oleh

Bukan Tentang Menjadi Juara, Inilah 5 Cara Menanamkan Jiwa Kompetitif pada Anak!

Mengikutsertakan anak dalam sebuah kompetisi dapat memberikan banyak dampak positif pada anak. Seperti menumbuhkan rasa bangga dan percaya pada kemampuan diri anak, membuat anak lebih mengenali kemampuan dirinya, memotivasinya dalam hal ketekunan dan kedisiplinan, serta tentu saja menumbuhkan jiwa kompetitifnya.

Akan tetapi, orang tua harus berhati-hati, karena biasanya ambisi pribadi orang tua terlibat banyak dalam hal ini. Akibatnya, anak dituntut untuk menang. Hal ini dapat menjejakkan dampak buruk bagi perkembangan jiwa anak.

Anak akan mendapatkan tekanan mental yang cukup besar sejak persiapan kompetisi hingga akhir kompetisi. Akibatnya, ketika anak tidak berhasil menjadi pemenang, dia akan menyalahkan diri sendiri dan menunjukkan rasa kecewanya, baik langsung ataupun tidak langsung.

Jika hal ini terus terjadi, akan muncul dua kemungkinan. Anak menjadi rendah diri atau menjadi terlalu berambisi. Rasa rendah diri membuat mereka enggan berkompetisi. Sedangkan, terlalu ambisius, membuat anak sanggup melakukan berbagai cara untuk menjadi pemenang tanpa peduli lagi pada nilai sportivitas.

Ikut dalam suatu kompetisi memang tidak selalu tentang menjadi juara. Banyak sekali nilai-nilai baik lainnya yang dapat diperoleh dari mengikuti suatu kompetisi. Agar anak dapat memperoleh lebih banyak nilai manfaat dari mengikuti kompetisi, inilah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menanamkan jiwa kompetitif pada anak.

1. Menanamkan Konsep Positif tentang Kompetisi

Dalam kompetisi, selalu ada faktor yang terlibat, yaitu faktor ekstrinsik dan intrinsik. Contoh faktor ekstrinsik adalah kemenangan, piala, piagam, atau uang. Contoh faktor intrinsik adalah kegembiraan, pengembangan diri, pribadi yang kuat secara mental, tumbuhnya rasa percaya diri, dan lain sebagainya.

Anak harus diberi tahu tentang dua jenis faktor tersebut. Dengan demikian, anak akan memahami bahwa kesuksesan bukan hanya tentang memenangkan sesuatu, tetapi tentang proses dan usaha untuk meraihnya. Seandainya anak mengalami kegagalan, dia tidak akan menganggapnya sebagai masalah besar. Anak justru akan menggunakan pengalaman kompetisinya sebagai sesuatu yang memperkaya kekuatan mentalnya.

Baca Juga  8 Tips Tetap Hemat saat Lebaran dan Bebas Hutang
2. Menjadi Contoh yang Baik bagi Anak

Anak adalah peniru yang baik. Untuk mencontohkan bagaimana persaingan yang sehat kepada anak, orang tua dapat mengajak anak bermain bersama. Kemudian, orang tua dapat mencontohkan sikap yang baik pada saat mengalami kekalahan atau berhasil meraih kemenangan.

Anak yang lebih kecil mungkin masih sulit menerima kekalahan karena tingkat egonya masih tinggi. Namun, anak yang sudah lebih besar memiliki pikiran yang lebih terbuka, sehingga dia lebih dapat menerima situasi tertentu. Sertai dengan penjelasan bahwa di setiap kompetisi pasti ada yang kalah dan menang. Namun, poin terpenting dari sebuah kompetisi adalah pengalaman dan kegembiraan.

3. Memfokuskan Perhatian pada Proses, Bukan Hasil

Beritahukan kepada anak bahwa ketika memutuskan untuk mengikuti suatu kompetisi, maka dia harus siap melakukan proses menuju kompetisi tersebut. Jika dia bertanya, “Mengapa harus dia harus melakukan proses?”, maka katakan kepadanya bahwa tujuan utama kompetisi memang suatu proses. Proses itulah yang kemudian menghasilkan sesuatu, dalam bentuk kekalahan atau kemenangan. Tanpa ada proses, tentu tidak akan ada hasil.

Dengan begitu, anak akan mengetahui dan kemudian menyadari bahwa hasil akhir yang dia dapatkan sangat tergantung pada proses yang dilakukan. Seseorang tidak akan berhasil melakukan sesuatu jika dia tidak berlatih dengan tekun dan disiplin. Seorang juara selalu mengatakan, bahwa dia berhasil karena telah melakukan latihan dalam jangka waktu tertentu.

Proses latihan tersebut tidak hanya dilakukan sekali, tetapi bisa puluhan hingga ratusan kali. Dalam proses, sang juara pun pernah mengalami kekalahan. Ketika akhirnya dia menjadi juara, itu adalah hasil dari proses latihan yang telah dijalaninya.

4. Membangun Empati Anak

Kompetisi menjadi sehat jika orang tua juga mengajarkan kepada anak, cara membangun hubungan interpersonal yang baik melalui rasa empatinya. Cara menumbuhkan empati anak tidak bisa instan, harus dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari sejak dini. Anak harus merasa aman dan nyaman dulu dengan dirinya sendiri sebelum dia bisa berempati kepada orang lain.

Baca Juga  Tetap Anggun dengan Gaun Pengantin dan Riasan Wajah yang Syar'i

Empati berarti kita ikut merasakan apa yang dirasakan. Bisa merasakan kesedihan pada saat orang lain merasa sedih. Bisa ikut merasakan kebahagiaan pada saat orang lain merasa bahagia. Dengan empati, ketika anak menjadi juara, dia tidak akan takabur. Sebaliknya, jika dia mengalami kekalahan, dia dapat mengakui keunggulan lawan dan menerima kekalahannya dengan sportif.

5. Mengapresiasi Usaha Anak

Pahami bahwa kemenangan bukan segalanya. Ketika anak merasa sedih karena tidak meraih hasil yang memuaskan, maka orang tua wajib mengapresiasi semua usahanya. Teruslah memberi dorongan positif baginya. Katakan kepada anak bahwa dia telah mengusahakan yang terbaik. Ingatkan kepadanya bahwa kompetisi yang sehat bukan berfokus pada kemenangan, tetapi proses yang sudah dijalaninya.

Selain itu, mulailah menanamkan kepanya bahwa setiap perjuangan tidak akan sia-sia, karena dalam setiap prosesnya kemampuan anak akan terus berkembang. Perkembangan yang diperolehnya bukan untuk menjadi pemenang, tetapi untuk membuktikan kemampuan terbaik yang dapat dia lakukan.

Jiwa kompetitif seharusnya dapat mendukung anak untuk berkembang secara mental, bukan membuat mental mereka tertekan. Berkompetisi tidak berarti bersaing dengan orang lain, tetapi bersaing dengan dirinya sendiri. Anak harus mengusahakan untuk menjadi versi terbaik dari dirinya. Selayaknya, orang tua membantunya untuk memiliki jiwa kompetitif yang sehat. Omong-omong, kompetisi apa yang mau diikuti anak? Have fun and good luck!

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Publikasi Terkait Lainnya