by

Bayi Merah dalam Gendongan

Bayi Merah dalam Gendongan

Oleh:

Mega Anindyawati

Saiyem tengah menanti perubahan yang terjadi pada benda mungil berbentuk persegi panjang itu. Hatinya kebat-kebit, berharap semoga bukan garis dua yang muncul di sana. Nyatanya, apa yang tampak di test pack tak sesuai angan-angan. Padahal dia tidak pernah telat minum pil KB. Abai pada larangan suaminya untuk tidak ber-KB.

Saiyem memejamkan mata erat. Si bungsu saja baru mulai merangkak dan sekarang akan bertambah satu anak lagi. Belum keenam anaknya yang lain dengan usia berdekatan, hanya terpaut 1-2 tahun saja. Saiyem harus membagi perhatian untuk mengurus semuanya sendiri. Terlebih usianya sudah tidak muda lagi.

Suaminya, Paimo, hanya fokus membanting tulang. Ngojek di pagi hari dan mencari tambahan dengan memijat di malam hari. Penghasilan Paimo yang pas-pasan membuat mereka hanya bisa makan dengan lauk seadanya. Makan tiga kali sehari saja sudah syukur. Ikan asin sudah termasuk lauk mewah.

Saiyem mendesah. Kepalanya spontan nyut-nyutan. Dia harus mencari solusi.


“Ini saat Mas ulang tahun ya, Bu?” tanya Agus, sulung Saiyem, saat mendapati selembar foto dirinya tengah berada di dalam kurungan dengan berbagai macam hiasan.

“Bukan, itu acara mudun lemah, Mas,” jawab Saiyem.

Agus mengernyitkan keningnya. “Mudun lemah itu apa, Bu?”

Ingatan Saiyem kembali pada masa di mana kehadiran anak pertamanya dirayakan dengan begitu bahagia. Mulai dari prosesi mitoni saat hamil, tingkepan sehari setelah Agus lahir, hingga mudun lemah saat usianya 7 bulan.

Paimo dan Saiyem memegangi lengan Agus yang berusia 7 bulan. Di depan sang bayi terpampang jadah, ketan yang dicampur dengan kelapa muda dan garam. Agus yang sudah bisa duduk lantas dibantu melewati tujuh buah nampan kecil berisi jadah berwarna-warni. Setelah itu, Agus dipapah menaiki tangga yang terbuat dari tebu jenis Arjuna.

Lalu, dia dimasukkan ke dalam kurungan yang di dalamnya berisi beraneka benda seperti buku, pulpen, uang, mainan, dll. Konon, benda yang dipilih si bayi menggambarkan profesi anak di masa depan. Hal yang paling ditunggu anak-anak yang hadir adalah berebut uang koin yang dicampur beras dan kunir di akhir prosesi mudun lemah.

“Kok adik-adik nggak pernah mudun lemah, Bu?” Pertanyaan Agus itu membuyarkan nostalgia Saiyem.

Baca Juga  Cerpen : Ditemukan untuk Kehilangan

Saiyem hanya tersenyum menanggapi. Tidak mungkin dia menjawab kalau bapaknya tidak ada uang. Dulu, saat baru punya satu anak, penghasilan Paimo terbilang lumayan kalau hanya untuk makan tiga kepala. Namun, seiring dengan bertambahnya jumlah anak dan adanya persaingan dengan ojek online, pendapatan Paimo terjun bebas.

“Soalnya bapak nggak punya uang, ya, Bu?” tembak Agus tepat sasaran.

Saiyem mengacak rambut si sulung. “Kamu doain aja, yo, supaya rezekinya bapakmu lancar.”


Saiyem memilin jemarinya resah. Di depannya, Paimo tampak santai, berita kehamilan Saiyem bukan masalah baginya.

“Jadi gimana, Pak?”

“Gimana apanya, tho, Bu?”

“Ibu hamil.”

“Lha terus mau gimana lagi?”

“Makanya, tho, Pak, harusnya kita itu KB.”

“Bukannya Ibu udah KB?”

Saiyem pura-pura berdeham. Malu ketahuan KB diam-diam.

“Bapak iki piye, Ibu kan sudah pernah bilang nggak pengen nambah anak lagi.”

“Terus?”

Ndak masalah ngurusnya, Pak. Tapi, kasihan anak kita mau dikasih makan apa nanti.”

“Ya dikasih makan nasi, Bu, masak rumput.” Paimo masih sempat-sempatnya bercanda.

“Bapak ini, lho.” Saiyem berbalik membelakangi suaminya, merajuk.

Paimo hanya tertawa kecil. “Anak itu kan rezeki dari Allah, Bu. Kalau hamil lagi ya dijalani saja. InsyaAllah ada rezekinya sendiri-sendiri.”

“Tapi, Pak. Agus mau masuk SMP aja kita belum ada uang, lho.”

“Bapak akan berusaha cari tambahan lagi. Ibu doain aja, yo, supaya rezeki Bapak lancar.”

Sungguh klise. Jawaban suaminya sama seperti apa yang dikatakannya pada Agus.


Saiyem tengah menimang-nimang serbuk berwarna cokelat tua di dalam kemasan plastik. Serbuk itu pemberian tetangganya saat dia curhat masalah kehamilan yang tidak diinginkan. Berbagai kemungkinan merecoki otaknya.

Bagaimana jika ASI-nya tidak keluar dan harus membeli susu formula untuk bayinya nanti? Terakhir kali melahirkan, ASI-nya hanya keluar sedikit. Si bungsu sering menangis di malam hari karena kelaparan. Bayi kecil itu terpaksa disuapi pisang kerok dan diminumi air gula untuk mengganjal perut.

Baca Juga  Hello, Wendy!

Bagaimana jika Agus tidak bisa sekolah karena uangnya dipakai untuk keperluan adiknya? Apakah ketujuh anaknya nanti bisa hanya untuk lulus SD karena urusan perut yang lebih diutamakan?

“Apa iya aku harus meminumnya?” Serbuk cokelat itu masih di dalam genggaman Saiyem.

“Jangan, itu sama saja kamu membunuh darah dagingmu sendiri!”

“Tidak apa-apa. Toh, usia bayinya masih beberapa minggu.”

“Jangan, tetap saja tidak boleh. Apa kamu tidak takut dosa?”

“Justru kamu lebih berdosa jika tidak bisa memberinya makan dan merawatnya dengan baik.”

“Allah Maha Pemberi Rezeki. DIA yang akan memberi rezeki untuk anak ini.”

Suara-suara hatinya saling bersahutan dan pemenangnya sudah ditentukan.

Saiyem memasukkan serbuk itu ke dalam gelas, menambahkan air dari dalam termos, mengaduk, dan menenggaknya dalam beberapa teguk.


Paimo memandang tajam ke arah Saiyem saat mendengar pengakuannya barusan. Tangan kanan Paimo menghantam dinding rumah bidan hingga membuat darah segar mengucur dari jemarinya. Laki-laki itu merasa gagal mendidik istrinya. Atau mungkin ini juga salahnya yang tak becus mencari nafkah. Hatinya koyak moyak mendapati bayi merah yang tak lengkap kaki dan tangannya sesaat setelah dilahirkan. []

Mega Anindyawati, editor lepas dan freelance content writer. Beberapa tulisannya pernah dimuat di media cetak dan online. Buku-bukunya yang telah terbit yaitu Sabar Menanti Buah Hati (Pro-U Media, 2019), Sepotong Kenangan dan Senja yang Memakannya (Jejak Publisher, 2021), Unconditional Marriage (JWriting Soul Publishing, 2022), Miracles of Love (Harfa Creative, 2022), dan puluhan antologi. Penulis dapat dihubungi via facebook Mega Anindyawati dan IG @mega.anindyawati.

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment