by

Penyebab Indonesia Gagal Juara AFF yang Tidak Boleh Terulang

Ada banyak alasan mengapa Indonesia gagal juara AFF yang digelar beberapa hari yang lalu. Kegagalan-kegagalan inilah yang seharusnya menjadi bahan evaluasi pelatih dan PSSI, supaya di pentas yang sama dua tahun mendatang, Indonesia bisa meraih gelar juara.

Terdapat beberapa penyebab kegagalan Asnawi Mangkualam dan kawan-kawan di laga AFF tahun ini. Di antaranya ialah, mental juara yang masih kurang sehingga para pemain tidak bisa bermain dengan tenang dan akhirnya melepaskan banyak peluang. Nah, kalau Anda ingin mengetahui alasan yang lebih lengkap, silakan baca di sini:

1. Ikut Arus Permainan Lawan

Tidak dimungkiri, di laga final antara Indonesia versus Thailand, permainan Thailand memang cukup progresif. Umpan satu dua dari kaki ke kaki berjalan efektif dan efisien, sehingga cukup merepotkan pertahanan Indonesia. Dengan gaya permainan semacam ini tentu wajar, kalau Thitiphan dan kawan-kawan unggul di possession ball.

Sayangnya, Indonesia malah mengikuti arus permainan yang ditunjukkan oleh tim Gajah Putih. Hal ini terlihat saat Asnawi dkk memegang bola. Pemain langsung saja memberi umpan ke lapangan tengah hingga ke jantung pertahanan. Padahal, dari sisi kecepatan, pemain Indonesia masih sedikit di bawah pemain Thailand.

Seharusnya, Tim Nasional Indonesia men-delay bola ke sisi luar lapangan terlebih dahulu. Tujuannya untuk membuka skema permainan Thailand yang rapat agar sedikit melebar. Nah, selanjutnya, tim Indonesia bisa memainkan bola selama mungkin sambil mencari kelemahan pemain belakang lawan untuk memberikan umpan daerah ke depan kotak penalti.

2. Fisik yang Kelelahan

Penyebab Indonesia gagal juara AFF yang berikutnya ialah adanya kelelahan fisik yang sangat luar biasa. Sebab, sebelum Indonesia berjumpa Thailand di babak final, Arhan dan kawan-kawan harus meladeni Singapura di partai semi final. Ini adalah laga yang sangat menguras tenaga karena tim Indonesia harus bertanding selama 120 menit.

Baca Juga  Inspiratif, yuk Tiru Perjalanan Karir BTS yang Penuh Motivasi!

Seandainya ada sistem gol sudden death saat melawan Singapura, mungkin fisik pemain Indonesia ketika melawan Thailand tidak terlalu keteteran. Sebab, di menit awal perpanjangan waktu pertama, Indonesia sudah berhasil mencetak gol. Sayangnya laga masih tetap berlanjut sampai selesai 30 menit. Ironisnya, Thailand bermain full bertahan di laga semi final melawan Vietnam yang membuat fisik para pemainnya lebih terjaga.

Kelelahan fisik ini terlihat sangat jelas baik ketika Indonesia melawan Thailand di partai final leg pertama maupun leg kedua. Sedangkan pemain Thailand memiliki fisik yang lebih segar, sehingga bisa menghancurkan Indonesia di leg pertama dengan skor telak 4-0. Untunglah di partai final leg kedua Indonesia berhasil bangkit, hingga mampu menahan imbang Thailand dengan skor 2-2.

3. Tidak Ada Mental Juara

Lolos ke final selama 5 kali tetapi selalu menempati urutan kedua adalah nilai yang tidak cukup prestisius bagi timnas garuda. Seharusnya seluruh pemain, official dan PSSI sadar akan hal ini dengan memunculkan mental juara yang heroik. Bahkan tidak salah kalau laga final versus Thailand, dianggap sebagai laga perang yang harus diperjuangkan sampai titik darah penghabisan.

Ini tidak ditampakkan oleh pemain tim nasional Indonesia di laga final versus Thailand leg pertama. Indonesia benar-benar dihancurkan oleh Thailand, sehingga membuat para suporter Indonesia merasa marah.

Jika dilihat di laga tersebut memang sepertinya bukan Indonesia yang bertanding, karena greget permainan yang dimunculkan tidak sama seperti saat Indonesia menghancurkan Malaysia dengan skor telak 4-1.

Baru pada partai final versus Thailand leg kedua, Indonesia mulai bangkit. Bahkan di menit-menit awal Indonesia berhasil menunjukkan tajinya dengan mencetak gol ke gawang Thailand. Ini cukup mengagetkan Tim Gajah Putih karena di laga sebelumnya Thailand berhasil mendikte permainan. Sayangnya greget ini sudah terlambat, apalagi di babak kedua permainan Thailand berhasil bangkit dan mampu menahan seri tim Garuda.

Baca Juga  Biodata Pemain KKN di Desa Penari: Keren Semuanya Nih Pemain-Pemainnya
4. Striker Tidak Memiliki Naluri Gol Tinggi

Untuk even AFF dua tahun yang akan datang, pelatih Sin Tae Yong harus memperbaiki naluri gol striker yang buruk. Ini terlihat jelas saat pertandingan Indonesia versus Thailand di partai final AFF leg pertama. Yang mana, di pertandingan tersebut ada dua peluang, yang seyogjanya 99% bisa menjadi gol tetapi malah gagal dimanfaatkan oleh penyerang Indonesia.

Andai satu peluang saja bisa dikonversi menjadi gol, mungkin hasilnya akan berbeda. Dan ini juga diaminkan oleh si pelatih sendiri yang menurutnya, pengalaman dan naluri gol pemain sangat berpengaruh di laga tersebut. Ke depan pelatih harus mampu melahirkan striker Indonesia yang lebih tajam dan haus gol.

Selain itu, pemain tengah juga harus memiliki daya jelajah yang tinggi. Sehingga, mereka mampu berjibaku di lini tengah untuk memenangkan perebutan bola. Beban ini dipegang oleh Egi dan Evan Dimas yang di even AFF kali ini sering diturunkan sebagai pemain pengganti. Hanya di partai final versus Thailand saja keduanya diturunkan secara penuh.

Penyebab Indonesia gagal juara AFF di atas, tidak boleh terulang lagi di even-even yang akan datang. Terutama di partai AFF karena di partai ini, Indonesia belum sekalipun meraih gelar dan hanya berhasil menempati Runner Up sebanyak 6 kali saja. Sedangkan negara yang dianggap setara dengan Indonesia seperti Malaysia, Thailand dan Vietnam, sudah pernah mencicipi kejuaraan.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Publikasi Terkait Lainnya