by

Mencari Jejak Ibu (Part 2)

Solo, beberapa jam sebelum ulang tahun Lia ….

“Ma, kenapa, sih, setiap ulang tahun Mama, kita harus pulang ke Solo?” tanya Cesha. Mereka sedang rebahan di depan televisi sambil melepas penat setelah seharian menempuh perjalanan dari Karawang.

“Kenapa juga kamu baru tanya sekarang, setelah umurmu dua puluh lebih?” sahut Lia sekenanya. Batinnya merapal permohonan supaya niatannya terkabul tahun itu juga.

“Ya nggak apa-apa, Ma. Cuma iseng tanya aja. Tadinya kukira karena sekalian merayakan ulang tahun Noah, tapi Noah, kan, baru sepuluh tahun, sedangkan Mama pulang, kan, udah sejak merantau,” ujar putri sulung Lia yang sudah setahun menjadi mahasiswa.

“Iya. Sudah tiga puluh delapan kali Mama tiup lilin bareng Eyang Kakung, dan tahun ini Eyang Kakung sudah mewanti-wanti agar Mama pulang, sebab ini adalah kali terakhir Mama berusia kepala tiga.”

Lia termenung. Pandangannya kosong, sebab angannya mengembara dari masa ke masa di mana Sardjono hanya hidup berdua dengannya. Setiap hari mereka lalui dengan penuh cinta satu sama lain, bahkan Sardjono tidak pernah melewatkan ulang tahun Lia tanpa dirayakan.

Lia baru menyadarinya setelah menjadi ibu, bagaimana repotnya menyiapkan pesta ulang tahun anaknya. Mulai dari dekorasi, konsumsi, mengisi acara, mengirim undangan, dan banyak hal lain yang Sardjono siapkan sendiri. Decak kagum dan gelengan kepala kadang muncul dengan sendirinya bila ia teringat akan kasih sayang sang ayah.

Napas Lia semakin berat. Batinnya kembali bimbang. Lia yang telah membulatkan tekad untuk meminta hadiah sebuah izin untuk mencari jejak ibunya kini lemah lagi. Suara hatinya terus menggema, mengatakan bahwa ia tak boleh mengkhianati sang ayah, yang telah susah payah membesarkan dan mengayomi hingga ia kini menjadi istri seorang pengusaha yang terbilang sukses.

“Ma, Mama mau minta hadiah apa tahun ini?” Pertanyaan Cesha membuyarkan lamunan Lia.

Baca Juga  5 Rekomendasi Novel Terbaik Karya Asma Nadia yang Wajib Dibaca!

Lia menatap Cesha yang tak tahu menahu bahwa Eyang Ratmi bukanlah ibu kandung sang Mama—semua karena permintaan Sardjono.

**

“Mas. Gimana menurutmu? Aku benar-benar butuh masukan. Apa aku salah kalau pingin tahu dimana ibu kandungku? Cuma mau ketemu, bukan mau ngajak dia masuk ke dalam hidupku,” ujar Lia ketika hanya ada Handi di dekatnya.

Handi meletakkan handuk, menunda mandinya demi mendengarkan keluhan Lia.

“Kamu ndak salah, Nduk, memang Bapaklah yang seharusnya mulai belajar untuk membesarkan hati. Bagaimanapun juga, ikatan antara ibu kandung dengan anaknya tidak bisa dilepaskan begitu saja, seburuk apapun Bu Rumisih,” sahut Handi.

Lia gembira mendengar perkataan bijak suaminya. “Matur nuwun, Mas. Sekarang aku tahu harus gimana.” Lia memeluk erat suaminya.

“Tapi kamu juga harus siap dengan reaksi Bapak nanti. Kamu lihat sendiri, baru jam tiga Bapak sudah sibuk sekali di dapur buat acara kamu jam lima nanti,” ucap Handi.

“Iya aku tahu Mas. Bapak itu total banget kalau berbuat sesuatu untukku.”

“Iya, dan nanti beliau pasti tanya kamu mau minta hadiah apa. Saat itulah kamu harus menyiapkan mental. Ingat, sampaikan semua atau tidak sama sekali.”

Handi kembali menyambar handuknya, hendak membersihkan diri setelah subuh tadi menyetir mobil dari Karawang dan baru tiba di Solo sekitar pukul 14.00.

Lia masih termangu di kamarnya sementara Cesha dan Noah asik bermain lompat karet dengan paman kecil mereka, anak dari Sardjono dan Ratmi yang usianya dua tahun lebih muda cari Cesha. Ada juga di sana anak bawaan Ratmi sebelum menikah dengan Sardjono, usianya dua tahun lebih muda dari Lia.

Jantung Lia berdegup kencang manakala mengingat ucapan Ratri, sahabatnya yang melihat keberadaan Rumisih di kampung sebelah. Itu artinya jarak di antara mereka tidaklah terlalu jauh untuk dicapai.

Baca Juga  Satu Babak Panggung Jalanan

Lia penasaran apakah ibu kandungnya itu masih mengingat dirinya. Padahal banyak keluarga dari pihak Rumisih yang sering berpapasan dengan Lia di pasar, semenjak Lia kanak-kanak hingga sekarang. Namun, kerabat ibunya itu seolah tak peduli dengan keberadaan darah dagingnya.

Sakit hati dan dendam kerap menguasai hati Lia. Ia membuktikan pada Rumisih bahwa hidupnya berjalan begitu indah tanpa kehadiran sosok ibu kandung.

“Siap atau tidak, inilah saat yang tepat untuk menyelesaikan semuanya,” gumam wanita cantik itu.

**

“Panjang umurnya, panjang umurnya, panjang umurnya serta mulia, serta mulia, serta mulia ….”

Nyanyian wajib setiap tahun mulai dikumandangkan lagi sore itu, tepat pukul 17.12 menit, waktu di mana Lia pertama kali memperdengarkan tangisannya di dunia, dan sejak dua belas tahun lalu hingga sekarang, ada satu kue lagi milik Noah yang lahir tepat di hari yang sama dengan ibunya.

Sardjono meminta Lia dan Noah untuk memejamkan mata dan berdoa dulu, sebelum lilin berbentuk angka tiga dan sembilan itu ditiup. Detik-detik menegangkan bagi Lia, karena sebentar lagi Sardjono akan menanyakan permintaan dua orang yang sedang merayakan pertambahan usia itu.

“Aku mau minta drone HP, Eyang,” seru Noah yang diikuti oleh teriakan dan sorakan dari seisi rumah.

Sardjono terkekeh. Dia mengiyakan permintaan Noah. Kebetulan hasil panen tambaknya kemarin membludak dan hasilnya setara satu mobil SUV baru. Tak ada yang keberatan dengan keinginan Noah, bahkan Ratmi sebagai pengendali keluar masuknya uang pun menyambut kalimat Noah dengan senyuman lebar.

Giliran Lia yang didaulat untuk menyampaikan permintaan. Lia memejamkan mata dan mengucap “Bismillah”. Suasana perlahan menjadi hening. Handi menunggu dengan wajah tegang sementara sisa senyuman masih menghiasi tujuh orang lain di ruangan itu.

“Aku mau minta sesuatu yang belum pernah aku ucapkan selama aku hidup di dunia ini,” ujar Lia sambil menghela napas.

Baca Juga  Pelajaran Berharga di Bulan Februari

Wajah Sardjono mendadak pucat. Dia terdiam, seakan mengerti apa yang akan Lia utarakan. Kegelisahan mulai terpancar dari wajahnya yang berhiaskan rambut putih di janggut dan kumis.

“Aku mau mintanya secara pribadi, tidak di depan anak-anak, sebab permintaanku kali ini adalah permintaan seorang wanita dewasa yang mungkin tidak patut didengar oleh anak-anak.” mimik wajah Lia tampak sangat serius. Belum pernah ia memperlihatkan wajah seperti itu.

Sardjono terhenyak. Ruangan mendadak hening. Andi berinisiatif untuk menyuruh Cesha dan Noah keluar, juga Agung, anak Sardjono dengan Ratmi, mengajak Jati, kakak tirinya, untuk pergi meninggalkan ruang makan.

Tinggallah di situ Lia bersama dengan Handi dan Sardjono juga Ratmi. Mereka lantas duduk berhadap-hadapan. Lia sejajar dengan Handi, dan Sardjono ditemani Ratmi di sisinya.

Lia dengan lantang—sebab sekali terbata-bata ia akan sulit untuk bicara—menyampaikan maksud dari perkataannya tadi. “Nuwun sewu, Pak, Bu. Lia kepingin ketemu Bu Rumisih, bukan untuk membawa masuk dia ke dalam hidup Lia, tapi sekadar mau tahu aja, kenapa dia tega ninggalin Lia.”

Handi mengusap bahu Lia, meyakinkan istrinya untuk terus bicara. Wajah Sarjono tampak semakin tegang. Ia terus menatap wajah anaknya tanpa satu kedipan pun.

“Jujur, selama ini Lia menanggung rasa dendam dan sakit hati yang berkepanjangan yang bikin tubuh Lia sakit. Bahkan bulan-bulan belakangan ini sampai harus keluar masuk rumah sakit dan berobat jalan.” Mata Lia mulai berkaca-kaca.

“Apa? Kenapa kamu ndak bilang sama Bapak? Sudah sejak kapan kamu begini? Apa yang kamu keluhkan?” Sardjono memberondong Lia dengan pertanyaan demi pertanyaan.

“Lia kena asam lambung, Pak. Kata dokter, semua ini bersumber dari pikirannya.” Handi angkat bicara.

Sarjono tertunduk, cukup lama. Ia lalu mengangkat kepalanya dan menatap Lia sambil menggeleng.

(Bersambung)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *