by

Anak-Anak Pak Sularsa

Anak-Anak Pak Sularsa

Oleh:

Ana Amatullah Khoiriyah

Belum genap setengah jam selepas azan asar berkumandang, belum juga tuntas para jemaah merutukkan doa. Rumah yang menetap tepat dibelakang masjid itu ramai dengan teriakan nyalang.

“Nggak mungkin! Bohong ‘kan kamu, Bang! Nggak mungkin!” teriak seorang perempuan paruh baya pada putra sulungnya.

Si Sulung hanya terus berlutut dibawah kaki sang ibu yang terduduk lemas, airmatanya mengalir deras. Disamping sang Ibu, ada si Bungsu yang meringkuk menekuk kakinya. Ia lipat kedua tangannya sebagai tameng penutup wajah, bahunya naik turun tersenggal-senggal. Terlihat kedua tangan si sulung berusaha merangkul keduanya.

Orang-orang lantas sigap mengambil kursi dan segenap perlengkapan untuk rumah duka. Tepat ketika kursi ketiga diletakkan, sang ibu kembali berteriak,

“Pulang kalian! Pulang! Untuk apa kalian kemari? Pergi!” hardik Sang Ibu, lantas melanjutkan erang tangisnya pilu.

Para penata kursi berhenti sejenak kemudian, menundukkan kepala, turut berduka. Segera setelah atensi perempuan paruh baya itu kembali ke pelukan sulungnya, tetap mereka lanjutkan apa yang menjadi tugasnya.

“Sudah dibilang pergi! Nggak ada yang mati disini! Pergi kalian semua!” teriakan pilu itu lantas membuat si sulung bangkit dan lekas memeluk ibunya.

“Bu, istighfar,” ucapnya, sembari mengelus lembut bahu sang ibu, “Istighfar, Bu.”

Kali ini sang ibu hanya menangis tersedu-sedu. Bahunya melemas seperti kehabisan tenaga. Disana kemudian Si Sulung mengantarnya ke dalam rumah. Selepas Sang Ibu lebih tenang berdamping sanak saudara di dalam, ia beralih keluar menuntun adik bungsu perempuannya ke kamar, turut berusaha menenangkannya. Tak ia biarkan satu tetes airmata pun jatuh darinya didepan dua perempuan yang kini menjadi tanggungjawabnya.

“Dik, bantu Mas tenangkan Rima, ya,” ucap si Sulung padaku yang sedari tadi getir mengamati.

Aku mengangguk, lalu mengambil posisi merangkul si Bungsu yang masih tersedu-sedu. Teringat untaian memori saat gadis kecil ini sering menangis padaku, mulai karena jatuh dari sepeda saat pertama berlatih, sampai sakit dari jatuh cinta untuk pertama kali. Aku yang tiga tahun lebih tua darinya selalu berhasil mengobati lewat obat merah hingga petuah. Tapi tidak untuk saat ini. Tidak ada kata yang bisa keluar dariku untuk mengobati lukanya kali ini.

“Mbak, aku belum sempat bilang sayang sama bapak,” rintihnya padaku. Ditenggelamkannya wajahnya itu pada bahuku, dan diatas sini aku hanya turut meringis pilu. Aku mengelus bahunya, tak ingin salah bicara.

Baca Juga  Cerpen: Ketika Harus Bermimpi

“Bapak selalu kasih apapun yang aku mau,” rintihnya lagi, “selalu melakukan hal-hal kecil yang melindungiku, tapi aku–” ucapannya terputus, napasnya mulai tersenggal, jadi aku berinisiatif mengambil minum di meja untuk kusuapkan padanya.

“Bapak selalu antar aku ke sekolah, tapi aku malah malu karena sudah SMA masih diantar jemput. Aku selalu protes, padahal bapak cuma khawatir kalau aku naik motor sendiri nanti kenapa-napa,” ungkapnya masih tersedu-sedu, “sekarang enggak ada lagi bapak yang mengantar jemput,” finalnya, kini ia mulai mengerangkan tangisnya.

Ingatanku beranjak pada memori dua bulan lalu saat gadis ini hendak berulang tahun. Ayahnya, Pak Sularsa, mengajakku ke sebuah toko buku. Ia mana tahu penulis-penulis terkini yang digemari anaknya, jadi ia memintaku memilihkan. Meski memakai jasa bungkus kado milik toko buku itu, ia bersikeras menulis sendiri surat ucapannya, yang kuingat berisi:

Selamat ulang tahun anak kesayangan bapak yang paling cantik.”

Jangankan Rima, hatikku ikut meleleh dengan tulisannya.

“Mbak aku pengen bapak tahu… bapak harus tahu aku sayang dia,” erangnya semakin mendelik di bahuku.

Aku mengelusnya lagi, “bapak pasti tahu, Rima. Bapak pasti tahu,” ucapku ikut tertatih menahan sedih.

Orang-orang mulai ramai berdatangan, tak lagi sekedar tetangga sekitar. Lantunan ayat-ayat Alquran mulai dilantangkan. Dalam kerumunan itu, beberapa teman sekolah Rima datang. Aku menepi untuk memberi mereka waktu bersama.

Sebuah mobil taksi mencuri perhatian warga begitu seorang pria berjas hitam keluar dengan langkahnya yang tertatih. Si Sulung yang melihatnya lantas beranjak dari tempatnya terduduk lalu memeluk pria itu. Ia adalah si anak tengah, Radi namanya, teman sepermainanku masa kecil dulu.

“Bang.. bapak, Bang,” tangisnya dalam pelukan sang kakak, “padahal sudah menelepon ingin ketemu, tapi aku malah–”

Laki-laki tegap berjas yang baru pulang dari luar kota itu bersujud di kaki si Sulung, rintihannya terdengar nyaring memilukan, “harusnya aku sempatkan pulang dulu, Bang. Harusnya aku temui bapak dulu. Maaf… maaf.. padahal kalau bukan karena bapak, mana bisa aku seperti ini. Sekarang sudah jadi begini, sekarang enggak ada kesempatan lagi,”

Tiba-tiba, aku teringat pada momen sekian tahun lalu saat seisi kampung geger karena Radi yang digadang-gadang hendak kuliah S2 di Amerika. Anak cerdas itu memang tiada duanya. Namun selain keberangkatannya untuk kuliah, ramai juga berita tentang sawah setengah hektar milik pak Sularsa yang raib demi dirinya. Tak berlebihan jika ia berkata demikian, karena memang jika bukan karena pak Sularsa, ia mana mungkin sesukses sekarang.

Baca Juga  Cerpen: Kenapa Mereka bercerai?!

Bahunya ditepuk-tepuk oleh si Sulung yang nampak berusaha tegar, ia bangunkan adiknya yang terduduk pilu itu, “sudah, sudah. Kita ikhlaskan bapak, kita doakan, ayo.. ayo, kita salat jenazah dulu.”

Pak Sularsa termasuk orang terpandang yang banyak berperan dalam kegiatan-kegiatan warga, bahkan menjabat sebagai ketua RW dalam masa-masa terakhir hidupnya. Hobinya akan bulu tangkis membuat dirinya memiliki banyak kenalan dari desa-desa seberang, berikut juga posisinya yang aktif dalam kegiatan keagamaan sampai jadi pengurusnya di tingkat kecamatan. Sifatnya yang penyayang, setia kawan dan dermawan, membuatnya disukai sekaligus disegani banyak orang.

Sampai tuhan juga rupanya lebih sayang padanya, karena di usianya yang baru 50-an, ia sudah dipanggil kembali ke sisi-Nya. Meninggalkan kedua putra dan satu putrinya, serta istri kesayangannya.

Salat jenazah dilakukan dalam beberapa sesi saking banyaknya yang ingin mendoakan beliau. Selepas segala runutan terlaksana, tiba saat peti harus ditutup. Momen inilah yang memberi kesempatan bagi keluarga, sanak-saudara serta siapa saja yang ingin melihat wajah pak Sularsa untuk terakhir kalinya.

Sang istri kembali histeris, disusul dengan putrinya si anak bungsu yang ikut tersedu. Orang-orang berbondong untuk menenangkan keduanya. Sebab kedua putra yang sedari tadi berusaha tegar, sudah turut tumbang dalam isakan.

Peti itu diangkat kemudian, menuju pemakaman yang tak begitu jauh dari rumah. Suara tahlil menggema di sepanjang jalan diiring isak tangisan. Sang ibu bersama si bungsu tertatih di belakang, sedang kedua putranya didepan sana memikul jenazah sang Ayah. Jelas setibanya dalam pemakaman itu, semua kembali menangis memilukan.

Tepat ketika seluruh peti sudah terkubur tanah, dan bunga-bunga mawar ditebar diatasnya, sang Ibu jatuh pingsan. Dilarikannya kemudian bersama warga dan si bungsu. Radi si anak tengah turut berlari menghampiri ibunya. Sedang si Sulung nampak ingin bertahan lebih lama di dekat pusara sana.

Pria yang tiga tahun lebih tua dariku itu merintih, menangis, mengerang, pecah sudah. Ia peluk nisan dengan nama ayahnya itu dengan sesenggukan. Nama Tegar sudah tak lagi meneguhkan hatinya. Jelas kuduga ia hanya enggan menunjukkan rapuhnya pada ibu dan adik-adiknya.

Baca Juga  Gift

Kuhampiri ia yang terduduk itu untuk mengelus bahunya. Lagi-lagi takut salah bicara, aku memilih menunggu keluhnya terucap.

“Dik aku belum sempat bahagiakan Bapak,” tangisnya. Aku makin menepuk-nepuk bahunya.

“Kamu ingat pas bapak kemarin bilang pengen radio? Bodoh! Bodoh banget! Aku harusnya enggak usah sok janji dibelikan pas dia sembuh cuma karena Radi yang enggak bisa balik, harusnya langsung kubelikan saja,” senggalnya, “ternyata bapak kali ini enggak sembuh, dia benar-benar pergi.”

Tentu, aku mengingat momen itu. Pak Sularsa tiba-tiba ingin mendengar radio karena radio kunonya berikut juga barang-barang kesayangannya yang lain sudah lama terjual demi menutup hutang si Sulung ini, yang dulu sempat bangkrut kena tipu sampai berhutang sana-sini. Tapi belum sempat dituruti. Tak seperti adiknya yang mentereng kaya raya, ia hanya pedagang kecil. Aset paling berharga yang bisa ia tawarkan untuk ayahnya hanya keberadaan diri. Segala keperluan biasanya ditanggung oleh Radi.

Dalam isakan itu, ia menepuk-nepuk dadanya sendiri, pasti sesak sekali, “aku memang anak yang enggak tahu diri!”

Di titik ini, aku mulai memeluk tubuh kekarnya, “Mas jangan bilang gitu,” rengkuhan ini kubuat lebih erat, “bapak pasti bangga punya anak yang selalu ada seperti kamu, Mas. Kamu yang bahkan menemani bapak sampai saat terakhir, dia pasti mengerti,”

Ia bersandar pada pelukanku seiring dengan tenaganya yang lekas habis untuk menangis, “aku ingin banggakan bapak, Dik.”

“Dia pasti bangga, Mas. Dia pasti mengerti,” ujarku kembali mengelus bahunya. Tangisnya sudah beralih jadi isakan-isakan kecil.

Di pemakaman dalam hangatnya mentari sore ini, aku baru menyadari. Sama persis dengan anak-anak Pak Sularsa yang satu diantaranya sedang ada dalam pelukanku ini, terkadang meski kita sudah punya porsi kita sendiri, entah sebagai anak yang selalu ada atau anak yang selalu memberi, penyesalan akan tetap hadir jika tidak melakukan usaha kita yang terbaik. Karena jika itu orang tua untuk anaknya, mereka pasti mengusahakan yang terbaik.

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment