oleh

Mencari Jejak Ibu (Part 1)

Tahun ketiga puluh sembilan, dan Lia masih belum beranjak satu langkah pun untuk mewujudkan hasratnya yang dulu tak pernah ada semasa ia kanak-kanak. Hasrat yang baru semenjak Lia menjadi ibu, dua puluh tahun lalu. Hasrat yang timbul tenggelam karena sumpah dan janji yang tak ingin ia khianati. Hasrat yang mendesak lagi setahun belakangan ini.

Hari demi hari Lia merasa bagai berdiri di antara sumur belerang dan di kutub selatan, panas dan dingin sekaligus. Ia ingin segera melesat ke segala penjuru mata angin demi mencari jejak sang ibu, tetapi doktrin yang telah sang ayah tanam di dalam otak Lia membuatnya terbelenggu.

Peperangan dalam batin Lia membuatnya ingin meledak di tempat dan melontarkan serpihan-serpihan asa yang selama ini ia takutkan akan melukai Sardjono, ayah sekaligus ibu baginya, sebelum Ratmi datang dan mencoba menutupi ruang kosong di hati Lia—tetapi selalu gagal, sebab potongan puzzle yang Ratmi bawa tidaklah cocok dengan lubang kosong di hati Lia.

Bukan, bukan karena Ratmi tak sayang pada Lia, tapi ibu sambung yang super baik itu bukan orang yang Lia cari. Yang Lia ingin Bu Rumisih, bukan Bu Ratmi. Bukan ingin membuang ibu sambung, hanya ingin bertemu ibu kandung.

Sejak kehadiran Ratmi, Sardjono memang tak lagi gencar mengingatkan Lia agar tidak mencari ibu kandungnya. Sardjono menganggap kasus telah selesai dengan hadirnya seorang ibu baru. Pria pengusaha tambak itu telah menemukan Semua yang ia cari dalam hidupnya. Namun, tidaklah demikian dengan Lia.

“Aku kepingin nyari Ibu, Mas,” ujar Lia pada Handi, beberapa malam sebelum ia meniup lilin ketiga puluh sembilannya.

Handi adalah suami teladan, lelaki yang mampu membuat iri teman-teman Lia karena ketulusannya. Laki-laki yang besar di panti asuhan itu juga tahu, bagaimana menjadikan Lia yang cengeng supaya bisa terus tertawa. Dia selalu ada untuk menjadi tempat curahan hati Lia saat ibu dua anak itu galau dan bimbang.

Baca Juga  Serial Humor, Perjalanan ke Kampung Baduy (Bagian 2)

“Tapi, Bapak …? Aku khawatir Bapak ndak memberi izin. Kamu tahu? Selama kita menikah beliau sudah ndak pernah menyinggung hal ini sedikitpun, to?” sahut Handi pada wanita yang tengah merebahkan diri di pangkuannya.

“Aku cuma mau menunjukkan sama Rumisih bahwa inilah aku, anak yang dia tinggalkan di usia sepuluh bulan, tanpa peduli air susunya tercecer di mana-mana tanpa aku bisa mengecapnya sedikit saja.”

“Jadi, tetap jalan tanpa meminta restu Bapak, atau tetap meminta restu tanpa peduli beliau setuju atau tidak?”

Handi ingin Lia mempertimbangkan baik buruknya keputusan untuk mencari Rumisih. Ia tak ingin Sardjono tahu niatan Lia lantas jatuh sakit lagi, karena memikirkan hal yang mungkin telah terkubur di dasar hati dan tak ingin diingatnya kembali.

“Entahlah, Mas. Lagi ndak bisa mikir.”

Lia bangkit, menyandarkan kepalanya ke dada Handi. Di bawah teduhnya sinar rembulan, malam berlalu lagi tanpa satu keputusan. Jasa sang ayah terlalu besar untuk diselingkuhi, terutama apa yang ia pernah ucapkan di hadapan Sardjono, bahwa wanita tiga belas tahun lebih tua darinya itu adalah satu-satunya ibu.

**

Dua puluh tahun lalu ….

“Pak, Bapak ndak malu, to, nungguin aku bareng ibu-ibu lain?” tanya Lia ketika Sardjono sedang membuka kain yang menutupi separuh tubuh putrinya, untuk mengganti diaper Lia yang sudah penuh dengan darah nifas.

“Wis ndak apa-apa. Anggap saja aku ini ibumu. Kamu ndak usah risih atau canggung. Lha wong aku ini orang yang ngurus kamu dari bayi, kok,” sahut Sardjono yang begitu sigap melakukan apa yang seharusnya dikerjakan oleh para wanita.

Tidak ada orang yang tak merasa heran melihat seorang pria menunggui ibu muda yang baru saja melahirkan putri pertamanya. Sebagian merasa prihatin, sebagian lagi tak tahan untuk merutuki wanita yang tega meninggalkan bayi mungilnya yang kini sudah menjadi ibu.

Baca Juga  Kupu-Kupu Sayap Kaca

Sardjono memang sangat cekatan dalam menunggui Lia dan bayinya. Semua itu ia lakukan sendirian karena Handi yang bekerja di luar Jawa baru mendapat cuti di akhir bulan, sesuai dengan hari perkiraan lahir sang putri. Siapa yang menyangka ternyata Lia melahirkan seminggu lebih cepat.

Sardjono merawat Lia sebagaimana ia merawat Rumisih setelah melahirkan putri kesayangannya itu. Semua bak dejavu yang menyerang secara tiba-tiba, tanpa Sardjono bisa memilih lari atau sembunyi, sebab peristiwa itu membawa perih yang tak tertandingi.

Beruntung, akal sehat Sardjono segera kembali ketika putrinya meraung kesakitan di rumah itu, rumah di mana Rumisih pernah mengalami hal serupa … persis, tak ada beda. Bahkan Sardjono sempat melihat Rumisih di wajah Lia ketika menahan kontraksi. Secepat kilat Sardjono membawa Lia menuju puskesmas dengan menggunakan sepeda motor.

Sardjono hampir saja salah menyebut nama Lia, tetapi sekuat tenaga ia berusaha untuk tetap berasa dalam kesadaran penuh hingga tiba di puskesmas—puskesmas yang sama dengan yang Rumisih pakai untuk melahirkan Lia. Sialnya, Lia pun mendapatkan kamar rawat yang sama dengan yang Rumisih pakai.

Sardjono begitu emosional sewaktu menunggui Lia mengeluarkan bayinya. Suara Lia terdengar sama seperti ibunya. Sardjono bahkan sempat menutupi telinganya karena rasa trauma yang secara keji menghampirinya lagi, setelah ia berjuang untuk melupakan semua kenangan yang kembali datang tanpa aba-aba.

Sebagai ibu muda, Lia—seperti kebanyakan orang rantauan—memilih untuk melahirkan anak pertama mereka di kampung. Handi mengantarkan Lia di usia kandungan tujuh bulan. Sardjono yang telah setahun kesepian lantas menyambut gembira kehadiran putrinya.

Lia berpikir, walau ia cuma punya Bapak sebagai keluarga, tetapi Bapak punya banyak sanak saudara yang bisa menolongnya merawat bayi. Namun, Sardjono bersikukuh untuk menemani Lia sendiri, tanpa mau digantikan oleh saudara atau keluarga yang tak henti menyalahkannya karena salah memilih wanita.

Baca Juga  Cerbung: Nur Jannah (Part 4)

Sardjono telah menyiapkan mental walau pada kenyataannya ia hancur lebur menangisi nasibnya di tembok rumah sakit, jauh dari penglihatan Lia. Nasib yang justru memihak pada perempuan tukang kawin yang untuknya Sardjono rela menjadi pria ketiga.

Sardjono yakin Rumisih akan berubah di tangannya, terlebih wanita itu langsung mengandung setelah sebulan ia nikahi. Nyatanya nol besar. Rumisih kembali kepincut dengan pria yang dianggapnya lebih mapan. Konon, semua itu terus terulang hingga sekarang.

“Buka kakinya, biar gampang dibersihkan,” ujar Sardjono yang telah siap dengan tisu basah di tangan.

“Awas, Pak. Jahitanku banyak, lho,” sahut Lia saat sang ayah membersihkan area pribadinya.

“Sudah selesai, Nduk,” balas Sardjono sambil merekatkan diaper.

Semua yang Sardjono perbuat terekam jelas oleh salah satu penunggu pasien yang juga ikut menunggui Lia dan bayinya, saat Sardjono sedang membeli makanan atau menebus obat.

Sarmi, wanita itulah yang akhirnya bisa membuka hati Sardjono. Janda satu anak itu jatuh cinta pada Sardjono yang ia anggap sebagai lelaki terhebat sejagat raya.

**

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *