by

Becik Ingin Jadi Handphone

Kau berharap menjadi benda pipih itu, yang selalu bersama dengan papa dan mamamu ke mana pun mereka pergi. Kau ingin menjadi benda pipih itu, agar kau bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama kedua orang tuamu. Tiap malam, kau selalu berdoa supaya kau menjadi benda pipih itu, agar seluruh perhatian dan cinta kasih mereka hanya tercurah padamu. Dan suatu hari, harapanmu pun terkabul.

Pagi itu kau bangun dengan kondisi tubuh yang kelelahan berat, seperti habis kena gebuk orang sekampung. Kau miringkan kepalamu ke kanan dan kiri, tapi hanya rasa berat yang menghampiri. Kau coba gerakkan kedua tanganmu untuk meregangkan otot-otot yang kaku, tapi kau tak mampu.

“Aaah, ke mana tangan dan kakiku?” jeritmu histeris saat mendapati anggota badanmu tak lagi utuh.

Tak ada yang mendengar jeritanmu meski gendang di hatimu sudah bertalu-talu. Papa dan Mama pasti sudah sibuk dengan pekerjaannya. Apa mereka peduli?

Kau celingukan dan menemukan dirimu di atas nakas, padahal semalam kau yakin sekali kalau kau tidur di atas matras. Kau bertanya-tanya bagaimana bisa kau berpindah posisi. Yang lebih mengherankan, tubuhmu terasa kaku sekali.

Tak berapa lama, Mama masuk kamar dengan setelan blazer rapi. Siap berangkat kerja. Jilbab tosca menghias mahkota indahnya. Tangan kanan Mama menenteng tas tangan hitam. Setumpuk map berada di tangan kirinya. Dia tergesa menengok ke atas nakas dan memasukkanmu ke dalam tas.

“Hei, kenapa Mama bisa menggenggamku?” teriakmu lagi. Namun, Mama seolah tak melihatmu di sana. Apa Mama pura-pura tak tahu?
Biasanya Mama akan menengokmu di kamar sejenak sebelum berangkat kerja. Mengecup keningmu dan berpesan agar kau menghabiskan sarapanmu.

Di lain waktu, Mama berkata agar kau jadi anak baik di sekolah. Kemudian, kau akan memutar bola matamu mengatakan dalam hati kalau kau selalu jadi anak baik.

Baca Juga  Cerpen: Heal Me to be Myself

Apa itu yang membuat Papa dan Mama tak pernah benar-benar memperhatikanmu? Menganggap semua baik-baik saja karena kau selalu menuruti kata-kata mereka. Jadi Papa dan Mama lebih asyik dengan handphone-nya. Haruskah kau membuat ulah agar diperhatikan?

Kemarin, kau menunjukkan gambar yang kau buat. Keluarga yang terdiri dari tiga orang, Papa, Mama dan kau. Di gambar itu, mereka tengah bercengkerama hangat. Sesuatu yang selalu kau impikan.

Saat kau tunjukkan gambar buatanmu itu pada Papa dan Mama, mereka berdalih masih sibuk. Ah, mereka selalu tampak sibuk, terlebih dengan handphone-nya. Bahkan, di akhir pekan sekalipun. Katanya, semua itu demi kau. Agar Papa dan Mama bisa membelikanmu mainan baru, baju bagus atau makanan enak.

Kau menggeleng lemah. Butiran bening menitik dari sudut netramu. Kau berteriak dalam hati kalau kau tidak butuh semua itu. Kau hanya ingin bermain bersama Papa dan Mama. Menghabiskan lebih banyak waktu bersama mereka. Hanya itu! Dadamu naik turun menahan kesal.

Kau berlari menuju kamar dan menenggelamkan kepalamu di bantal. Kau iri pada teman-temanmu yang selalu diantar jemput mama mereka ke sekolah. Kau juga ingin Mama bisa menemanimu bermain di taman. Jadi kau berdoa agar kau berubah menjadi benda pipih itu, supaya kau bisa selalu bersama Mama.

Lamunanmu buyar saat kau merasakan tubuhmu jatuh di dasar tas. Saat Mama menutup resleting tas, pekat menyergapmu. Tidak apa-apa. Kau sudah terbiasa tidur sendiri dalam gelap. Kau bahkan tak berteriak saat listrik padam dan kau di rumah sendirian.

Kini, kau hanya bisa pasrah dan meringkuk di dalam ruangan sempit itu. Tubuhmu berguncang saat Mama menuruni tangga menuju halaman. Melemparkanmu ke jok mobil di sebelahnya dan mulai menyetir.

Di tengah perjalanan, sebuah dering suara ponsel membuatmu terlonjak. Bunyinya begitu dekat. Mama meraih tubuhmu dan menggulir layar untuk menerima telepon. Kau perhatikan dirimu di kaca spion. Kau sudah berubah menjadi handphone, seperti doa-doamu selama ini. Yes, kau melonjak kegirangan! Kini, kau bisa selalu bersama Mama ke mana pun dia pergi.

Baca Juga  Dua Arah

Kau dengar Mama tengah berbicara dengan seorang laki-laki di seberang sana. Membahas beberapa kata yang tak kau mengerti: bisnis, klien, rapat. Lima menit berlalu dan Mama meletakkanmu kembali ke dalam tas.

Bunyi ban depan mobil yang berdecit membuatmu menduga bahwa kalian sudah sampai di kantor Mama. Mama menyambar tali tas dan menggendong map-mapnya, membuka pintu mobil dan melenggang masuk. Sapaan tertangkap indera pendengaranmu saat Mama berpapasan dengan beberapa rekan kerjanya.

Setelah membuka pintu ruangan kerjanya, Mama meletakkanmu di atas meja. Dia terlihat sibuk dengan berkas-berkas dan laptopnya. Sejurus kemudian, Mama memencet nomor-nomor di tubuhmu, menimbulkan sensasi geli di tubuhmu. Mama sibuk menelepon beberapa orang, membuat tubuhmu berubah sedikit panas, lantas membuat janji bertemu dan membicarakan beberapa hal penting.

Jarum jam seolah bergerak lamban untukmu, kau menguap karena bosan. Mama dan sekelompok orang itu masih terlibat pembicaraan yang alot. Hingga akhirnya Mama menyandarkan punggungnya ke kursi. Dia mengembuskan napas lega meski kelelahan menghiasi wajahnya. Pakaiannya mulai agak kusut dan berkurang wanginya.

Kau merasa tubuhmu semakin lemas, hingga Mama harus menancapkan kabel dan mengisi dayamu ke stop kontak sekembalinya dia ke kantor. Mama kembali tenggelam dalam pekerjaannya. Dia bahkan melewatkan makan siangnya. Saat matahari sudah sempurna tenggelam, Mama baru tiba di rumah. Membersihkan diri dan duduk di kursi ruang makan. Mereka berdua begitu sibuk hingga baru menyadari ketidakhadiranmu.

“Becik mana?” tanya Mama begitu dia menyiapkan piring untukmu.

“Bukannya masih di kamar?” Papa malah balik bertanya.
Mama mengendikkan bahu lalu memanggil-manggil namamu.

“Mama, aku di sini,” sahutmu dari atas meja ruang tamu. Namun, bagi Papa dan Mama, tak ada jawaban darimu.

Baca Juga  UNTUK DIA

“Coba panggil di kamar, Ma. Barangkali dia ketiduran.” Mama berlalu menuju kamarmu. Kosong.

“Nggak ada, Pa.” Mama mencari ke setiap ruangan di dalam rumah. Wajahnya berubah panik. “Duh, Becik ke mana, ya?”

“Emangnya tadi udah pulang sekolah, ‘kan?” Papa mengekor.

“Nggak tahu. Aku baru pulang. Papa emang nggak ketemu Becik tadi?”

Papa menggeleng. “Aku belum lihat dia hari ini. Apa dia main ke rumah tetangga? Atau ke rumah temennya?”

“AKU DI SINI, PA, MA!” teriakmu. Namun, tak ada yang memahami bahasa handphone.

Keduanya berpencar, meninggalkan hidangan di atas meja makan yang masih mengepul untuk mencarimu di rumah tetangga. Nihil. Papa dan Mama lantas menghubungi wali kelas dan teman-temanmu. Mereka semua tak ada yang tahu tentang keberadaanmu.

“Trus gimana, Pa?” Mama terduduk lemas setelah semua cara tak membuahkan titik terang. “Apa kita lapor polisi aja?”

“Belum bisa, Ma. Belum 1×24 jam.”

“Trus kita cari ke mana lagi, Pa? Mama khawatir banget sama Becik.” Kening Mama mengernyit. Wajahnya lantas berubah mendung.

“Ini semua salah Mama. Mama terlalu sibuk sendiri sehingga nggak punya waktu buat dia.” Mama menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajah. Air terjun kembar meluncur di kedua pipinya. Mama sesenggukan.

Papa menarik tubuh Mama ke dalam dekapan. “Papa juga nyesel banget karena cuma sibuk kerja dan nggak pernah nggak main Becik.”

“Nanti kalau Becik ketemu, Mama janji akan berhenti kerja. Mama pengen nebus kesalahan Mama dan fokus ngurus Becik di rumah.”

“Mama … Papa ….” Gerimis menyambangimu saat kau mendengar ucapan Mama barusan. Kau sudah tahu betapa lelahnya Mama harus bekerja dan mengurus rumah. Hatimu bisa merasakan kalau Papa dan Mama benar-benar menyayangimu. Kau berharap saat kau bangun esok hari kau sudah berubah menjadi manusia lagi. []

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

3 comments