by

Buka Bersama Bapak

Buka Bersama Bapak

Oleh:

Satria Rangga A

Ramadan identik dengan kesuka citaan, karena ritual bagi umat Muslim untuk menyambut Hari kemenangan Hari Raya Idul Fitri, Hari besar bagi Umat Muslim Seantero Dunia.

Begitupun denganku, Aku sangat antusias dengan Bulan suci ramadhan, Tetapi ada sedikit kesedihan dalam diriku, karena sudah 13 kali Ramadan aku tidak merayakannya dengan sesosok Pria yang disebut dengan “Bapak” bahkan Akupun tak ingat siapa Bapakku.

Ibu dan Bapak, Mereka berpisah tanpaku tahu apa alasannya.

“Bapakmu jahat, nak” Hanya itu jawaban dari ibu, Setiapku lontarkan pertanyaan kepadanya.

Namaku Ranti, Saat ini umurku menginjak angka 18 Tahun, Aku Tinggal dengan Ibu serta Nenekku, Tak Hanya Aku Ibuku harus mengurus nenek yang sedang mengidap Stroke dan juga Demensia Alzheimer. Demensia Alzheimer adalah dimana kondisi gejala yang mencakup kehilangan memori/ingatan, perubahan suasana hati, masalah dengan komunikasi dan penalaran.

“Ranti” Ibuku memanggilku dengan nada lembut khas Jawanya.

“iya, Bu” jawabku, dan bergegas Menemui ibuku di dapur Tempat yang sangat disukai Ibuku,

“Ibu Mau ke pasar, mau belanja bahan masakan buat kita sahur nanti malam, tolong Jagain nenek bentar ya,nak” Perintah Ibuku terhadapku

“Siap bu, Nanti Pulang Aku Titip Mie Ayam Depan ya, Bu” Jawab Serta Pintaku terhadap Ibu.

“Itu Saja,Nak? Ada Lagi engga? Besok sudah mulai puasa loh, nikmatin dulu hari ini” Jawab ibuku sembari mengeluarkan senyuman kecil dari Bibirnya.

Aku dan Ibuku memang sangat dekat, apalagi setelah Ibu berpisah dengan Bapak perhatianya sangat tertuju kepadaku, Kasih sayang serta kedekatan kami yang terkadang membuatku tak memikirkan sosok Bapak. Walaupun terkadang hatiku bertanya “Dimana dan Kenapa bapakku”  Pertanyaan itu hanya bisaku simpan di hatiku, Agar tidak melukai perasaan ibu.

“Ibu berangkat dulu ya nak” Pamit ibuku, sembari kuantar ke depan Pintu sekalian menutup pintunya kembali.

Akupun Bergegas ke kamar nenek, untuk memastikan keadaannya kulihat Nenek sedang duduk terpaku diranjangnya sembari merapihkan rambutnya, yang penuh warna putih dengan sisir kesayangannya, aku menghampirinya dan duduk di sebelahnya sembari memijat kakinya.

Aku mengajak Nenek berbicara selayaknya manusia pada umumnya, beberapa Pertanyaan kuajukan Kepadanya.

“Nenek tau engga, kenapa Bapak pergi?”

“Bapak dimana ya, Nek?”

“Bapak masih hidup kan, Nek?”

Tak ada satu katapun yang terlontar dari bibir Nenek untuk menjawab pertanyaanku tersebut, Nenek hanya terdiam sembari Membisu hanya fokus dengan rambutnya yang lusuh itu.

Aku keluar dari kamar nenek, menuju ruang TV dengan Mata yang meneteskan air kesedihan. Aku menyalakan Tv untuk menghibur diriku yang sedang gundah.

Beberapa saat kemudian aku mendengar suara ibu dengan diiringi suara ketukan pintu.

“Assalamuallaikum” panggilnya,

“Waalaikumsallam, Iya bu” Jawabku.

Baca Juga  Belum Tentu Ada Pelangi Setelah Hujan

Akupun bergegas membuka dan juga menyambut kepulangan ibuku.

“Ini nak titipan kamu, sekalian ibu beliin Es Campur” Bunyi dari mulut ibuku.

“Terima Kasih, Ibu” jawabku

Tidak terasa mataharipun mulai terbenam yang diikuti dengan kemunculan bulan dan bintang-bintang. Akupun bergegas ke ruang petak kecil untuk membersihkan tubuhkudan bersiap untuk menunaikan sholat Maghrib.

Setelah menjalankan sholat Maghrib, Aku langsung menuju tempat paling nyaman, tempat untuk beristirahat dan juga tempat untuk merenungkan masa depan, yaitu kamar tidur.

Selayaknya remaja pada umumnya akupun memainkan Smartphone dan membuka berbagai aplikasi kesukaanku seperti, Instagram,Facebook, whatsapp dan Lainnya.

Tak selang lama, Suara khas ibu memanggilku,

“Ranti, Makan Malam dulu,Nak” Ajak ibukku

“iya buu” jawabku

Aku langsung menuju meja bundar yang berisikan bermacam makanan, dengan disambut senyuman manis oleh perempuan yang kusayangi.

Akupun diperintahkan Ibu untuk mengajak Nenek bergabung untuk menikmati hidangan yang sudah disediakan oleh ibuku. Kamipun berkumpul dimeja makan dengan melemparkan bermacam pertanyaan satu sama lain. Ada satu Pertanyaan yang inginku lontarkan tapi tak Terucap dari bibirku yaitu “Bapak”.

Setelah makan, Aku membantu ibu membereskan bekas makan kami tadi sesudah itu akupun kembali kekamarku untuk beristirahat, tak lama kemudian akupun tidur untuk menyambut Sahur pertamaku di tahun ini.

Aku terbangun mendengar suara ketukan pintu Kamarku dengan diringi panggilan lembut ibuku.

“Ranti, Bangun sahur” Suruh ibukku.

“iya bu, sebentar ngumpulin nyawa dulu” jawabku

Tidak menunggu beberapa lama akupun keluar kamar untuk menyantap sahur yang sudah disediakan Ibu. Setelah itu akupun bergegas kembali ke kamar sembari menunggu Adzan subuh yang dibunyikan oleh Masjid dekat rumahku, Kemudian aku mendengar suara panggilan sholat, akupun langsung bergegas menuju mushola yang ada di rumahku.

Sesudah itu aku membaca buku sembari menunggu waktu untuk pergi bersekolah, Aku bersekolah di SMA 03 salah satu sekolah terbaik di kotaku. Waktu sudah menujukan pukul 06.00 akupun bergegas bersiap untuk menjalankan rutinitasku, sesudah bersiap aku berpamitan kepada ibu.

“Buk, Aku Berangkat dulu ya, Assalamuallaikum.”

“Waalaikumsallam, iya, Nak. Hati-Hati di jalan” jawab ibuku

Sesampainya di Sekolah Aku menemui Teman-temanku kami bercengkrama sembari menunggu Bel Masuk Berbunyi, setelah itu kami belajar seperti biasanya dengan diiringi oleh guru kesukaanku. Tak terasa Bel menandakan waktu belajar usaipun berbunyi.

Akupun langsung bergegas pulang ke rumah, dari kejauhan di depan rumah aku melihat ibuku sedang bertengkar dengan Pria yang tak asing dengan ingatanku, dengan tetesan Air mata di pipi ibuku aku berlari menghampiri serta berteriak kepada Pria tersebut.

“Kamu Apakah ibuku” triakku dengan nada yang sangat keras.

“ Udah Ranti, Ibu tidak apa-apa, kamu masuk aja” jawab dan suruh ibuku.

Baca Juga  Cerpen: Hilang, Namun Dia Ada!

“Ini Ranti” Saut Pria itu

“Ibu Bilang masuk, Ya masuk Ranti!!!” Triak ibu ku kepada ku, mungkin itu teriakan pertama yang kudengar dari bibir Ibuku.

Akupun mengiyakan suruhan ibuku, karena kaget dengan teriakannya. Akupun langsung menuju kamarku dengan didampingi beribu pertanyaan di kepalaku

“Siapa Pria itu?”

“kenapa dia bertengkar dengan ibu”

“Apakah Mungkin Dia Bapak?, Wajahnya Tidak Asing bagiku”

Aku sangat tidak tenang dan penasaran ingin mengetahui siapa Pria tersebut, Aku pun berniat menemuinya untuk memecahkan rasa penasaran tersebut. Akupun keluar dan Pria tersebut sudah pergi entah kemana, Aku hanya melihat ibu duduk di teras rumah yang sedang merenung meneteskan air mata.

“Siapa Pria itu bu?” tanyaku kepada ibu.

“teman ibu, sudah Ibu sedang tidak ingin diganggu” Jawabnya dan langsung meninggalkan ku.

“Dia Bapak kan bu!!” Teriak ku sembari menangis.

“Cukup Ranti!!!, Dia bukan Bapak kamu!!!” jawabnya yang diiringi bantingan keras pintu kamarnya.

Akupun Mencari Pria tersebut, karena meyakini kalau dia adalah Bapakku. Sudut demi sudut kota kulalui untuk menemukannya tapi nihil hasilnya, haripun mulai gelap aku menyudahkan Mencarinya. Akupun bergegas pulang tanpa mendapatkan Hasil.

“Dari mana saja kamu,Nak” sambut Ibu.

“Dari Main sama teman bu, ya udah aku mandi dulu bu” jawabku dengan kebohongan serta senyum palsuku.

“iya, jangan lama-lama udah mau Buka Puasa, Nanti ga keburu” Ucap ibuku

Adzanpun perkumandang, aku dan ibuku menekimati hidangan yang telah disiapkan tetapi tidak dengan Nenek karena Dia tidak berpuasa, karena diharuskan mengkonsumsi obat setiap harinya.

“ibu minta maaf tentang kejadian tadi ya, Nak” Ucap ibuku, dengan Memegang Handphone ditangannya.

“iya buk, Ranti juga minta maaf karena kasar kepada ibu” jawabku

“kamu percayakan sama ibu? Dengan apa yang ibu omongin tadi siang” Ujarnya.

“iya bu ranti percaya” ucapku dengan Kebohongan.

Aku mulai curiga dengan ibuku, karena beberapa hari ini, selalu fokus dengan HandPhone nya bahkan sedang melakukan kegiatan lain seperti, nyapu, masak dan lainya selalu menggunakan HandPhone.

Dengan misteri yang ingin kupecahkan Akupun mencuri HandPhone ibu, saat dia sedang sholat, Aku bergegas menuju kamarnya dan mengambil HandPhone tersebut dan langsung pergi ke kamarku dan mengunci pintu kamarku.

Aku membuka aplikasi watsapp yang ada di HandPhonenya, Aku pun membaca pesan Ibuku dengan Kontak yang bernama “Mas Doni”.

Mas doni         : “Aku takut, aku sudah Tidak tahan”

Ibu                   : “maaf ini siapa ya?”

Mas Doni        :” Doni, Aku sudah Tidak sanggup menyimpan rahasia, Aku tidak Tenang”

Ibu                   :”Mas Doni? Mas Harus tenang, Jalani saja hidup seperti biasa”

Mas Doni        :” Bagaimana bisa tenang, Aku merasa bersalah dengan Ranti,  Kita Membunuh Bapaknya!!”

Baca Juga  Cerpen: Melan

Membaca pesan tersebut aku kaget dan meneteskan air mata.

Ibu                   : “Itu sudah terjadi, toh orang juga tidak ada yang tau, kan? Ya udah tenang saja”

Mas Doni        :” Aku besok mau mengaku dan menyerahkan diri ke kantor polisi, aku mau hidup tenang walaupun harus dipenjara”

Ibu                   : “Jangan bercanda Mas, besok kamu ke rumah dan kita obrolin lagi”

Setelah membaca pesan mereka akupun melihat foto profil “Mas Doni” Ternyata dia adalah Pria yang bertengkar dengan ibuku tadi siang.

Akupun mulai menggali ingatan masa kecilku untuk Mengingat dan Mengetahui Pria yang Nampak Tak Asing tersebut, setelahku tenggelami dia adalah Pria yang selalu datang ke rumah saat Bapakku sedang berkerja, tak lain dia adalah Simpanan ibuku dan bukan hanya itu yang aku dapatkan dari ingatanku, Nenek bukanlah Orang tua dari ibuku melainkan Orang tua dari Bapakku.

Akupun langsung bergegas menuju Ke kantor Polisi untuk melaporkan ibuku terhadap perbuatanya, sesampainya di sana kutunjukan Bukti tersebut kepada Polisi, Dan mereka langsung menindak lanjuti, setelah itu Akupun diantar pulang oleh pihak kepolisian dan langsung menangkap ibuku.

“Ada Apa ini, Kenapa kalian menangkap Aku”

“Nak, Ada Apa nak? Tolong ibu nak” teriak ibu sembari berontak berharap dilepaskan dari borgol besi yang ada ditangannya

“Maafkan Ranti ibu, Tapi Ibu sangat jahat” ujarku sembari menatap wajah ibuku yang dibawa oleh polisi menuju mobil.

Akupun berlari menuju kamar Nenek dan Langsung memeluknya, dan menceritakan kejadian yang terjadi Dia hanya dapat meneteskan air mata, tanpa dapat berucap sepatah katapun. Nenek sakit karena selalu memikirkan keberadaan anaknya yang tidak dia ketahui, sehingga syaraf di otaknya Rusak.

Akupun dapat kabar Dari pihak kepolisian, Bahwa rekan Ibuku tak lain adalah Pria tersebut ditemukan Tewas, bukan cuma itu Polisi juga memberi kabar bahwa yang membunuh Pria tersebut adalah orang suruhan Ibuku.

Ibu juga mengakui, Menyembunyikan Jasad Bapak dengan menguburnya di kebun belakang Rumah.

Aku sedih dan juga lega setelah mengetahui “Ada Apa dengan Bapak” Misteri dan rasa penasaranku selama ini sudah terungkap dengan ibu kusendiri sebagai dalangnya.

Inilah Ramadan ku, yang awalnya penuh dengan tanda tanya dan juga Keinginan “Buka Bersama Bapak”, yang kudapatkan hanya jawaban dari tanda Tanya tersebut, tapi tidak dengan “Buka Bersama Bapak”. Tetapi ini adalah Ramadan yang paling berkesan bagiku, Aku sudah berhasil memecahkan misteri dalam hidupku, yaitu Ibuku membunuh Bapakku.

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment