oleh

Kenapa sih Anak Sulit Bicara dengan Orang Tua? Mungkin 7 Alasan Ini Menjadi Penyebabnya

Apakah kamu termasuk orang tua yang resah karena memiliki anak yang terkesan menghindari berbicara denganmu? Ternyata bukan kamu saja yang merasakan hal seperti itu. Banyak anak yang ketika beranjak dewasa semakin malas bicara dengan orang tuanya, sehingga hubungan anak dengan orang tua semakin renggang.

Anak yang cenderung pendiam di rumah, tetapi banyak bicara ketika sedang berkumpul bersama teman-temannya, tentu menimbulkan tanda tanya besar bagi orang tua. Dualisme sikap seperti itu tidak serta-merta terbentuk. Selalu ada alasan di balik setiap tindakan. Bisa jadi, 7 alasan—yang dilihat dari sudut pandang anak—inilah yang menjadi penyebab anak sulit bicara dengan orang tua.

1. Orang Tua Menanyakan Pertanyaan yang Itu-Itu Saja

Anak tidak menyukai pertanyaan yang terkesan basa-basi. Misalnya, ketika anak baru pulang sekolah, ibunya langsung membombardirnya dengan pertanyaan, “Tadi pulang sama siapa? Bagaimana pelajaran sekolahmu hari ini? Baik-baik saja, kan? Bekalmu sudah dihabiskan? Ada PR atau tidak?”

Sebenarnya, semua itu pertanyaan yang wajar ditanyakan oleh orang tua. Akan tetapi, jika semua pertanyaan itu dilontarkan beruntun, seolah tidak membutuhkan jawaban, tentu anak akan malas menjawabnya. Apalagi pertanyaan yang dilontarkan cenderung sama, terkesan repetitif. Pertanyaan yang membosankan menjadi alasan kuat anak malas menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

2. Anak Merasa Orang Tuanya Berpikiran Kolot dan Berpendapat Selalu Benar

Perbedaan usia seringkali menimbulkan perbedaan pendapat akan sesuatu. Perbedaan tersebut kerap muncul di tengah percakapan anak dengan orang tuanya, yang mengakibatkan anak sulit bicara dengan orang tua. Ketika si anak menyukai musik K-Pop, orang tua malah memintanya lebih sering mendengarkan lagu-lagu kebangsaan.

Ketika si anak mengatakan bahwa musik K-Pop dapat meningkatkan semangat belajarnya, orang tuanya berkata, “Zaman Bapak dulu, belajar tidak perlu pakai musik. Belajar di tengah keheningan sangat efektif. Buktinya, dulu Bapak selalu menjadi juara kelas.”

Baca Juga  5 Buah-buahan yang Wajib Dikonsumsi di Bulan Ramadan

Apa yang terjadi pada si anak mendengar orang tuanya berkata seperti itu? Si anak mungkin tidak akan membantah, sekaligus tidak mengiyakan. Lalu, dengan sembunyi-sembunyi dia tetap mendengarkan musik favoritnya, sembari berupaya menghindari percakapan lebih lanjut dengan orang tuanya yang dianggap tidak memiliki pikiran yang terbuka.

3. Anak Merasa Diremehkan

Tidak ada orang yang suka diremehkan. Anak-anak pun demikian. Setiap anak ingin diperhatikan, khususnya oleh orang tuanya. Ketika si anak sedang bercerita, misalnya tentang rasa kecewanya karena nilai ulangannya yang anjlok akibat beberapa soal tidak dia kerjakan, tentunya si anak berharap mendapat empati dari orang tuanya.

Namun, ada kalanya reaksi yang diterimanya bertolak-belakang dengan harapannya. Misalnya, alih-alih memberinya semangat, orang tuanya malah meremehkan dengan kalimat, “Makanyaaa… belajar yang bener. Soal begitu saja masa tidak bisa? Memangnya kamu anak TK?” Kalimat semacam itu tentu dapat menambah kekecewaan si anak. Jika hal yang sama terus-menerus dialaminya, dia pun mungkin akan beralih cerita kepada temannya dan bukan kepada orang tuanya lagi.

4. Anak Merasa Didikte ketika Mengobrol

Penyebab lain anak sulit bicara dengan orang tua mungkin juga karena sikap mendikte yang ditunjukkan orang tuanya. Ketika anak bertanya, orang tua memberikan jawaban berupa ceramah panjang, bukan semacam tukar pendapat. Akibatnya, obrolan menjadi kaku.

Misalnya, anak bertanya, “Bu, besok ada acara ulang tahun Erika. Aku boleh pulang agak malam?” Tanpa bertanya jam berapa pastinya anak akan pulang, di mana, dan pergi dengan siapa, orang tuanya langsung melarang. “Tidak boleh! Pulang malam berbahaya bagi siapa pun, apalagi bagi anak seusiamu. Lagipula, tidak ada gunanya merayakan ulang tahun. Buang-buang uang saja! Bla… bla… bla…” Setelah itu, anak dinasihati dengan segudang petuah dan dituntut mengikuti saran orang tuanya. Tentu anak tidak nyaman dengan tipe obrolan seperti itu.

Baca Juga  Kamu Termasuk yang Mana? Ada 6 Generasi Penduduk di Indonesia

 

5. Anak Merasa Orang Tuanya Lebih Peduli pada Hal Lain

Sebenarnya tidak ada anak yang ingin menjauh dari orang tuanya. Anak pun memiliki rasa rindu untuk bertukar cerita dengan orang tuanya. Akan tetapi, ketika orang tuanya terlihat sibuk dengan sesuatu yang lain, tentu si anak enggan untuk menganggu. Akibatnya, si anak akan mengalihkan ceritanya kepada orang lain, misalnya kepada teman-teman sekolahnya.

Alangkah baiknya jika orang tua mempunyai waktu khusus untuk menjadi telinga bagi anak-anaknya. Anak-anak pasti memiliki ribuan cerita yang ingin diberitahukan kepada orang tuanya. Dengan demikian, kedekatan anak dengan orang tua akan selalu terjaga.

6. Anak Merasa Tidak Dipercaya

Ketika anak merasa tidak dipercaya oleh orang tuanya, dia cenderung enggan mencurahkan isi hatinya kepada orang tuanya. Dia khawatir malah akan dituduh yang tidak-tidak jika dia bercerita. Misalnya, si anak bercerita kalau dia menemukan selembar uang lima ribuan di depan sekolah. Karena tidak ada seorang pun di sana, si anak mengantongi uang tersebut dan membawanya pulang.

Tak disangka, orang tuanya malah menuduhnya mencuri uang tersebut dari teman sekelasnya. Semakin keras si anak membantah, semakin garang pula orang tuanya menuduh. Pengalaman disalahkan seperti itu menjadikan si anak kapok untuk bercerita lagi kepada orang tuanya. Rasa takut kepada orang tuanya pun bisa muncul akibat peristiwa tersebut.

7. Anak Merasa Tidak Nyaman karena Menjadi Tempat Berkeluh Kesah

Memiliki anak yang dapat menjadi teman berkeluh kesah pasti sangat menyenangkan. Namun, tidak semua anak memiliki kesanggupan untuk menerima curahan isi hati orang tuanya. Bisa jadi anak malah stres ketika mengetahui kondisi keuangan atau pertengkaran kedua orang tuanya. Akibatnya, si anak malas bicara dengan orang tuanya karena khawatir orang tuanya lagi-lagi akan berkeluh kesah.

Baca Juga  Bagaimana Cara Mengatasi Rasa Lemas Secara Alami?

Manusia pada umumnya menggunakan komunikasi sebagai alat untuk dapat berhubungan dan berinteraksi satu sama lain. Di dalam keluarga normal pun terjadi komunikasi. Namun, ada kalanya komunikasi tersendat karena anak sulit bicara dengan orang tua. Kondisi canggung akibat tidak lancarnya komunikasi antara anak dengan orang tua tentu masih dapat diperbaiki. Perubahan positif dapat terjadi jika ada kesadaran dari kedua belah pihak untuk memperbaiki kondisi yang sudah telanjur terjadi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Publikasi Terkait Lainnya