by

Menyikapi Maraknya Predator Anak, Orangtua Bisa Apa?

Setiap hari kita membaca berbagai berita tentang tindak kriminal yang tidak ada habisnya, baik di Indonesia atau di belahan dunia yang lain. Salah satu kejahatan yang paling membuat kita sakit hati, adalah pelecehan atau perundungan seksual terhadap anak di bawah umur.

Perundungan seksual sendiri adalah kata yang menjadi momok bagi setiap orang, apalagi jika terjadi terhadap anak-anak. Lebih parahnya lagi, predator anak itu kerap ada di sekitar kita tanpa kita sadari.

Anak-anak kemungkinan tidak selalu menyadari akan adanya bahaya yang mengancam di sekitar mereka. Bagaimana tidak? Pelaku kejahatan itu seringkali terbungkus dalam wujud orang-orang yang seharusnya mereka hormati, seperti guru sekolah, guru les atau guru mengaji. Di banyak kasus, orang-orang yang masih ada hubungan kerabat juga kerap melakukan perundungan seksual.

Kejahatan perundungan seksual terhadap anak bisa menimpa anak laki-laki maupun perempuan. Jika dahulu kita berpikir bahwa anak laki-laki, hanya perlu dilindungi dari bahaya perundungan (bullying) yang bersifat verbal atau pun fisik, ternyata kejahatan prundungan seksual banyak juga menimpa anak laki-laki.

Banyak sekali himbauan baik di media cetak maupun elektronik, yang mengajarkan kita untuk waspada terhadap orang-orang yang berpotensi untuk berbuat jahat atau cabul kepada anak-anak. Sebenarnya bukan hanya anak-anak, remaja pun masih bisa dikelabui. Masalahnya adalah, bagaimana cara memberi tahu seorang anak kecil tentang kejahatan pencabulan, lebih-lebih rudapaksa?

Pada kenyataannya, pelaku pencabulan terhadap anak-anak kebanyakan adalah orang-orang yang dikenal dekat bahkan banyak juga akrab dengan ayah dan ibu mereka.

Penulis mempunyai pengalaman seperti itu. Ada kerabat dekat penulis yang pernah mengalami perundungan seksual dari orang yang kami kenal sangat dekat, Penulis bisa merasakan ketakutan dan perasaan tidak berdaya seorang anak ketika mengalami hal itu. Anak tersebut juga tidak bisa disalahkan, karena ketidaktahuannya akan adanya orang yang biasanya sangat baik dan ternyata bisa berbuat jahat.

Baca Juga  Pengertian Sampah Plastik dan Pemanfaatannya! Yuk Kita Kenali Lebih Jauh!

Penulis tidak akan membahas tentang perundungan seksual terhadap anak dari segi psikologi, yang merupakan ranah seorang psikolog. Penulis hanya ingin berbagi sebagai ibu dari empat orang anak, yang sangat khawatir jika anak-anak dan remaja kita menjadi korban dari para predator anak.

Penulis pernah membaca berita tentang seorang anak perempuan beumur enam tahun, yang dicabuli dan diduga dirudapaksa oleh enam orang anak laki-laki, berusia antara enam sampai delapan tahun.

Dalam berita itu disebutkan bahwa tadinya si anak perempuan tersebut sedang bermain dengan kedua temannya. Tiba-tiba datang dua anak laki-laki lain, yang menarik tangan si anak perempuan dan membawanya ke dekat kandang kambing.

Di lokasi itu diduga telah terjadi perundungan seksual oleh enam orang anak laki-laki terhadap anak perempuan tersebut. Anak perempuan itu baru menceritakan kejadian yang dialaminya seminggu kemudian, dan orangtuanya langsung melaporkan ke Polisi.

Setelah diselidiki dan berdasarkan keterangan saksi, ternyata anak-anak laki-laki itu terpengaruh oleh video mesum, yang mereka tonton di rumah seorang laki-laki di kampung tersebut. Laki-laki itu berstatus duda dan tinggal berdua dengan neneknya. Entah apa maksudnya, mengumpulkan bocah-bocah ingusan di rumahnya dan mengajak mereka menonton video mesum bersama-sama.

Penulis benar-benar speechless, tidak tahu harus berkata apa. Apakah kita harus mengajari anak perempuan kita untuk curiga kepada teman-temannya? Apakah anak perempuan itu bisa menduga apa yang akan dilakukan oleh teman-teman bermainnya?

Walaupun ibu mereka sering mengajari mereka untuk berteriak, melawan atau jangan mau gampang saja diajak oleh orang lain, penulis sangat yakin anak perempuan itu tidak mengerti akan apa yang telah dialaminya.

Anak perempuan itu pasti dalam keadaan tidak berdaya dan tidak mungkin bisa melawan, Memang pelakunya masih anak-anak, tapi enam orang? Bagaimana bisa seorang gadis kecil melawan enam anak laki-laki yang sedang dikuasai bujukan setan, berkat video yang mereka tonton?

Baca Juga  Langkah-Langkah dan Kata-Kata Motivasi untuk Ajak Anak Gemar Membaca

Bayangkan bagaimana tertekan dan menderitanya gadis kecil korban perundungan seksual itu, karena mengalami perlakuan seperti itu dari teman-teman bermainnya. Selama seminggu ia memendam semua kesedihan dan rasa tidak berdayanya sendirian, sebelum berani menceritakan kepada orang tuanya. Seringkali kejadian seperti ini akan terus melekat di benak si anak seumur hidupnya.

Bagaimana dengan para pelaku yang masih anak-anak? Bukankah mereka juga merupakan korban dari kejahatan seseorang, yang mungkin menderita kelainan jiwa karena mendapatkan kesenangan, dengan mengajak anak-anak menonton video porno?

Bagaimana dampaknya terhadap orang tua mereka yang dihujat dan dijauhi oleh orang-orang sekitar, karena perilaku anak-anak mereka? Mungkin juga para tetangga telah melarang anak-anak mereka untuk berteman dengan keenam anak laki-laki tersebut.

Kita bisa melihat bagaimana menyeramkannya pengaruh dari gawai yang ditonton oleh anak-anak. Menjadi pelajaran juga bagi kita untuk selalu waspada terhadap adanya seorang laki-laki dewasa, yang suka mengajak anak-anak ke rumahnya atau ke tempat lain. Biasanya orang tersebut berkepribadian menyenangkan, sabar, pemurah dan membuat anak-anak nyaman bersamanya.

Jika dalam kejadian di atas anak-anak laki-laki menjadi korban dari seseorang yang jahat, bukan tidak mungkin pada kejadian lain anak-anak menonton video mesum dari gawai milik mereka sendiri. Bukankah orangtua tidak mungkin mengawasi mereka selama 24 jam?

Penulis belum dapat memberikan tips-tips atau anjuran mengenai, bagaimana cara menghindari para predator anak yang mengintai anak-anak kita, karena sampai saat ini pun penulis masih belajar untuk membekali anak-anak, dengan cara-cara untuk menghindari terjadinya kejahatan perundungan seksual.

Sejauh ini, cara terbaik untuk mencegah anak-anak kita agar tidak menjadi korban dari para predator anak, adalah dengan membangun suasana diskusi yang nyaman dengan anak-anak, agar mereka tidak malu dan risih untuk membicarakan hal-hal seperti itu. Ajari juga anak-anak akan adanya bagian-bagian tubuh yang tidak boleh dipegang oleh orang lain.

Baca Juga  Langkah-Langkah untuk Merawat dan Menjaga Kulit Sensitif Bayi Anda

Lebih penting lagi, selalu dekatkan hubungan kita dengan anak-anak. Dengarkan keluh-kesah dan cerita mereka, betapa pun tidak pentingnya hal itu bagi kita. Selain itu, pembekalan tentang pengetahuan moral dan agama, tentu saja menjadi senjata yang sangat ampuh, untuk menyelamatkan anak-anak kita dari para predator anak.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Publikasi Terkait Lainnya