by

Nilai-Nilai Kritisisme dalam Film Alangkah Lucunya Negeri Ini

Terkadang kritik membangun menjadi dasar idealisme bahkan kreativitas ketika menciptakan skenario cerita di dalam film. Tujuannya jelas yaitu untuk menyampaikan kritik tersebut dengan cara berbeda yaitu melalui scan sastra sineas.

Oleh sebab itu, menjadi wajar kalau ada film yang di-bredel jika kritik yang disampaikan terlalu keras. Hal ini juga terlihat dari nilai-nilai Kritisisme dalam film Alangkah Lucunya Negeri Ini.

Ada banyak kritik di dalam film yang dibintangi oleh Reza Rahardian dan Deddy Mizwar tersebut. Semuanya berbentuk kritik sosial demi melihat potret ke-Indonesia-an di kala itu. Ironinya, film yang rilis beberapa tahun lalu, nilai kritiknya tetap sesuai dengan jaman ini. Pertanyaannya ialah nilai kritik seperti apa yang ada di film Alangkah Lucunya Negeri Ini?

Nah, di bawah ini akan coba diulas terkait nilai kritik di dalam film yang dimaksud. Semoga apa yang akan disampaikan bisa menjadi motivasi bagi penggemar film di Indonesia, untuk ikut menontonnya jika ingin melihat Indonesia dari sisi berbeda. Ini dia nilai kritik yang dimaksud:

1. Sulitnya Mendapatkan Pekerjaan

Nilai-nilai Kritisisme dalam film Alangkah Lucunya Negeri Ini yang pertama terkait dengan sulitnya mendapatkan pekerjaan. Ini ditunjukkan oleh Muluk (Reza Rahardian), seorang sarjana manajemen yang harus pontang panting masuk pabrik tetapi selalu mendapatkan penolakan. Akhirnya si aktor ini pun rela membangun manajemen tukang copet agar bisa menjadi pengasong.

Di dalam film ini juga banyak scene lain yang menunjukkan betapa sulitnya mencari kerja. Ada yang bertitel sarjana agama tetapi malah menjadi penggemar kuis berhadiah, dan seorang sarjana pendidikan yang hobinya hanya bermain gaple. Sebuah kritik sosial yang cukup tajam untuk melihat Indonesia dari sisi sulitnya lahan pekerjaan.

Baca Juga  Rekomendasi Film Indonesia Bertema Sejarah untuk Menambah Pengetahuanmu
2. Paradoks dalam Kehidupan

Di dalam film Alangkah Lucunya Negeri ini, juga terdapat banyak paradoks yang salah satunya paradoks berprofesi. Ini terlihat pada ending film, yang mana, seorang pencopet dikejar-kejar dan di amuk massa dan seorang pencopet yang telah bertobat dan memilih mengasong juga dikejar-kejar oleh Satpol PP.

Paradoks lain yang diperlihatkan di dalam film, ialah kemarahan ayah Muluk (Dedy Mizwar) karena si anak yang lulusan manajemen justru menjadi manajer komunitas pencopet. Di sisi lain, warga setempat juga menerima calon DPR dari Partai Asam lambung yang sedang bagi-bagi kaos. Padahal mereka sadar kalau merekalah calon koruptor menurut cerita tersebut.

3. Politik Kekuasaan yang Tebang Pilih

Ada scene menarik di dalam film Alangkah Lucunya Negeri Ini. Sebuah komunitas pencopet binaan Muluk, telah berhasil mendapatkan dana untuk dibelikan barang dagangan tentunya dana dari hasil mencopet. Berarti, mereka sudah bersiap untuk beralih kerja dari penjarah jalanan menjadi pengasong.

Namun pada saat peresmian, ada diksi seperti ini “Mari kita resmikan sekalipun tidak ada menteri pendidikan yang hadir karena memang tidak diundang, karena mengundang mereka mahal”. Konflik ini dilanjut dengan jawaban dari Ribut (pencopet) “Kalau begitu kita mengundang mereka yang pasti datang, dan mengundang yang pasti tidak dibayar”, semua membalas diksi ini dengan tertawa bersama.

Ada nilai kritik politik kekuasaan yang ingin diangkat dari angle ini. Mereka ingin mengatakan kalau masih ada pejabat yang siap menghadiri undangan tetapi dengan dibayar. Sebuah stigma yang sampai saat ini memang cukup mengernyitkan dahi, padahal secara nominal gaji, oknum-oknum semacam ini sudah lebih dari cukup.

4. Polemik tentang Pentingnya Pendidikan

Ada scene lucu di dalam film Alangkah Lucunya Negeri Ini. Yaitu polemik tentang pentingnya pendidikan. Konflik ini hampir mengisi seluruh scene seperti perdebatan antara Jaja Miharja dan Dedy Mizwar di dalam musholla, hingga perdebatan antara Reza Rahardian dan temannya ketika sedang berpidato terkait pendidikan di depan para pencopet.

Baca Juga  Yuk Simak, Deretan Web Series Terbaik Adaptasi Wattpad yang Akan Mulai Tayang Bulan Agustus Ini!

Scene ini menunjukkan kalau masih ada masyarakat yang tidak mengetahui pentingnya pendidikan. Bahkan, orang yang lulus perguruan tinggi sekalipun menjadi semakin yakin kalau pendidikan tidak penting. Sebab pendidikan atau ijazah tidak bisa menjadikannya mendapatkan pekerjaan yang layak.

5. Koneksi Solusi Hidup Nyaman

Koneksi atau jaringan ternyata masih dianggap sebagai solusi hidup nyaman. Kasarnya, untuk kaya dan bekerja membutuhkan “orang dalam” yang akan mempermudahnya. Ini tersirat dari perkataan Jaja Miharja kepada ayah Muluk (Dedy Mizwar) Kabul, yaitu “Pendidikan itu penting Bul, asalkan ada koneksi”.

Scene lain yang selaras adalah perkataan si Jupri, calon anggota DPR dari Partai Asam Lambung yang meminta dana kepada Jaja Miharja, hanya untuk membeli kaos yang akan dibagi-bagikan kepada masyarakat. Ya, koneksi dan modal ternyata masih berperan penting dalam kehidupan.

6. Nilai Kritik Kaffah dalam Berislam

Di dalam film ini juga ditampilkan sosok seorang kyai yang menjadi rujukan Muluk untuk bertanya soal keislaman. Jika si kyai ini menyatakan kalau hukum yang ditanyakan adalah haram, maka si Muluk pasti tidak menjalankannya. Termasuk ketika dia berkonsultasi tentang hukumnya beternak cacing.

Namun si kyai sendiri justru memiliki keluarga yang tidak kental dengan keislaman. Seperti Si istri (Rina Hasyim) yang suka bermain teka-teki, begitu juga sang anak yang lulusan Sarjana Agama tetapi kegemarannya ikut kontes-kontes berhadiah di Televisi. Sebuah nilai kritik yang sejatinya memang lekat dengan keseharian, bagaimana sulitnya membangun keluarga yang memang memegang ajaran agama Islam secara Kaffah.

Itulah nilai-nilai Kritisisme dalam film Alangkah Lucunya Negeri Ini yang perlu diketahui oleh pembaca. Dengan pemahaman ini, maka dialektika semakin kuat karena kita memang benar-benar disuguhkan sebuah tontonan yang di sisi hiburan memang menghibur tetapi di sisi lain juga menjengkelkan. Apalagi tidak dimungkiri, secara kontekstual, nilai kritik ini tidak ditampik memang pernah dan mungkin juga sedang melanda negeri.

Penulis : Agus Heriyanto

Gravatar Image
Saya adalah seorang penulis artikel online yang telah menekuni profesi selama 8 tahun lebih. Ini Saya lakukan semata untuk memberikan informasi yang berharga kepada seluruh pembaca online di seluruh Indonesia.

Comment

Berikan Komentar Untuk Tulisan Ini

Artikel Terkait