by

Ayah

Ayah

Oleh : Lay

“ Selamat pagi anak-anak. “ sapa Bu Yasmin.

“ Pagi Bu. “ jawab mereka kompak.

Bu Yasmin tersenyum cerah mendengar jawaban kompak dari seluruh muridnya. Dengan cekatan wanita itu meraih kapur di atas meja kemudian mulai menulis sebuah kata pada papan tulis.

“Nah anak-anak, sekarang coba definisikan tentang kata yang Ibu tulis di depan. Nanti Bu Yasmin akan meminta kalian satu persatu maju ke depan untuk menjelaskan tentang apa yang kalian tulis. Paham anak-anak? “

“ Paham Bu. “

“ Oke kalian Ibu beri waktu sepuluh menit untuk mengerjakan. “

Seluruh murid mulai sibuk mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Bu Yasmin. Namun tidak dengan gadis berkuncir dua yang duduk disudut ruangan. Gadis kecil itu hanya diam melihat tulisan yang berada di papan. Ia tak tahu harus menulis apa.

Tak terasa waktu sepuluh menit yang diberikan oleh Bu Yasmin telah habis. Satu persatu teman-temannya mulai maju, menceritakan tentang apa yang mereka ketahui tentang sosok Ayah.

“ Yara, “ panggil Bu Yasmin. “ Sekarang giliran kamu. “

“ Yara, ayo maju Nak. “ panggil Bu Yasmin melihat Yara yang masih duduk tenang di kursinya.

Perlahan gadis itu mulai melangkah maju ke depan kelas.

“ Nah Yara, sekarang coba beri tahu temanmu, menurutmu apa itu yang disebut Ayah. “ pinta Bu Yasmin. Namun gadis itu hanya diam.

“ Nak, “

“ Yara tidak tahu Bu. “ ucap Yara pelan yang langsung disambut gelak tawa oleh teman-temannya.

“ Tidak tahu? “ tanya Bu Yasmin heran.

“ Maaf Bu Guru, tapi Yara benar-benar tidak tahu. Memangnya Ayah itu apa? Apakah sejenis makanan? Apakah rasanya enak? Apakah lebih manis dari gulali? “ tanya gadis kecil itu bertubi-tubi.

Baca Juga  VERSI TERBAIK DARI MASA LALU

“ Nak, apakah kamu benar-benar tidak tahu? “

“ Ya, karena Yara tidak memiliki Ayah. “ jawab Yara dengan senyum manis di wajahnya. Seolah tidak ada beban saat mengatakannya.

“ Yah kasihan banget deh, nggak punya Ayah. “ ejek salah satu teman Yara.

“ Rico diam. “ peringat Bu Yasmin.

“ Nggak papa Bu, Yara kan emang nggak punya Ayah. “

“ Nak, kamu benar-benar tidak tahu siapa Ayah kamu? “

Yara menggelengkan kepalanya cepat.

“ Oh, Yara ingat. Waktu itu ada lelaki seusia Ibu datang ke rumah malam-malam. Kata Ibu, orang itu adalah Ayah. Tapi anehnya, Ibu justru meminta Yara untuk masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu dari dalam sampai Ibu kembali lagi. Setelah itu Ibu langsung buru-buru pergi menemui Ayah. Karena penasaran, Yara mencoba mengintip. Tapi Yara justru melihat Ibu yang menangis karena dibentak dan dipukuli oleh Ayah. Yara nggak tahu kenapa, tapi yang Yara ingat, hari itu adalah hari pertama dan terakhir Ayah datang ke rumah. Setelah hari itu Yara nggak pernah lagi ketemu sama Ayah .“

“ Kamu tidak pernah bertanya pada Ibumu tentang keberadaan Ayahmu? “

“ Pernah Bu, tapi cuma sekali. Waktu itu Yara tanya soal Ayah, tapi muka Ibu langsung berubah sedih. “ Yara menjeda sebentar kalimatnya.

“ Yara nggak mau lihat Ibu sedih lagi, jadi Yara nggak pernah tanya lagi sampai sekarang. Karena bagi Yara, Ayah udah lama meninggal. “

“ Cukup Nak, kamu boleh duduk sekarang. “

“ Tapi Bu Guru, Yara nggak kerjain tugas yang Bu Guru suruh. Jadi Yara harus dihukum. “ bantah Yara cepat. Gadis itu tidak suka dikasihani.

Baca Juga  Cerpen: Terlepas Dari Bayangan

Setelah menyelesaikan ucapannya, gadis itu segera berjalan menuju sudut kelas dengan penuh semangat. Bu Yasmin sampai tersenyum haru saat melihatnya. Ia baru mengingat satu hal. Jika gadis itu sudah bertekad, maka tidak ada seorang pun yang dapat menghentikan keinginannya.

“ Yara akan berdiri disini sampai jam istirahat berbunyi. Ibu boleh lanjutin pembelajarannya. “ ucap Yara semangat, membuat seisi kelas terdiam memandangnya.

Biodata narasi

Namanya Amara Laily. Namun ia lebih menyukai Lay sebagai nama penanya. Baginya menulis bukanlah suatu hobi, melainkan salah satu untuk relaksasikan diri. Jika ingin mengenalnya lebih lanjut, kalian bisa mengunjungi akun instagram @l.yaraaa__

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment