oleh

Mengapa Anak Berbicara Kasar? Bagaimana Cara Mengatasinya? Check This Out!

Ketika mendengar anak berkata kasar, apalagi ditambah dengan kata-kata yang memiliki brand “kotor”, akan muncul beragam reaksi orang tua. Kaget, jengkel, marah, sedih, dan sebagainya. Nah, reaksi orang tua dapat berbeda lagi ketika anak berkata kasar di tempat umum. Antara malu, geram, dan menahan amarah.

Lalu, muncul aneka pertanyaan di batin orang tua. “Ealah! Siapa yang ngajarin si Adek ngomong begitu? Pasti temannya yang badung itu! Atau, dia terpengaruh dari pilem-pilem di tipi? Hah! Pokoknya si Adek gak boleh lagi nonton tipi!”

Eit! Sebelum tuduhan menjalar ke mana-mana dan hukuman bertambah jumlahnya, orang tua sebaiknya terlebih dahulu mencari tahu penyebab anak berkata kasar. Kemudian, dengan penuh “kebijaksanaan dalam permusyawaratan”, atasi kemungkinan anak semakin mahir berbicara kasar.

Mengucapkan kata atau kalimat kasar ketika kesal atau marah, sering terjadi pada anak usia menjelang remaja dan oleh anak yang berusia lebih muda, misalnya anak berusia 6 tahun ke bawah. Anak yang berada di bawah usia 6 tahun, biasanya belum tahu arti kata kasar yang diucapkannya. Kecenderungannya adalah dia hanya meniru orang di sekitarnya. Sebenarnya, meniru adalah bagian dari proses perkembangan anak. Namun, tidaklah baik jika anak meniru hal-hal yang buruk.

Pada anak yang lebih dewasa, penyebabnya lebih beragam. Alasan-alasan berikut dapat menjadi penyebabnya.

  1. Ingin menunjukkan keberanian. Seringkali pembuktian keberanian ini karena adanya tantangan dari temannya. Misalnya, “Coba, berani gak bilang …(kata disensor)… ke guru matematika?”
  2. Ingin dianggap keren oleh teman-teman sebayanya. Kemungkinan, teman-teman sebayanya juga mengucapkan kata-kata kotor yang serupa.
  3. Ingin bergabung dalam suatu kelompok pertemanan. Celakanya, anak-anak dalam kelompok tersebut sering mengucapkan kata-kata yang tidak baik, sehingga anak pun terpengaruh atau memang dia membiarkan dirinya terpengaruh.
  4. Ingin membantah tuduhan terhadap dirinya. Contoh, ketika anak terus dituduh, “Manja banget, sih! Gitu aja gak bisa!”, maka kalimat tersebut memicu pemberontakan dalam dirinya. Apalagi, ketika dia benar-benar merasa tidak manja. Sayangnya, karena tidak tahu bagaimana cara membantah tuduhan tersebut, akhirnya kalimat kasarlah yang terucap.
  5. Merupakan salah satu upaya anak memberontak aturan orang tua. Dengan kata lain, ada kebijakan orang tua yang ingin diprotes oleh anak, tapi anak tidak tahu bagaimana cara melakukan protes yang baik. Sebagai ganti dari keinginan protes yang terpendam, ucapan kasarlah yang terlontar dari mulutnya.
  6. Dalam beberapa kasus, disinyalir anak berbicara kasar karena stres atau frustrasi. Penyebab stres dapat beragam, seperti perundungan yang diterimanya di sekolah, kegagalannya mencapai sesuatu, tidak adanya dukungan atas usahanya, kesendirian, dan sebagainya.
Baca Juga  7 Alasan Mengapa Harus Kaya, Yuk Cari Jawabannya

Berbicara kasar dapat menjadi kebiasaan jika dibiarkan. Oleh karena itu, waspadai setiap kemungkinan yang dapat memicu anak berkata kasar. Berikut ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut. Cara-cara ini dapat diterapkan bagi anak yang masih berusia dini maupun yang sudah berusia remaja.

1. Bereaksi Sewajarnya

Ketika mendengar anak berbicara kasar, sudah wajar jika orang tua marah, jengkel atau sakit hati. Namun, alangkah baiknya jika orang tua dapat menahan diri agar tidak terbawa emosi. Jika orang tua bereaksi berlebihan, maka anak akan merasa berhasil mendapatkan perhatian.

Nanti, dia akan mengulangi cara yang sama untuk menarik perhatian orang tua. Orang tua harus mengingat bahwa emosi anak belum stabil, sehingga jangan sampai orang tua malah terbawa emosi. Ketika anak sudah melewati batas, barulah tegur anak secara tegas tetapi tetap baik.

Misalnya, “Kata-kata itu tidak pantas diucapkan, Nak. Coba ceritakan ke Mama/Papa, apa yang sebenarnya ingin kamu katakan.”

Pada intinya, hindari menaruh perhatian lebih pada kata kasar yang diucapkan anak. Sebaliknya, berikan respon baik pada setiap kata atau kalimat sopan yang diucapkan anak.  Dengan demikian, anak belajar bahwa mengucapkan kata yang baik dan sopan akan membuatnya lebih dihargai.

2. Tidak Menegurnya di Depan Orang Banyak

Menegur anak di depan orang banyak apalagi sampai mempermalukannya, akan memungkinkan terjadinya dua hal. Anak mungkin tidak akan mengulanginya lagi perbuatannya atau malah semakin tertantang untuk melakukannya. Agar hubungan orang tua dan anak tetap harmonis, sebaiknya masalah tersebut dibicarakan berdua. Dengan demikian, anak akan lebih fokus mendengarkan dan tidak malu akibat ditegur di depan umum.

3. Tanyakan kepada Anak Alasannya Berbicara Kasar

Orang tua perlu bertanya kepada anak alasan dia berbicara kasar. Misalnya, “Kenapa kamu berbicara seperti itu? Apakah kamu sedang marah? Boleh ceritakan ke Mama/Papa? Mama/Papa mau dengar ceritamu.” Pertanyaan tersebut akan mendorong anak mencoba memahami emosinya.

Baca Juga  Mengenali Ciri Gaslighter Melalui 9 Perilaku Ini

Kemudian, dia akan mulai mengatakan apa yang sebenarnya sedang dia rasakan. Setelah itu, orang tua dapat memberikan solusi setelah mengatakan kepada anak bahwa berbicara kasar tidak akan pernah menjadi solusi.

4. Beritahukan kepada Anak bahwa Berkata Kasar Bukanlah Sikap yang Baik

Kata-kata yang tidak sopan dapat diperoleh anak karena mendengar dari orang lain. Katakan kepada anak bahwa ada hal-hal yang tidak boleh ditiru karena tidak baik dan dapat menyakiti orang lain. Contoh hal yang tidak baik adalah mengucapkan kata-kata yang tidak sopan. Orang tua pun harus menjadi teladan bagi anak dengan tidak mengucapkan kata-lata yang tidak pantas.

5. Membangun Empati Anak

Pada saat anak berkata kasar, ajaklah dia untuk memikirkan perasaan orang lain. Misalnya dengan bertanya, “Kalau ada teman yang bicara kasar kepada Adek, Adek akan merasa bagaimana? Apakah Adek akan merasa sedih? Nah, begitu juga dengan teman Adek. Kalau Adek berkata seperti tadi, teman Adek akan sedih juga mendengarnya.” Sangat baik jika empati anak dibangun sejak dini.

6. Memberi Konsekuensi

Konsekuensi atau hukuman dapat juga diberlakukan untuk menghentikan anak berbicara kasar. Hukuman yang diberikan harus wajar dan tidak mengarah ke tindakan kekerasan. Oleh karena itu, orang tua harus dapat mengontrol emosi ketika memberikan hukuman. Contoh hukuman adalah memintanya merenung di dalam kamar atau memintanya menulis alasan dia berkata kasar dalam buku catatan.

Itulah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah anak terbiasa berbicara kasar. Sebenarnya, masih banyak cara lain yang dapat orang tua lakukan, tergantung pada sifat anak. Dengan demikian, orang tua dianjurkan juga mencari strategi lain hingga memperoleh cara yang paling efektif untuk menghentikan perilaku buruk anak. Tujuan mengubah perilaku buruk anak bukan semata untuk menghormati orang tuanya, melainkan juga agar anak bisa berinteraksi dengan baik di dunia luar.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Publikasi Terkait Lainnya