by

Aku Bukan Anak Durhaka

   Aku Bukan Anaka Durhaka

Oleh:

Mersy Eka Mulyani

“Bisa-bisanya kamu menganggap anak kita tak berguna!”

Sorot mata seorang wanita setengah baya terlihat nyalang. Ia tengah berteriak sekuat tenaganya–walau berakhir melengking–di hadapan sang suami. Lantas tangan keriputnya itu menghancurkan benda-benda di sekitar, melampiaskan amarah kepada benda malang atas saksi perdebatan mereka yang terbilang sering.

“Dia memang tidak berguna! Itu semua gara-gara kamu yang tidak bisa mendidiknya!” Pria itu membuang puntung rokok yang sedari tadi di tangannya lalu menginjaknya sembari membayangkan kalau benda itu adalah istrinya.

Sang istri memalingkan pandangan dan berdecih. “Kamu juga, sebagai Ayah tidak melatih putramu menjadi lelaki hebat. Aku menyesal menikahimu.”

“Aku lebih!” bentak sang suami. Ia dengan tatapan geramnya bergegas menghampiri sang istri dan mencekiknya hingga wanita itu sulit bernapas. “Kita cerai!” finalnya melepaskan cengkraman itu dengan sekali entakkan. Lalu ia mengambil sepuntung rokok baru lagi dan menyalakannya. Menghisap nikotin yang membuat pria itu candu.

“Dari dulu aku memang ingin cerai! Dan sekarang, baguslah!” sentak sang istri. “Aku sudah curiga kau ada wanita lain!”

“Iya! Memang benar! Dibanding wanita lain, kau itu seperti sampah yang tidak bisa didaur ulang!” Sang suami kembali menghampiri istrinya lalu mencekiknya. “Enyahlah kau!”

“Ibu! Ayah!” teriak seorang laki-laki yang baru saja datang dari sekolah. Baru saja melangkah masuk rumah, ia langsung dihadirkan dengan pemandangan yang begitu menyayat hati walau dirinya sering melihatnya. “Kalian sudah dewasa! Tidak bisakah menyelesaikan masalah secara baik-baik saja?”

Lelaki itu menarik pundak sang ayah dengan pelan, melepaskan cengkraman itu karena bibir sang ibu sudah mulai membiru. Ia lalu menepuk-nepukkan pipi sang ibu yang berangsur-angsur merosotkan badannya, hingga membuat lelaki itu berjongkok, menatap wanita itu dengan nanar.

Seketika lelaki itu memejam kala merasakan sakit yang luar biasa mengalir ke seluruh tubuh dengan punggung sebagai pusatnya. Bukan sekali atau dua kali tebasan rotan yang diselingi tendangan ke bawah itu terarah pada punggungnya, tapi berkali-kali dan bertubi-tubi.

“Ibu, bangun,” lirihnya sembari tangannya bersandar di dinding, melindungi ibunya yang tak sadarkan diri.

“Dasar anak durhaka!” Sang ayah menjambak rambut putranya dan sekali entakkan lelaki itu terhuyung hingga pinggangnya menabrak meja makan. Nyerinya sangat terasa.

“Katakan padaku. Di mananya yang durhaka?”

Lelaki itu terlempar hingga kepala belakangnya membentur dinding–beruntung terbuat dari kayu–yang disebabkan oleh tinjuan keras ke atas yang mengenai dagunya. Kini lelaki itu mengelus dagunya sembari menatap wajah sang ayah dengan tajam.

“Berani kamu ya, natap Ayah seperti itu!” Sang ayah lalu menarik kerah dan meninju rahangnya bertubi-tubi hingga dirasa rahang anaknya itu mulai retak. Sang anak yang tertinju itu mengalirkan darah di sela-sela kulit wajahnya yang terkoyak. Ia terkekeh.

“Sekalipun aku tidak ingin mencontoh sifat Ayah.”

Sekali tinjuan, pria itu membiarkan anaknya terhuyung ke samping dan ambruk. Ia dengan wajah merah menggambarkan kemarahannya itu menatap tidak suka putranya. Berani sekali anak itu memainkan kata-katanya? Anak yang menyusahkan. Selalu mempermalukan dirinya akibat tak bisa membayar keperluan sekolah itu di hadapan kepala sekolah. Bukannya tidak bisa membayar, anak itu saja yang tidak mencari uang lebih.

Dengan tangan terkepal, pria itu lalu mengentakkan kakinya dan pergi dari rumah dengan segala kekesalan. Saat sampai di depan rumah, dirinya menjatuhkan puntung rokok dan menginjaknya. Pandangannya menyusuri warga-warga setempat yang hobi menguping dan menggosip.

Malas untuk memedulikan, pria itu langsung menaiki motornya dan meninggalkan istri beserta anaknya itu.

Kini wanita itu tersadar dan menoleh ke sana ke mari melihat keadaan sekitar yang sangat berantakan. Pecahan gelas, kursi yang ambruk, dan langsung melotot kala melihat putranya tergeletak dengan darah yang berceceran di lantai. Dengan segenap tenaga ia mencoba untuk berdiri dan menopang beban badan beserta beban hidupnya yang tak kunjung membaik. Malah semakin hari semakin berat hingga dirasa wanita itu tak sanggup lagi untuk hidup.

Namun melihat putra semata wayangnya itu, pikiran semacam mengakhiri hidup benar-benar ia tepis dan menguburnya dalam. Ia masih ingin melihat putranya sukses, menikah, dan membiarkannya menimang cucu. Menentang semua perkataan suaminya tentang anak didikannya.

Tangannya yang kurus membalikkan badan sang putra dengan pelan, dan betapa ia sangat terenyuh melihat kondisi anaknya. Diusapnya wajah sang putra dengan lembut.

“Maafkan ibu.”


“Kenapa wajahmu luka?”

Laki-laki itu tidak menjawab.

“Ardhan, kenapa bisa luka? Kayaknya parah deh. Aku obati dulu, mau ya?” Gadis itu memegang dagu lelaki di sampingnya dengan perlahan dan mengamati wajah pemuda itu. Seketika Ardhan langsung membuang muka dan berjalan dengan cepat.

“Oke.” Gadis itu memilih mengalah. “Kau sudah makan?” tanyanya dengan nada ceria. Lelaki itu hanya menghela napas.

“Kau-”

Belum sempat Ardhan menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba suara klakson dari sebuah mobil berbunyi dan berhasil membuat mulutnya kembali tertutup rapat.

“Oh, Ayah!” pekik gadis itu berlari ke arah mobil yang terparkir. “Ayah, izinkan aku makan dengannya di restoran, ya?”

Sang ayah menengok laki-laki yang dengan santainya melangkah menjauh itu. Pandangannya lalu tertuju pada sang gadis yang matanya nampak berbinar. Pria itu lantas mengembuskan napas, mengelus surai kepirangan milik putrinya.

“Pulanglah setelah itu,” tutur sang ayah sambil tersenyum. Sang gadis lantas berjingkat senang. Ia pun menciumi pipi ayahnya dan pamit pergi menyusul laki-laki yang sudah cukup jauh itu.

“Dasar anak muda,” kekeh pria itu. Ia pun menancap gas dan meninggalkan sekolah anaknya.

Sementara itu sang gadis terus berlari senang. Ketika si lelaki sudah cukup dekat, gadis itu memelankan langkahnya dan mencolek bahu kanan lelaki itu. Gadis itu pun melompat ke kiri, menghindari tatapan lelaki itu yang mulai keheranan.

“Ardhan!” panggil gadis itu menyengir. Yang merasa dipanggil namanya itu lantas menoleh ke arah sumber suara. Tak bisa dimungkiri, senyuman cerah gadis itu membuatnya menjadi merasa tidak ada beban apapun.

Ardhan pun tersadar dan mengernyit, memasang wajah tanda tanya.

“Makan di restoran yuk!”

Awalnya Ardhan ingin menggeleng, tapi gadis itu langsung menarik tangannya. Ardhan hanya bisa pasrah.

Baca Juga  Kelopak Bunga yang Mekar

Gadis itu kini melambaikan tangannya kala sebuah taksi hendak melintas. Supir taksi yang tanggap pun segera menepikan mobilnya. Lantas kedua orang itu masuk dan mengatakan tujuan.

Selama di perjalanan, gadis itu terus berceloteh panjang lebar hal-hal random. Mulai dari teman-temannya, tugas sekolah, sampai warna piyama saja gadis itu bahas. Ardhan hanya diam dan mengangguk sesekali, tanda bahwa ia menghargai lawan bicara.

Mobil pun berhenti, gadis itu membayar ongkos dan segera keluar dari kendaraan roda empat itu dengan semangat. Ardhan melepas seatbelt-nya dan membuka pintu mobil untuk keluar juga.

Taksi sudah pergi, kini mereka berdua di hadapkan pada restoran cepat saji. Restoran yang sangat disukai oleh masyarakat. Ardhan benar-benar tertegun, pasalnya ia tak punya cukup uang untuk makan di sana. Menu yang terlihat lezat itu tidak disajikan untuk anak miskin sepertinya.

Ardhan sudah hendak melangkah pergi tetapi lagi-lagi gadis itu menarik tangannya dan menyeretnya masuk. Cukup kuat hingga lelaki itu sempat kewalahan.

Gadis cantik, berprestasi, menjabat sebagai ketua kelas yang bijaksana sudah membuat hati Ardhan tertampar dengannya yang jika dibandingkan, bagai sosok putri raja dan bebek dekil. Sangat tidak sinkron.

“Kita nunggu di sana, ya?!” ajak gadis itu sambil jari telunjuknya menunjuk ke sebuah meja bertuliskan dua puluh. Ardhan hanya mengangguk saja menuruti.

Mereka berdua telah duduk secara berhadapan. Tentang jantung Ardhan–entah ia berhak atau tidak–berdetak dengan cukup kencang saat menatap manik mata indah milik gadis di hadapannya.

“Woy!” sentak gadis itu. “Melamun aja nih.”

Ardhan tersenyum dan memilih untuk melihat-lihat tempat itu lalu menatap gadis itu lagi. “Sepertinya lebih baik aku pulang saja.”

“Ett, makanan sudah dipesan. Masa ditinggalin gitu aja?” cegat gadis itu.

Ardhan menghela napasnya. “Kau tahu aku tidak punya cukup uang untuk membayarnya.”

Gadis itu terkekeh. “Siapa bilang kau yang membayar? Ah, tenang saja. Aku yang membayarnya.”

“Maaf, tapi-”

“Nah, sudah datang!” Gadis itu menyatukan tangannya dan menatap barista itu dengan mata berbinar. Ardhan membelalakkan mata kala makanan-makanan itu terhidang. Bau yang menggiurkan memenuhi rongga perutnya, membuatnya berteriak-teriak minta diisi.

“Makan! Mana mungkin aku menghabiskan semua ini.” Gadis itu tersenyum dan menarik piring yang tersaji spageti. Ardhan meneguk air ludahnya. Ia membenarkan posisi duduknya dan tangannya ragu-ragu untuk mengambil satu piring yang lain.

Gadis yang ingin menyuap itu lantas menghentikan tangannya kala ia melihat lelaki di depannya memajumundurkan tangan. Antara hendak mengambil dan tidak.

“Mau aku suapin?”

Lantas Ardhan mengibaskan tangannya, menolak tawaran itu. Ia pun menghela dan memberanikan diri untuk memakan makanan mahal itu baginya.

Selesai makan, gadis itu menghabiskan minumannya hingga tak bersisa. Ia mengernyit, lelaki itu ternyata lebih dahulu selesai makan dan kini ia sedang menatapnya dengan tatapan yang polos.

Gadis itu tersenyum simpul, lalu ia mengambil ponselnya ketika teringat sesuatu. “Menurutmu, bagaimana dengan lomba ini?”

Ardhan mencondongkan badannya dan membaca tulisan yang tertera di layar ponsel itu. Di sana tertulis hadiah-hadiah yang menggiurkan apabila menang dalam lomba cerpen.

“Bagus.”

Gadis itu menarik ponselnya lagi. “Aku ingin ikut, tapi sepertinya Ayahku terlalu berlebihan mentransfer saldo. Bagaimana sisanya untukmu saja?”

Ardhan tertegun. Bagaimana bisa ia terus-menerus menerima segala pemberian dari gadis ini. Lantas ia menggeleng sebagai jawaban bahwa dirinya menolak tawaran itu.

“Oh, ayolah. Siapa tahu kamu menang dan bisa mentraktirku kembali.” Entah mengapa gadis itu kini mengerjapkan matanya beberapa kali, membuat Ardhan tidak bisa untuk tidak menyunggingkan senyuman.

“Diammu sebagai jawaban bahwa kamu menerimanya.” Gadis itu lantas sibuk mengetik sesuatu. Jari-jemarinya sangat lihai menari-nari di atas papan ketik ponselnya itu dengan cepat. “Sudah aku daftarkan. Atas nama Ardhani Faresta.” Senyum gadis itu mengembang, membuat dunia Ardhan teralihkan sebentar.

“Tapi aku tidak punya mesin ketik atau apapun itu,” sanggah Ardhan.

Gadis itu mengerucutkan bibirnya, tampak berpikir. “Ketik saja di laptopku!”

“Hah?”

“Sehabis pulang sekolah, kau ke rumahku dan kita mengetiknya bersama-sama, gimana?” tawar gadis itu sembari menaikturunkan kedua alisnya.

Ardhan terdiam. Ia berpikir bahwa tidak ada salahnya untuk menerima tawaran itu. Apabila menang, ia akan secara tidak langsung menyanggah semua perkataan buruk sang ayah terhadapnya. Membuktikan bahwa ia adalah anak yang berguna.

Namun di sisi lain juga, ia tidak ingin merepotkan gadis yang terlewat baik itu kepadanya. Harus sadar juga ia bukan siapa-siapa gadis itu, dan si gadis bukan siapa-siapanya. Hanya dua orang yang tidak sengaja bertemu di satu tempat bernama sekolah.

“Diammu sebagai jawaban bahwa kamu menerimanya.”


Sudah hari kelima Ardhan terus ke rumah gadis itu. Ia disambut dengan ramah. Keluarga itu sangat baik padanya hingga pernah ia ditawarkan beberapa bantuan untuknya dan keluarganya di rumah. Tentu saja ia menolaknya dengan sopan, mengingat tipikal ayahnya yang pasti akan berontak dan meminta-minta lebih dari itu.

Kini lelaki itu sedang di rumah sang gadis, lebih tepatnya di ruang keluarga yang banyak pajangan barang yang pasti sangatlah mahal. Ardhan melirik sekilas gadis di sampingnya–sangat dekat hingga kedua bahu mereka nyaris bersentuhan–tengah berkonsentrasi dengan laptop di hadapannya sambil sesekali mengangkat minuman yang sudah tersedia dan menenggaknya sedikit demi sedikit.

Gadis yang merasa diperhatikan pun tersadar, ia menoleh dengan melebarkan matanya–membuat Ardhan sedikit terpana–sembari tersenyum manis. “Sudah selesai?”

Ardhan memalingkan wajahnya, ia harus sadar bahwa menatap gadis dari keluarga terpandang itu berlama-lama bukanlah hal yang pantas. Ia menoleh dan mendapati gadis itu tengah tersenyum hangat padanya.

“Tetap jaga kesehatan, ya,” ucap gadis itu sembari menyengir dan menepuk pucuk kepala lelaki di sampingnya. Ardhan tertegun, apa maksud dari perkataan itu? Gadis itu sepertinya tahu apa yang sedang dialami dan dirasakan Ardhan. Mengingat banyak lebam yang semakin menghiasi tubuhnya.

“Supaya nanti kalau kamu menang, kau bisa mentraktirku,” lanjut gadis itu cepat-cepat. Ardhan tersenyum lega dan entah mengapa tangannya naik ke pucuk kepala gadis itu dan mengusaknya pelan. Ia tersenyum pada gadis itu, cukup lama.

Baca Juga  Cerpen: Buku Diary Dinda

Hingga ia tersadar bahwa harus menyelesaikan cerpennya.

“Bagaimana cara mengirimnya? Cerpenku sudah selesai. Huh, ternyata tidak mudah membuat cerpen yang hanya lima lembar ini.” Ardhan menyandarkan tubuhnya ke sofa.

Sang gadis tertawa geli lalu tangannya sedikit menarik laptop agar bisa dijangkau. “Kau itu sangat pintar di dunia menulis, tentu membuat cerpen itu mudah bagimu.” Tangan gadis itu menari-nari, membuat suara khas dari papan ketik.

Ardhan tidak memedulikan pujian itu, ia sibuk memundurkan badannya kala tubuh sang gadis sangat dekat dengannya. Aroma parfum dari sang gadis yang sangat menyejukkan membuatnya lantas merasa tidak menapak di bumi lagi. Aroma yang sangat ia sukai.

“Nah, sudah.” Gadis itu kembali ke posisi semula sembari menyengir lebar ke arah Ardhan setelah menekan tombol kirim, lagi-lagi lelaki itu terpana.

“Terimakasih. Kalau begitu aku ingin pulang.”

“Tunggu, aku panggilkan Ayah untuk mengantarmu,” cegat gadis itu. Ardhan ingin menolak, tapi gadis itu lebih dahulu memanggil ayahnya untuk mengantar pulang karena hari sudah menjelang malam.

“Seharusnya kau tidak perlu repot-repot,” tutur Ardhan pelan. Alisnya bertautan, ia merasa antara khawatir dan sungkan.

Lagi-lagi gadis itu menyengir. “Kau sudah seperti saudaraku. Jadi, aku tidak bisa membiarkanmu pulang sendirian.”

Ah, gadis ini.

“Kau pikir aku perempuan? Aku ini laki-laki, bisa jaga diri.”

“Ayo, Nak Ardhan.”

“Tidak perlu. Sebaiknya Anda beristirahat saja, aku akan pulang sendirian.”

Pria itu dengan pakaian berlengan panjang tersenyum tipis dan menghampiri lelaki yang telah berjasa di keluarganya. Merangkul dan mengajak lelaki itu berjalan ke luar menuju mobilnya.

“Ayah, aku ikut!” teriak gadis itu.

“Sebaiknya kau istirahat saja.”

“Tapi aku mau tau rumah Ardhan!” rengek gadis itu manja.

Pria itu terkekeh dan mengusap surai anaknya. Lalu mengangguk menyetujui. Kemudian ketiganya berjalan santai menuju mobil yang terparkir itu.


“Dadah!” Gadis itu melambai. Ia ingin sekali bertamu, tapi ayahnya dan laki-laki itu menyuruhnya untuk pulang dan segera tidur. Beruntung si gadis menurut dan memilih untuk melambai tanda salam perpisahan.

Ardhan membalasnya dengan senyuman. Menatap mobil yang mulai berjalan menjauh, ia lalu mengarahkan pandangan ke bawah dan berbalik. Melangkah menuju rumahnya.

“Dari mana saja kau? Akhir-akhir ini kau selalu pulang malam. Apa kau ke klub malam? Dan apa-apaan dengan mobil tadi? Kau sudah berani mengencani seorang gadis? Pakai pelet apa kamu sampai gadis itu mau bersamamu? Kau anak-”

“Ayah, maaf. Aku bukan anak yang seperti itu,” geram Ardhan mengepalkan kedua tangannya. Pasalnya kalimat yang terlontar dari mulut ayahnya tentulah tidak benar.

Pria itu mengendikkan kedua bahunya. “Barusan kau menumpangi mobil orang kaya. Pasti kau pulang membawa uang.”

Ardhan menghela napas, mengusap wajahnya. Lalu ia merogoh saku celana, mengambil uang yang ia cari sendiri demi membalas kebaikan keluarga gadis itu. Tapi, apa jadinya bila ia tak memberi sepeser pun pada sang ayah? Mungkin kejadian yang lebih mengerikan dari minggu lalu akan menimpanya.

Pria itu menerimanya dan mengerutkan kedua alis. “Hanya ini? Selama kurang lebih dua minggu, hanya ini yang kau dapatkan?! Kau lelaki atau bukan?!”

Ardhan menghela napas. Tidak berniat melontarkan pembelaan karena hal itu akan sia-sia. Membela atau tidak, tidak ada bedanya.

Sang ayah menarik kerah baju yang anak itu kenakan. Lantas menariknya dengan emosi yang terasa sudah diubun-ubun dan mengempaskannya ke dalam rumah. Pintu itu ditutup, ayahnya dengan kepalan tangan menghampiri dengan geram.

“Gara-gara kau! Gara-gara kau Ayah terlilit hutang!”

Pria itu menginjak-injak putranya bertubi-tubi hingga sang anak merasa kesakitan dan rintihanlah yang mewakili rasa sakitnya.

“Bukankah itu karena wanita yang Ayah pilih? Yang selalu mengharap barang-barang mewah sedangkan Ayah tak mampu membelinya?”

“Diam kau, dasar anak durhaka!”

“Sudah aku bertanya, di mananya aku durhaka?” tanya Ardhan dengan emosi yang tertahan. Ia tak boleh balas memukul, itu akan semakin membuat ayahnya yakin bahwa dirinya memang anak durhaka. Padahal ia tidak seperti itu. Dirinya pun merasakan sakit hati apabila disebut-sebut sebagai anak durhaka berkali-kali, sedangkan Ardhan selalu menuruti apa kata ayahnya.

“Kau tidak menuruti perintah Ayah kalau kau sebaiknya berhenti sekolah saja dan bekerja keras seharian penuh!” tutur pria itu.

Ardhan menatap ayahnya tidak percaya. Bagaimana bisa ayahnya berkata seperti itu? Ketika orangtua teman-temannya berusaha sekuat mungkin demi menyekolahkan anak mereka, lalu mengapa berbanding terbalik dengan ayah kandungnya itu sekarang?

“Kalau Ayah merasa terbebani. Pergilah dari sini, aku akan mencari uang dengan cara yang benar. Tidak seperti Ayah yang selalu mengharapkan kemenangan dari judi,” titah Ardhan.

Pria itu mendecih. “Baiklah, Ayah akan pergi. Tapi mungkin sebaiknya kau saja yang pergi. Pergi dari dunia ini!”

“Andra! Berhenti!” Wanita itu yang sejak awal keributan tercipta hanya bisa menyaksikannya di balik dinding dapur pun memberanikan diri untuk keluar kala mantan suaminya itu mengangkat tinggi-tinggi tongkat kayu yang kerasnya bukan main.

“Aku mohon jangan sakiti dia. Jika kau mengharap uang, ambil saja uang tabunganku.”

“Tidak akan cukup! Serahkan saja sertifikat tanah ini. Yaa, meskipun itu belum sepenuhnya cukup.”

Wanita itu tertegun. Harus tinggal di mana dan harus ke mana ia akan pergi malam-malam begini? Tidakkah pria di hadapannya sangat tidak punya hati menelantarkan keluarga sendiri demi keluarga lain yang haus akan harta? Lantas wanita itu menggeleng dengan kukuh.

“Berani sekali kau menolaknya!”

“Kau saja yang bodoh menikahi wanita yang haus kekayaan!”

“Lalu? Secara tidak langsung kau mengatakan dirimu layak untuk aku pertahankan?! Cih, tidak sudi aku.”

Pria itu mengangkat tinggi-tinggi tongkat yang sedari tadi ia genggam, ingin melayangkan satu pukulan ke wajah wanita itu tetapi ternyata anaknya cepat tanggap dan langsung meraihnya.

“Sudah aku bilang, sebaiknya Ayah pergi saja. Berbahagialah dengan wanita itu, dan biarkan kami hidup tenang di sini,” kata Ardhan pelan.

Baca Juga  TENTANG AKU DAN WAKTU

Pria itu menatap wajah anaknya tidak percaya. “Kau bahkan bisa bertahan dengan satu ginjalmu itu selama ini. Mengapa kau tidak tertarik untuk menjualnya yang lain?”

Ardhan terkesiap. Benar-benar di luar dugaan perkataan ayahnya itu. Baiklah, mungkin tak apa untuk menjual sertifikat rumah ini. Dia akan mencari rumah walau tidak layak untuk ditinggali. Tapi, tidak dengan ginjal satu-satunya. Mengingat akhir-akhir ini di tengah ia bekerja berat dan keras, selalu saja merasakan sakit yang luar biasa dari ginjalnya itu. Mana mungkin ada orang yang ingin membeli ginjal berpenyakitan darinya.

Ardhan lantas menggeleng. “Lebih baik jual ser-”

Seketika Ardhan terpelanting ke samping hingga ia menabrak pintu. Baru saja Ayahnya itu melayangkan satu pukulan tepat di bagian ginjalnya, membuatnya merasakan sakit yang bukan main.

“Haish, benar juga. Anak berpenyakitan sepertimu tak akan laku ginjalnya! Mati saja kau!”

Wanita itu lantas memekik kala pria itu mengangkat tongkat lagi. Tanpa pikir panjang ia langsung berlari–berniat melindungi anaknya–tetapi apa yang terjadi? Tubuh wanita itu terguling hingga menabrak dinding. Darah segar mengucur di bagian kepala. Wanita itu terbaring tak berdaya.

“Ibu!”

Ketika Ardhan beranjak dan ingin menghampiri ibunya, tiba-tiba satu pukulan kencang mengenai kakinya hingga bunyi retakan tulang membuatnya mengerang kesakitan.

“Haish, kalian ini menyusahkan saja!”

Lagi-lagi, pria tidak memiliki hati itu menginjak-injak perut anaknya, membuat sang anak mengerang tertahan.

“Ayah, aku mohon sadarlah,” lirihnya. Di samping ayahnya yang tidak kenal lelah terus menginjaknya itu, ia melirik ibunya yang hanya diam saja. Sungguh, Ardhan ingin sekali keluarganya baik-baik saja seperti dahulu. Hanya ada tawa bahagia dan senyuman hangat. Rumah yang ceria, ia rindu itu.

Kesal dengan ayahnya, ia pun meraih dan mencengkram kaki pria itu dan memutarnya keras hingga sang ayah kesakitan. Sebenarnya ia tidak ingin melakukan itu, tapi sakit di perutnya meminta pembelaan diri untuk tidak terus merasa sakit.

“Ayah pergi saja, aku mohon,” lirihnya lagi dengan terbata-bata. “Kau tidak ingin dicap sebagai seorang pembunuh, ‘kan?”

Pria itu mengembuskan napas dan mengusap wajahnya kasar. “Banyak omong!”

“Dan, jangan anggap aku sebagai anak durhaka tanpa alasan yang jelas, Ayah. Aku akan berhenti sekolah mulai besok, dan pergilah dari sini. Tinggalkan kami jika itu membebanimu.” Sekuat tenaga Ardhan berucap sembari memegangi perutnya.

Pria itu mendecih. Ia menendang sekali lagi perut anaknya itu sebelum melangkah pergi dan membanting pintu dengan keras.

Ardhan menghela napas lega. Tetapi ketika pandangan terarah ke ibunya, mendadak ia panik dan sialnya pandangannya mulai memburam.

Namun, dengan segenap tenaga ia mencoba untuk tetap sadar. Apabila dirinya pingsan di tengah-tengah kondisi ibunya seperti itu, entah kabar apa yang didengar besok.

Menggelengkan kepala, Ardhan mencoba untuk bangkit. Dirinya seketika mengerang kala kakinya tak bisa digerakkan.

“Tolong,” rintihnya. “Tolong! Akh.”

Perutnya serasa bagai ditusuk-tusuk. Ia mencengkramnya dan menggigit bibir bawah, mencoba untuk menahan sakit yang luar biasa. Ardhan kemudian menghampiri ibunya yang masih tidak sadarkan diri itu sembari ngesot. Ingin sekali menggendong ibunya, tetapi dengan hanya satu kaki yang mampu menopang sangat tidak memungkinkan.

Ardhan pun membuka pintu lebar-lebar dengan susah payah. Ia lalu bangkit sembari tangannya mencengkram kuat bingkai pintu. Lalu ia teriak sekuat mungkin hingga seorang yang kebetulan jaga malam pun mendengarnya dan menolongnya.

Terlukislah sebuah senyuman di wajahnya. Lalu badannya yang dirasa sudah mati rasa itu menolak untuk tetap menopang berat badan. Saat itulah lelaki berumur delapan belas tahun itu ambruk dan kesadarannya pun menghilang.


Seorang gadis berjalan sambil di tangannya memegang penghargaan serta hadiah yang akan ia berikan kepada seseorang. Ardhan, lelaki itu berhasil memenangkan lomba cerpen sebagai juara pertama. Sedangkan ia berhasil menempati juara kedua.

Gadis itu dengan senyuman yang ceria seperti biasanya berhenti kala ia mendapati seorang pria yang menatapnya dengan keheranan. Gadis itu pun duduk berhadapan dengan pria itu dan menyodorkan penghargaan.

“Perkenalkan saya Sekar Zhafira, ingin memberikan penghargaan ini kepada Anda, Tuan,” tutur Sekar kalem.

Pria itu masih mengernyit. Tak berniat menyentuh apapun itu yang katanya penghargaan.

“Saya teman Ardhani Faresta. Anak Anda telah memenangkan lomba cerpen sebagai juara pertama, dan saya tidak tahu untuk memberikan penghargaan ini kepada siapa. Jadi, saya datang ke sini untuk memberitahukan bahwa Anda telah menyia-nyiakan anak Anda, Tuan Andra.”

Andra bergeming. Ia langsung mengambil penghargaan beserta amplop berisikan uang itu dan melihat jumlahnya. Sempat terpaku karena merasa tidak percaya.

“Tidak mungkin.” Pria yang sedang memakai pakaian tahanan itu melengkungkan bibir ke bawah, masih tidak percaya.

“Bukankah sudah jelas di lembar sertifikat itu, Tuan Andra. Di sana tertulis nama anak Anda sendiri, Tuan.” Sekar masih dengan wajah cerahnya terus menatap pria di depannya itu.

Pria itu berdecak. “Sudah aku bilang, itu tidak mungkin.”

Sekar menghela napasnya. “Anak Anda mengalami gagal ginjal dan pasti Anda sudah tahu, ‘kan?” Sekar memberikan tatapan menelisik ke arah pria itu. “Sampai akhir hayat pun, apakah Anda masih tidak percaya?”

Pria itu menunduk dan merenung. Ia benar-benar menyesal setengah mati. Wanita itu meninggalkannya begitu saja dan hancurlah hidupnya dengan banyaknya utang di sana sini. Ingin sekali ia meminta maaf kepada anak dan istrinya. Tetapi itu sudah terlambat. Gantinya dirinya harus menerima hukuman seumur hidup di dalam sel tahanan.

“Seharusnya, saya kembalikan saja ginjal ini pada anak Anda.” Sekar tertunduk, memegangi bagian perutnya yang terdapat ginjal sumbangan dari Ardhan.

Andra mengusap wajahnya yang semakin dihiasi keriput itu. Lalu mengambil selembar foto keluarga kecil yang sedang tersenyum bahagia.

Namun sayang, kini senyuman itu tidak mungkin bisa ia lihat lagi di sisa umurnya. Andra pun menyesali pernah berkata bahwa anaknya adalah anak yang durhaka.

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment