdua bersama masnya Gea sangat bosan. Hujan tiba-tiba mengguyurkan ditambah jalanan yang macet berhasil membuat hari-hari Gea suram. Gea gelabakan tidak tahu aktivitas apa yang akan ia lakukan, di saat terjebak macet berdua dengan Gala yang mengesalkan. Gea menyandarkan kepalanya di kaca mobil, tangganya yang lentik mengetuk-ngetuk kaca sebagai pertanda kalau ia bosan.

Gala merenggangkan otot tangannya, ia mencoba memecahkan keheningan dengan mencari topik yang menyulut emosi adikknya, “Kenapa kamu pasti mikir kalau hujan-hujanan kayak gini berdua di atas motor sama Pandu pasti menyenangkan, dari pada duduk bersama Mas berjam-jam?” sindir Gala. Gea langsung melayangkan tatapan perang.

“Seru banget kayaknya, apa lagi bisa boncengan sama orang spesial,” ucap Gea sembarangan.

Idih, kamu tahukah, Mas itu khawatir sama keselamatan kamu. Makanya kamu ajak pulang bareng sama, Mas, kamu paham enggak si kalau, Mas khawatir, takut kamu nanti kenapa-kenapa. Siapa yang repot?” ungkap Gala menggebu-gebu. Ia sengaja agar adiknya paham kalau tertib lalu lintas dan memakai helm itu hal yang wajib ditaati. Karena menyangkut keselamatan nyawa sendiri maupun orang lain.

“Cie … yang khawatir, bilang dong dari tadi. Pake acara marah-marah ke Pandu,” goda Gea. Ia tidak menyangka kalau Masnya bisa sepeduli ini dengan keadaannya.

“Hmm … oh, iya UAS bagaimana UAS? Katanya hari ini UAS matematika?” Gala mengganti topik.

Gea nyengir kuda, “Lumayan setengah aku isi sendiri, sisanya sumbangan,” jawab Gea.

Setelah mendengar perkataan Gea, tiba-tiba satu serangan tangan Gala menyentil dahi Gea.

“Duh, Mas. Sakit,” keluh Gea.

“Itu hukuman buat kamu, masa sudah diikutkan les private malah kayak gini? Sia-sia dong mama biayarin selama ini. Bukannya berusaha malah minta sumbangan,” ketus Gala menunjukkan kekecewaan ke Gea.

“Ta-ta-pi, Mas … MTK susah banget, Gea enggak bisa selesaikan dengan waktu 90 menit. Bisa selesai kalau satu hari kayaknya.” Gea kikuk dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Sama saja kalau kamu diberikan waktu seminggu kalau kamu enggak ada usaha buat kerjain sendiri dan belajar. Ya, sama saja, Ge …,” sesal Gala. “Apa alasan kamu mencontek?” tanya Gala membuat Gea merasa terpojok dan tidak bisa berbohong. Sepandai-pandainya Gea berbohong Gala pasti tahu celahnya.

“Biar dapat nilai bagus, dan buat mama bangga sama Gea,” jawab Gea singkat namun membuat Gala terbelalak dan menghembuskan napas berat.

Gala mengerutkan keningnya mendengar ucapan Gea. Kemudian Gala memijit pelipisnya sedikit pening, “Terus? Kalau kamu sudah dapat nilai bagus tapi kamu enggak paham materinya bagaimana?”

Gea terdiam ia mencoba mencari alasan lain, “Kalau Gea sudah dapat nilai bagus, Gea mau belajar lagi yang lebih rajin dari biasanya,” bujuk Gea.

“Kalau nilai bagus, ya enggak usah belajar lagi dong, nanti Mas bilang ke mama enggak usah les privat lagi soalnya nilai Gea sudah bagus, bagaimana? Kamu enggak terima?” ancam Gala. Lagi-lagi Gea terdiam dengan perkataan Gala yang lama-kelamaan membuat Gea sesak dan rasanya ingin keluar dari mobil.

“Mas jangan gitu, dong, Gea gini soalnya ada alasannya,” keluh Gea.

“Gimana? Kan, Mas sudah bilang beberapa kali bilang ke kamu. Pemahaman materi lebih penting daripada kamu dapat nilai bagus tapi enggak paham,” sanggah Gala yang tidak ingin kalah debat dengan adiknya.

“Gea itu ngerasa paling bodoh di kelas, Mas … Gea rasa guru-guru di sekolahku itu pilih kasih, mereka lebih fokus mengajari mereka yang sudah pintar. Sedangkan kita yang kurang malah enggak diperhatikan,” beber Gea membuat Gala mengangguk memahmi ucapan adiknya.

“Jadi, kita yang nilainya enggak bagus malah diremehkan. Mas tahukah Gea itu pengen banget buat mama dan ayah bangga sama Gea. Tapi Gea tahu kok kalau jalan yang Gea pilih ini salah. Kadang Gea itu gedek sama sistem pendidikan di Indonesia Mas … kebanyakan dari mereka mengutamakan ‘hasil’ daripada ‘proses’ untuk menuju hasil. Kalau setiap guru punya hati nurani, yang menghargai proses peserta didiknya pasti dan bisa dijamin enggak ada yang mencontek. Mereka bakal belajar sesuai kemampuan yang kita dapat enggak peduli dengan hasil, yang terpenting itu pemahaman dan proses kita,” jelas Gea sedikit menggebu dan bersemangat.

“Ada lagi, nih, tuntutan orang tua yang selalu menuntut hasil yang terbaik. Wajar sih Mas kalau mereka sedikit menuntut karena mereka yang biayain kita buat sekolah. Mas pernah berada di posisi yang pengen nyerah aja enggak? Sampai pada akhirnya kita ambil jalan pintas biar dapat nilai atau sesuatu yang membahagiakan,” imbuh Gea sedikit terpancing emosi saat mengungkapkan isi hatinya.

“Mas, kan sudah bilang orangtua kita enggak pernah nuntut kamu harus nilai yang bagus, kamu pandai dalam semua bidang, kalau kamu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan hasil yang maksimal, terus kamu mencontek sama saja kamu membohongi diri sendiri dan akhirnya kamu kalau jadi pejabat tinggi negara, kamu terbiasa dengan hal yang buruk dan alhasil kamu korupsi, iih … serem.” Gala bergidik sedangkan Gea menunduk mungkin dia memahami setiap kata yang keluar dari mulut Gala.

“Mas, Gea salahkah? Kalau menganggap cara belajar orang Indonesia salah?”

Gala menggeleng pelan, “Kamu enggak salah kok, Mas dulu juga pernah mengalami hal yang sama seperti kamu. Tapi mas beda mas enggak bisa ya belajar, tidak seperti kamu malah mencontek, memang kamu enggak takut kalau seandainya mencontek ketahuan guru?”

Gea menyeringai lebar, “Ya kita harus pandai melihat sikon, Mas … rasanya susah ya jadi orang jujur itu.”

Dahi Gea kembali terkena layangan sentilan dari Gala, “Dengerin mas baik-baik dan pahami. Kamu seharusnya beruntung jadi orang jujur itu. Bukannya malah menyesal. Di negara ini banyak banget orang-orang pandai dan cerdas. Tapi kita kekurangan orang jujur. Jujur itu kunci kehidupan. Nanti kamu enggak membiasakan berperilaku jujur apa jadinya negara kita? Dipenuhi orang-orang yang pintar membodohi masyarakat yang bawah.

Masalah nilai di rapot, ‘kan cuman formalitas enggak semua nilai itu asli. Semua tingkah laku kamu selama ikuti pelajaran diakumulasikan jadi satu yang disebut dengan nama ‘rapot’. Yang terpenting itu kamu paham apa yang diajarkan oleh guru, lalu kamu terapkan dalam kehidupan sehari-hari, biar ilmu kamu manfaat dan barokah,” jelas Gala berapi-api membuat Gea kembali menundukkan pandangan setelah mendengar nasehat dari Gala. Tidak ada penolakan mungkin kalau Gea jawab isinya jawaban anda benar semua.

“Enggak usah nunduk, ini Mas ajakin kamu diskusi bukan ceramahin kamu,” protes Gala.

“Iya, Mas Gea ngerasa bodoh kenapa enggak dulu-dulu sadar kayak gini.”

“Kamu itu enggak bodoh, cuman malesnya ituloh enggak ketulungan,” ejek Gala. Gea langsung mencibir Gala.

Jalanan perkotaan basah setelah hujan beberapa jam lalu, susananya menjadi sejuk, sediki gerimis dan mendung. Gala memutar playlist music di Mp3 mobilnya lagu Kunto aji menjadi pilihan musik favoritnya. Tak lama Gea terlihat sangat gelisah, ia mengeluh jika perutnya keroncongan, bagaimana tidak lapar setelah berjam-jam terjebak macet dan akhirnya ia mengeluh kelaparan.

“Mas, ayo mampir di rumah makan, dong lapar aku,” keluh Gea dengan menarik-narik lengan hoddie abu-abu milik Gala. Gala yang fokus menyetir akhirnya buyar karena mendengar rengekan adiknya. Mereka akhirnya berhenti di pinggir jalan terdapat rumah makan sederhana yang cukup ramai pembeli.

TAMAT

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment

Artikel Terkait