oleh

Serial Humor: Perjalanan ke Kampung Baduy (Bagian 1)

Sensasi Naik Angkot ke Perkampungan Baduy, My Trip My Adventure!

Siapa yang belum pernah naik angkot? Sebagian besar mungkin sudah, dan biasanya berkeliling-keliling di dalam kota. penulis termasuk pelanggan setia angkot di Jakarta, apalagi dulu waktu belum ada ojek online.

Bisa dibilang penulis sudah kenyang dengan bermacam-macam kelakuan sopir angkot. Ada yang bawa angkotnya ngebut sambil balapan, ada yang sopirnya keseringan injak rem tiba-tiba, dan ada juga yang nyalip kiri kanan tanpa perhitungan sampai kita merasa lagi ikut tantangan arung jeram.

Dari semua pengalaman itu, tidak ada yang bisa mengalahkan sensasi naik angkot saat melakukan perjalanan ke ke kampung Baduy di Banten, Jawa Barat. Kejadiannya tahun 1987, waktu penulis mau memulai penelitian untuk menyusun skripsi, tentang Hukum Adat di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret, Solo.

Masyarakat Baduy sendiri hidup di Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Mereka mengisolasi diri dari lingkungan sekitarnya dan memegang teguh adat budaya. Agama mereka disebut Sunda Wiwitan, yang merupakan perpaduan dari agama Islam, Hindu, dan kepercayaan animisme. Ciri khas mereka adalah selalu berpakaian hitam-hitam, dengan ikat kepala dan sering berjalan kaki ke mana-mana menjajakan buah-buahan, madu atau hasil kerajinan tangan.

Penulis sudah merencanakan untuk berangkat ke Baduy bersama 4 orang teman. Mereka adalah Inya, Andi, Denny dan Budi. Inya dan Andi adalah sohib penulis sejak SMA. Denny dan Budi adalah teman-teman kuliah Andi yang saat itu baru penulis kenal.

Rencana kami untuk mengunjungi perkampungan suku Badui sudah berkali-kali gagal. Kalau teman-teman penulis sedang ada waktu luang, jadwal kuliah penulis yang padat. Kalau penulis sempat, mereka yang sibuk. Ketika akhirnya kami sama-sama punya waktu untuk berangkat, desa Kanekes tempat tinggal suku Baduy mengalami kebakaran hebat.

Ketika ada beberapa hari libur karena tanggal merah di kalender yang berhimpitan dengan hari Sabtu, akhirnya kami berangkat. Sungguh liburan yang sangat menantang, karena kami semua belum pernah ada yang pergi ke kampung Baduy. Mengingat kunjungan kami adalah untuk penelitian awal dari skripsi penulis, maka penulis harus menyiapkan surat-surat izin yang diperlukan untuk masuk ke kampung Baduy.

Baca Juga  Curahan Hati Yuli

Perjalanan dimulai dari stasiun kereta Tanah Abang menuju stasiun Rangkasbitung. Pada masa itu belum ada kereta commuterline yang nyaman dengan penyejuk udara seperti sekarang. Yang ada hanya kereta diesel tua yang kotor, kumuh dan pengap. Kami berdesakan di dalam kereta bersama dengan para pedagang yang membawa buah, sayuran dan juga ayam-ayam hidup.

Setelah hampir empat jam, kami tiba di stasiun Rangkasbitung dan langsung menaiki angkot ke kantor kecamatan Rangkasbitung yang merupakan ibukota kabupaten Lebak, untuk mengurus surat izin masuk ke Baduy. Sekitar satu jam di sana, perjalanan kami berlanjut ke Kecamatan Leuwidamar, untuk mengurus perizinan selanjutnya.

Sebenarnya, untuk menuju ke desa Ciboleger yang merupakan pintu gerbang untuk memasuki kawasan perkampungan Baduy, kami bisa menaiki angkot dari Rangkasbitung. Perjalanan akan memakan waktu sekitar 3 jam. Karena kami harus mengurus perizinan di kantor kecamatan Leuwidamar, yang berada di tengah-tengah antara Rangkasbitung dan Ciboleger, maka kami meminta pada kenek angkot untuk diturunkan di Leuwidamar saja. Rencananya, setelah selesai mengurus perizinan kami akan melanjutkan perjalanan ke Ciboleger dengan angkot lain saja.

Kenek dan sopir angkot ternyata kompak untuk melarang kami mengakhiri perjalanan di Leuwidamar. Kami harus ikut sampai ke Ciboleger. Budi mencoba bernegosiasi dengan supir angkot.

“Mang, kami mau turun di kantor kecamatan Leuwidamar saja, tidak sampai ke Ciboleger. Mau mengurus surat izin ke Pak Camat.”

“Sok aja ngurus surat izinnya. Nanti angkotnya nungguin. Kalau sudah selesai, ikut lagi ke Ciboleger.”

“Wah, tidak mungkin, Mang. Bisa-bisa kami di sana lama ngurus suratnya. Kasihan penumpang lain harus menunggu lama. Sudahlah, kami turun di Leuwidamar saja.”

“Tenang aja, kami mau nungguin kok, udah biasa. Ayo naik. Udah penuh ini, mau langsung berangkat.”

Baca Juga  Kejutan Ulang Tahun

Setelah berdebat tanpa hasil, akhirnya kami mengalah. Apalagi angkot itu cuma satu-satunya yang menuju ke Ciboleger dan harus menunggu lama untuk mendapatkan angkot lain. Maka dimulailah perjalanan kami ke kampung Baduy. Jalan menuju Leuwidamar ternyata masih banyak yang belum diaspal dan bergelombang, sehingga kami merasa mual karena terguncang-guncang di dalam angkot, apalagi udara sangat panas pada pukul dua belas siang.

Setelah dua jam barulah kami tiba di Leuwidamar. Kami masuk ke kantor kecamatan sementara seisi angkot menunggu di luar kantor. Setengah jam kami menunggu Pak Camat untuk menandatangani surat izin. Setelah selesai, kami mencari angkot yang masih menunggu dengan manis di tempat parkir. Dengan menyesal kami meminta maaf kepada semua penumpang yang duduk di dalam angkot. Anehnya, tidak ada wajah kesal dan marah setelah menunggu lama. Mereka hanya tersenyum dan angkot langsung melanjutkan perjalanan.

Jalan yang kami lewati semakin buruk, naik turun dan berkelok-kelok. Selama hampir satu jam, sudah tiga kali angkot berhenti. Pertama, karena ada penumpang yang kehausan dan ingin membeli es kelapa muda di pinggir jalan. Kami pikir orang itu akan membeli minuman dan membawanya ke dalam angkot. Ternyata kami salah, dia duduk dengan santainya di warung itu sambil menghabiskan minumannya. Kelihatannya hanya kami yang kesal, penumpang lain duduk menunggu di dalam angkot dengan wajah tak peduli.

Setelah itu ada penumpang yang minta berhenti untuk membeli makanan dan diikuti oleh beberapa orang lain. Ada juga yang minta berhenti di masjid untuk buang air kecil. Dengan angkot yang berkali-kali berhenti, rasanya kami sudah putus asa. Entah kapan akan tiba di Ciboleger.

Baca Juga  Satu Babak Panggung Jalanan

Di tengah perjalanan, tiba-tiba jalanan menanjak cukup tajam dan angkot tua itu tidak sanggup mendaki. Setelah mencoba menekan gas berkali-kali tanpa hasil, akhirnya kenek angkot turun dan berteriak,

“Ayo semuanya bantu dorong, angkotnya nggak kuat nanjak!”

Kami berlima berpandang-pandangan. Hah? Nggak salah nih? Kami harus ikut mendorong? Tidak ada waktu untuk berpikir. Semua penumpang sudah turun, yang perempuan berdiri di pinggir jalan dan yang laki-laki sudah siap di posisi masing-masing untuk mendorong angkot. Kenek memberi aba-aba,

“Yak, siap semuanya. Satu … dua … tiga ….” Supir menekan gas tapi angkot tidak bergerak. Kenek melanjutkan dengan aba-aba kedua tetapi angkot tetap diam di tempat. Setelah aba-aba yang ketiga barulah angkot bergerak perlahan dan terus mendaki. Kami berlari beramai-ramai mengejar angkot yang sedang berjalan dan buru-buru naik ke dalamnya.

Perjalanan ke kampung Baduy berlanjut dengan angkot yang masih berjalan dengan lambat dengan suara mesin yang terbatuk-batuk. Untunglah tidak ada lagi tanjakan terjal dan drama-drama mendorong angkot beramai-ramai.

Kami tiba di desa Ciboleger menjelang magrib dan disambut dengan ramah oleh warga Baduy, yang langsung menawari kami untuk singgah ke rumah mereka. Itu pasti karena kedua teman penulis, Denny dan Budi, yang mahir berbahasa Sunda. Kami pun langsung disuguhi makanan dengan lauk ikan asin dan lalap sayuran yang dipetik langsung dari kebun.

Selesai.

Ingin tahu kisah kami selanjutnya selama di kampung Baduy dan saat melanjutkan perjalanan ke Baduy Dalam dan menyeberangi sungai berjalan kaki dengan air sebatas leher? Nantikan kelanjutannya di bagian dua dari serial ini ….

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *