by

Bulan, Bintang, dan Janji Seumur Hidup

Bulan, Bintang, dan Janji Seumur Hidup

Oleh:

Adriana Rosalyn

Matahari sudah terbenam ketika Bulan sampai di rumah. Kakinya terasa ingin patah akibat berjalan kesana kemari, dari satu toko ke toko lainnya, dari membeli tas incarannya sampai membeli lego incaran Langit, calon suaminya. Lelah memang, tapi ada kepuasan di dalam hatinya. Benar apa kata orang, masa persiapan pernikahan pasti terasa berat namun kebahagiaan yang tercipta membuat semua rasa lelah itu tidak ada apa-apanya.

“Ini, diminum dulu,” ujar sang ibu yang menyodorkan segelas jus jeruk padanya. “Bagaimana acara belanjanya, seru?”

“Capek banget, Ma. Ternyata laki-laki kalau sudah berurusan dengan barang kesukaannya juga nggak kalah ribet. Selama menjalin hubungan dengan Mas Langit, ini pertama kalinya aku lihat dia begini padahal biasanya pembawaannya tenang dan kesannya manut saja. Eh, tapi ternyata sama ribetnya kayak Bintang,” sahut Bulan setelah menghabiskan setengah gelas jus jeruk yang diberikan ibunya tadi, sang ibu tertawa pelan. “Oh iya, Bintang mana, Ma? Aku mau mengingatkan dia untuk fitting baju besok siang.”

“Tadi sih setelah pulang langsung mandi, mungkin masih di kamar. Tolong panggilkan ya, Sayang, sudah waktunya makan malam.”

Bulan mengangguk. “Tapi aku sekalian mandi ya, badanku rasanya lengket banget,” ujar Bulan, kemudian bergegas naik ke lantai dua, tempat kamarnya dan Bintang berada.

Perempuan berambut hitam sebahu itu tadinya ingin mengetuk kamar “Si Jangkung”—panggilan sayangnya untuk Bintang. Namun, pintu kamar Bintang rupanya terbuka setengah. Aneh, batin Bulan. Biasanya, yang nama Bintang Putra Daneswara kalau sudah di rumah pasti pintu kamarnya jarang terbuka seperti ini. Ia tidak suka keramaian, bisa-bisa konsentrasinya buyar saat sedang mengerjakan desain pesanan klien.

“Kung, kamu di dalam—“ Bulan terdiam saat melihat Bintang tertidur di atas kasur, ditemani album-album foto yang sudah lama tidak dilihatnya.

Ia berjalan mendekat. Bibirnya tertarik membentuk senyum manis saat melihat wajah damai Bintang. Ia menggeleng pelan, perempuan itu tahu benar bahwa sudah hampir seminggu belakangan ini Bintang kurang tidur karena pekerjaannya. Ia beralih pada sebuah album foto ukuran besar yang mungkin tadi dilihat Bintang sebelum pemuda jangkung itu ketiduran. Bulan mengusap pelan permukaan foto-foto yang terpampang di halaman yang terbuka tersebut.

Happy Graduation My Beloved Children—tulisan sang ayah tampak lucu bersanding dengan foto-foto kelulusan Bulan dan Bintang. Ia terkekeh pelan mengingat bagaimana sang ayah dan ibu bersikeras menghiasi album-album foto dengan tulisan atau gambar-gambar lucu, bahkan bunga atau dedaunan kering.

Bulan akhirnya memutuskan untuk melihat dari halaman pertama. Tidak ada salahnya ‘kan bernostalgia sebentar?

Papa and Mama’s Wedding—Bintang berdiri gagah di samping kiri sang ayah, sementara Bulan tampak anggun berdiri di sisi kiri sang ibu. Bulan dan Bintang memang bukan saudara kandung. Kedua orang tua mereka menikah saat mereka berada di bangku kelas 8 sekolah menengah pertama.

Butuh hampir setahun untuk membuat Bulan dan Bintang mau saling menerima orang tua tiri, dan butuh waktu hampir 4 tahun lamanya untuk membuat Bulan dan Bintang saling menerima kehadiran masing-masing sebagai saudara. Semua kenangan masa itu kembali muncul di pikiran Bulan layaknya film lama yang diputar kembali.

Bulan tidak habis pikir dengan pemuda yang tengah bermain basket di tengah lapangan sana. Bisa-bisanya pemuda itu bermain basket dengan santai padahal 15 menit yang lalu ia baru saja menolak pernyataan cinta seorang kakak kelas. Bintang Putra Daneswara memang definisi sesungguhnya dari tembok yang diberi nyawa. Cuek, sok dingin, ketus—pokoknya, bagi Bulan Kirana Maheswari, semua sifat jelek manusia ada pada Bintang.

“Aku nggak paham, bagaimana bisa Mama Alya yang sebaik itu punya anak yang hobinya bikin naik darah? Mama Alya dulu ngidam apa sih? Makan batu kerikil?” gerutu Bulan yang netranya masih setia mengikuti gerak-gerik saudara tirinya, Bintang. Sebenarnya Bulan malas sekali harus mengawasi Si Jangkung berhati batu itu, tapi dia tidak bisa mengabaikan amanah sang ibu tiri yang menyuruhnya mengawasi Bintang karena beberapa hari yang lalu pemuda tampan itu pulang dengan luka di sudut bibir.

Bintang beralasan dia menabrak pintu kelas saat sedang piket pagi, tapi jelas Mama Alya tidak percaya apalagi Bulan. Lagipula, dia ‘kan satu kelas dengan pemuda itu, jangankan menabrak pintu saat piket pagi—piket saja tidak pernah. Cih, dasar tukang bohong!

“Kamu itu ya, bukannya bersyukur punya saudara tiri yang ganteng malah mengeluh terus,” tegur Nadia, sahabatnya. “Lagipula, menurutku apa yang dilakukan Bintang itu sudah benar. Dia ‘kan nggak suka sama Kak Diana, kamu tahu sendiri Kak Diana sok berkuasa dan genit. Aku sih kalau jadi Bintang juga bakal menolak.”

“Iya Nad, aku tahu. Tapi bisa ‘kan, dia pakai cara yang lebih manusiawi atau minimal lebih lembut. Dia bisa saja bilang, ‘Kak, aku minta waktu ya’ atau ‘Kak, aku nggak bisa jawab di sini, kita bicara di tempat lain ya’, iya ‘kan? Coba deh, bayangkan betapa malunya Kak Diana sekarang,” ujar Bulan. “Aduh, dosa apa sih aku punya saudara tiri kayak dia?”

“BULAN AWAS!”

Bulan tidak sempat menoleh sepenuhnya, dan semuanya mendadak gelap.

Baca Juga  Cerpen: KAMARKU TEMPAT KENYAMANANKU

Si gadis Maheswari mengerjapkan matanya beberapa kali, menyesuaikan dengan ruangan yang cukup terang. Kepalanya terasa pusing. Dia tidak tahu apa yang terjadi padanya. Seingatnya banyak orang berteriak dan ia merasa sesuatu menghantam kepalanya, lalu semuanya tampak gelap.

“Kamu udah bangun?”

“Ya menurutmu kalau mata terbuka begini aku pingsan?”

“Kalau kamu masih galak berarti kepalamu baik-baik aja.”

Bulan malas membalas sindiran Bintang, kepalanya terlalu pusing untuk berdebat dengan pemuda jangkung itu.

“Lain kali jangan duduk di pinggir lapangan kalau ada yang main basket kayak tadi, masih untung kepalamu nggak apa-apa,” ujar Bintang.

“Siapa juga yang mau duduk di pinggir lapangan kayak tadi, kalau bukan karena Ma—“ Bulan menutup mulutnya, hampir saja kelepasan bicara padahal sang ibu sudah mengatakan untuk mengawasi Bintang tanpa ketahuan.

Kening Bintang mengernyit. “Kalau bukan karena apa?”

Bulan menggeleng cepat. “Bukan apa-apa, bukan urusanmu juga.”

Bintang hanya bisa menghela napas, saudari tirinya itu memang definisi singa betina yang kelaparan, galak bukan main. Dia heran, padahal dirinya merasa tidak pernah membuat kesalahan pada perempuan berpipi tembam itu. Memang sih, sewaktu di sekolah menengah pertama mereka selalu bersaing untuk menjadi juara angkatan. Tapi, masa hanya karena itu Bulan selalu bersikap galak padanya?

Bintang sadar bahwa hubungan mereka memang rumit tapi mereka jadi keluarga juga atas persetujuan bersama, ‘kan? Bahkan Bulan sangat menyayangi sang ibu, Bintang bisa lihat dari bagaimana perempuan cantik itu tersenyum lebar saat bersama ibunya. Ah sudahlah, kenapa harus pusing memikirkan hal itu?

“Ini, minum teh hangat dulu.” Bintang menyodorkan segelas teh hangat yang disiapkan siswi PMR yang bertugas hari ini.

“Terima kasih,” ujar Bulan.

Ia menyesap sedikit, rasanya nyaman di tenggorokan. Astaga, suasananya jadi canggung sekali. Selama saling mengenal, bahkan sudah hampir 4 tahun menjadi keluarga, mereka tidak pernah benar-benar berdua begini. Entah topik apa yang harus mereka bicarakan sampai Bulan melihat luka di sudut bibir Bintang yang masih tampak merah walaupun sudah mulai membaik. Ia benar-benar penasaran dengan penyebab luka tersebut.

“Kalau ada yang ingin kamu katakan, katakan saja,” ujar Bintang tiba-tiba, membuat Bulan merasa seperti tertangkap basah melakukan kejahatan. Tapi mumpung Bintang yang memancing, sekalian saja dia bertanya.

“Luka di bibirmu … kamu berkelahi dengan siapa?”

Bintang cukup terkejut, tapi segera menguasai diri. “Kamu tahu pun nggak ada gunanya.”

“Apa maksudmu?”

“Bulan!”

Keduanya sontak menoleh saat seseorang memasuki UKS dengan wajah panik. Bintang bisa melihat mata Bulan yang berbinar saat melihat sosok laki-laki berkulit sawo matang itu masuk. Hatinya terasa panas, kemarahan kembali menjalar di sekujur tubuhnya.

“Sayang, kamu nggak apa-apa?” Pemuda itu mengusap pelan kepala Bulan. “Masih sakit?”

“Nggak, aku baik-baik aja. Kamu ngapain disini, ‘kan ini masih jam pelajaran?”

“Aku tadi minta ijin ke toilet, jadi tenang saja. Lagipula, siapa yang berani melempar bola ke pacarnya Rian Pratama? Ayo bilang, biar aku hajar dia.”

Bintang rasanya ingin muntah melihat tingkah sok manis pemuda itu, menggelikan sekali. Namun ia memilih mengamati sepasang kekasih itu dalam diam.

“Aku nggak tahu siapa yang melempar bola, tapi ya sudahlah, ngapain juga ribut-ribut? Yang penting sekarang aku baik-baik aja.”

“Tapi kan—“

“Kamu dengar perkataan Bulan, ‘kan? Dia sekarang baik-baik aja, jadi kamu silahkan kembali ke kelasmu sebelum aku melaporkan kamu ke guru yang mengajar di kelasmu sekarang,” potong Bintang, tangannya yang terlipat di depan dada menambah kesan tegas.

Rian mendecih. “Kamu sendiri ngapain disini? Kamu nggak punya hubungan apa-apa dengan Bulan, jadi kamu juga seharusnya nggak disini.”

“Kamu lupa atau amnesia? Aku saudara tirinya Bulan, kami memang nggak punya hubungan darah tapi kami tetap keluarga.”

“Kamu—“

Bulan menahan lengan Rian yang tampak tersulut emosinya. “Rian, sudah ya, kamu kembali ke kelas saja. Nanti aku hubungi kamu, oke?”

Rian mengangguk setuju, lalu mengusap pelan rambut Bulan. Setelah pamit, ia masih sempat melirik tajam ke arah Bintang yang tampak tidak peduli dengan sikap Rian yang seakan siap memukulnya saat itu juga.

“Kamu itu bisa nggak sih menghargai pacarku? Aku tahu kita sudah jadi keluarga, tapi bukan berarti kamu berhak ikut campur dalam kehidupanku. Lagipula aku nggak pernah bilang aku menerima kamu sebagai saudaraku, ‘kan? Aku tahu kamu juga belum bisa menerima aku jadi saudarimu, jadi tolong, bersikaplah seperti itu atau kalau perlu anggap saja aku nggak ada.” Bulan meluapkan emosinya, bukan dengan suara tinggi tapi dengan suara lembut yang entah kenapa terasa jauh lebih menusuk hati Bintang.

“Aku tahu aku memang nggak berhak mencampuri urusanmu, tapi satu yang aku tahu, Rian bukan lelaki yang baik. Kamu pantas mendapat seorang pangeran, bukan sampah seperti dia,” ujar Bintang.

“Kalau kamu masih mau menjelek-jelekkan pacarku, lebih baik kamu pergi aja, aku bisa menjaga diriku sendiri,” kata Bulan tegas.

Bintang menghela napas panjang. “Teh hangatnya diminum sampai habis biar kepalamu nggak pusing. Ponselmu ada di dalam tas, kalau ada apa-apa kamu bisa menghubungi aku atau Nadia. Istirahatlah, nanti sepulang sekolah aku jemput ke sini.”

Baca Juga  Anathema

Bintang kemudian berbalik, namun dia menoleh sejenak. “Aku nggak pernah bilang aku belum bisa menerima kamu sebagai saudari,” ujarnya, lalu berjalan meninggalkan UKS sementara Bulan terdiam, terkejut mendengar penuturan pemuda jangkung itu.

Sejak kejadian itu keadaan di antara Bulan dan Bintang semakin buruk. Mereka tidak saling bertukar sapa, bahkan saling menghindar. Kedua orang tua mereka jelas menyadari perubahan yang terjadi pada anak-anak mereka.

“Bulan, kamu bertengkar dengan Bintang?” tanya sang ibu saat keduanya menyiapkan sarapan bersama.

“Nggak Ma, kenapa?” sahut Bulan.

“Mama dan Papa memperhatikan kalian nggak pernah saling sapa lho belakangan ini, kesannya kayak saling menghindar. Semalam saja waktu Bintang mengambil yoghurt kesukaanmu, kamu nggak protes sama sekali padahal biasanya kamu pasti ngomelin dia dari A sampai Z.”

“Oh itu, ya Bulan lagi nggak pengen minum yoghurt jadi kalau Bintang mau minum nggak apa-apa,” kilah Bulan.

“Masa sih?” tanya Mama Alya masih ragu. Sebuah ide cemerlang terlintas di pikirannya saat melihat Bintang masuk membawa ember setelah mencuci mobil bersama Papa Irfan.

“Bintang hari ini sibuk nggak, Nak?”

“Nggak Ma, kenapa?”

“Tolong belanja bulanan sama Bulan ya, nanti uang sama daftar belanjaannya Mama kasih ke Bulan,” ujar Mama Alya, yang sontak membuat Bulan dan Bintang panik.

“Tapi Ma—“ keduanya kompak hendak menolak.

“Wah, kompak banget anak-anak Mama. Tapi Mama nggak menerima penolakan ya, soalnya Mama ada virtual meeting habis sarapan dan Papa kayaknya ada janji sama temannya jadi Mama minta tolong banget sama kalian, oke?”

Bulan dan Bintang saling pandang, mengerti bahwa mereka tidak punya pilihan.

Sudah hampir dua jam mereka berkeliling pasar swalayan untuk membeli kebutuhan sesuai daftar yang diberikan Mama Alya. Bulan sadar semua ini hanya siasat sang ibu supaya keduanya bisa bicara, dan mungkin berbaikan.

Bulan sendiri sebenarnya ingin mengajak saudara tirinya itu bicara, dia sadar cara bicaranya waktu itu sangat kasar. Bahkan kalimat terakhir Bintang sebelum meninggalkan UKS terus-menerus terngiang di kepalanya, membuat perempuan cantik itu merasa bersalah.

“Setelah belanja mau mampir minum di bawah nggak?” tanya Bintang tiba-tiba. “Ya tapi kalau kamu nggak mau juga—“

“Aku mau,” potong Bulan.

Setelah beres belanja, mereka berjalan ke arah kedai kopi yang biasa mereka kunjungi bersama dengan orang tua mereka.

Matcha latte, ‘kan? Aku tahu kamu nggak begitu suka kopi.”

Bulan mengangguk, dia tidak tahu Bintang tahu hal kecil tentangnya. Ada rasa malu dalam hatinya, dia sendiri tidak tahu apa yang disukai dan tidak disukai pemuda itu.

Ice americano, 2 shots.”

Bulan mencoba mengingat pesanan Bintang. Baiklah, jika lain kali mereka datang kesini ia sudah tahu minuman apa yang akan dipesankannya untuk Bintang. Beres memesan minuman, mereka segera mencari tempat duduk.

“Di luar saja,” kata Bulan karena di dalam tampak penuh.

“Kamu nggak bisa menghirup asap rokok, ‘kan? Nanti alergimu kambuh,” ujar Bintang. “Nah, itu di pojok ada yang kosong.”

Bulan kembali dibuat takjub oleh betapa pahamnya Bintang akan dirinya. Bahkan Rian yang notabene pacarnya pun sering merokok di dekatnya walaupun sudah sering ditegur oleh Bulan.

“Aku ke toilet dulu ya, jangan kemana-mana.”

Bulan menatap pemuda jangkung itu sinis, membuat Bintang terkekeh pelan. 10 menit, 15 menit, 20 menit, sudah hampir setengah jam berlalu tapi Bintang belum juga kembali. Kemana sih pemuda itu? Bulan mencoba menghubungi Bintang, tapi tidak ada jawaban.

“Cih, apa aku ditinggal?” Belum juga bingungnya menghilang, ia justru melihat orang-orang keluar dari kedai kopi.

“Ada apa, Mbak? Kok pada keluar?” tanya Bulan pada salah seorang pegawai kedai kopi.

“Oh itu ada yang berkelahi, Kak.”

“Berkelahi?” gumam Bulan, entah kenapa ia tiba-tiba teringat luka di sudut bibir Bintang yang katanya hasil menabrak pintu kelas saat piket pagi. “Jangan-jangan Bintang …”

Bulan bergegas keluar, berusaha membelah kerumunan yang menonton perkelahian tersebut. Betapa terkejutnya ia saat melihat Bintang dan Rian sedang adu jotos.

“BINTANG BERHENTI!” teriak Bulan, tepat saat pemuda jangkung itu hendak memukul wajah Rian.

“Kamu apa-apaan sih?! Apa maksudmu memukul Rian kayak gini? Aku udah pernah bilang, tolong hargai pacarku. Aku tahu kata-kataku kemarin kasar, tapi bukan berarti kamu berhak melampiaskannya ke pacarku—“

“Bulan, aku bisa jelasin—“

“PACAR KAMU BILANG?” seorang perempuan menarik tangan Bulan kasar. “Kamu nggak usah ngaku-ngaku deh, Rian itu pacarku!”

“Pacar?” sahut Bulan bingung.

“Iya, dia pacarku—oh, aku tahu. Kamu pasti Bulan, ‘kan? Rian bilang kamu selalu berusaha menggoda dia, dasar perempuan nggak punya harga diri!”

Bintang mendelik kaget saat melihat Bulan menampar pipi gadis itu.

“Kamu—“

“Apa? Kamu mau aku tampar lagi?” Bulan menatap Rian dan perempuan itu jengah. “Kalian menjijikkan. Kita putus!” ujar Bulan seraya melempar gelang pemberian Rian yang selama ini melingkar di pergelangan tangan kirinya, lalu menarik Bintang pergi.

Sudah hampir setengah jam Bintang berdiri di luar mobil sambil menikmati ice americano-nya yang sudah tidak dingin. Sesekali ia melirik ke arah Bulan yang menangis di dalam mobil. Ia gemas sekali, untuk apa sih Bulan menangisi si otak sampah itu? Cih, menyebalkan!

Baca Juga  Cerpen: Patah

Bintang mengetuk kaca mobil, membuat Bulan menengok ke arahnya dan membuka kaca tersebut.

“Apa?”

“Berhenti nangis dong, percuma bibirku sampai luka begini kalau kamu malah menangis kayak gini.”

“Siapa bilang aku menangisi si jelek itu?”

“Lalu?”

“Aku menangis karena aku begitu naif sampai bisa dibodohi olehnya, padahal kamu juga sudah memperingatkanku kalau Rian bukan lelaki yang baik.”

“Ya mau bagaimana lagi, kamu ‘kan sedang dimabuk cinta. Saat kita mencintai seseorang biasanya kita selalu menganggap mereka malaikat, jadi kamu nggak sepenuhnya bodoh, kamu hanya dikendalikan oleh hormon remaja.”

Bulan berdecak kesal. “Kamu niat menghiburku nggak sih?”

“Siapa bilang aku berniat menghiburmu? Aku mau mengingatkan kalau hari udah mulai sore dan perutku butuh asupan nutrisi. Kamu lupa setengah hari ini kita berputar-putar karena kamu nggak mau pulang dalam keadaan menangis seperti ini?”

“Ya udah, ayo pulang. Aku juga lapar, lagipula ada banyak foto yang harus aku hapus.”

Bintang tersenyum, bergegas masuk ke dalam mobil. “Jadi, Tuan Putri mau pulang ke rumah?”

Bulan mengangguk. “Iya, aku mau bakar barang-barang nggak penting.”

Bintang mengacungkan kedua jempolnya. “Siap, Tuan Putri.”

“Bintang … maaf ya karena aku nggak mendengarkan kamu, dan maaf juga untuk sikap kasarku selama ini. Aku bukannya nggak menerima kamu, hanya saja kamu tahu ‘kan, nggak mudah punya saudara tiri di usia remaja seperti ini. Hormon remaja, benar, ‘kan?”

“Aku juga minta maaf karena selama ini nggak bisa mengungkapkan betapa bahagianya aku punya saudari tiri.”

“Kamu bahagia punya saudari kayak aku?” tanya Bulan kaget.

“Kenapa enggak?” balas Bintang. “Kamu memang galak sih, tapi justru kesenangannya di situ karena aku jadi punya teman untuk diajak bertengkar tentang hal nggak penting kayak yoghurt, misalnya?”

Bulan dan Bintang saling pandang beberapa saat sampai akhirnya tertawa bersama.

“Karena kita sudah jadi saudara, janji ya, kita harus selalu ada untuk satu sama lain apapun yang terjadi.” Bulan mengulurkan jari kelingkingnya, Bintang mengangguk dan mengaitkan jari kelingkingnya dengan Bulan.

“Sekali saudara, akan tetap jadi saudara untuk selamanya,” ujar Bintang.

“Oh iya, aku mau tanya deh,” kata Bulan. “Bibir kamu yang berdarah itu karena apa? Nggak usah alasan nabrak pintu segala, kamu piket aja nggak pernah.”

Bintang tertawa pelan mengingat alasan yang dia berikan saat diinterogasi sang ibu beberapa hari lalu. Ia mengakui alasannya sangat konyol, padahal jelas-jelas Bulan sekelas dengannya. “Aku tahu kalau Rian punya pacar lain, nggak sengaja lihat waktu cari komik. Kami berkelahi dan begitulah, makanya wajah Rian juga agak lebam, kan?”

Bulan mengangguk paham. “Pukulanmu lumayan juga, bengkaknya baru hilang setelah 2 hari.”

“Berarti ada fungsinya aku ikut Muay Thai.”

“Mungkin aku seharusnya ikut belajar Muay Thai, siapa tahu aku dipertemukan dengan laki-laki seperti dia lagi, iya kan?”

“Nggak usah aneh-aneh, lagian kamu sekarang punya aku, jadi siapa pun laki-laki yang mau jadi pacarmu harus lewat seleksi dari aku.”

Bulan mendecih pelan. “Baru akur udah ngelunjak.”

Air mata menetes dari mata Bulan. Sudah sepuluh tahun sejak janji itu dibuat dan tidak pernah sekalipun Bintang melanggar janjinya. Bahkan ketika sang ayah dipanggil Yang Maha Kuasa tiga tahun yang lalu, selain Mama Alya, Bintanglah yang menjadi bahu tempatnya menangis, pegangan ketika ia merasa goyah bahkan badut baginya saat tidak ada hal yang bisa membuatnya tertawa. Dan Sabtu nanti, Bintang yang akan menemaninya berjalan di altar sesuai keinginan terakhir sang ayah sebelum meninggal.

“Lho? Bul? Udah pulang?” tanya Bintang sambil mengusap matanya. “Belanjanya udah beres?”

Bulan mengangguk.

“Lho, kamu menangis? Ada apa?” tanya Bintang panik.

Bukannya menjawab, Bulan justru langsung memeluk saudaranya itu. Tangisnya pecah saat Bintang mengusap lembut belakang kepalanya. “Kenapa, Bul?”

“Aku tahu aku suka bikin kamu kesal, aku selalu bikin kamu susah, aku tahu aku bukan saudara yang baik untuk kamu tapi aku sayang banget sama kamu. Bintang, terima kasih karena kamu selalu ada untuk aku, terima kasih untuk nggak melanggar janji yang kita buat dulu.”

“Ya ampun, si bocah udah mau menikah masih cengeng aja,” goda Bintang.

“Bintang, ih!”

“Iya, aku juga sayang banget sama kamu biarpun kamu galak, suka ngeyel pula, tapi aku selalu bersyukur diberi saudara seperti kamu. Bul, ingat ya, walaupun kamu sudah menikah nanti, aku tetap disini untuk kamu. Kapanpun kamu butuh, aku siap 24 jam buat kamu.”

Bulan mengeratkan pelukannya. Hari ini Bulan kembali disadarkan bahwa saudara atau pun keluarga bukan semata-mata tentang hubungan darah, karena keluarga yang sesungguhnya adalah mereka yang bersenang-senang dengan kita saat matahari bersinar cerah dan menjadi payung peneduh saat hujan turun begitu derasnya.

TAMAT

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Comment