oleh

Mengenali Tanda-tanda Bookshaming Melalui 9 Kalimat Ini

Bookshaming tentu berbeda dengan body shaming. Namun, keduanya sama-sama berdampak sama, yaitu memunculkan perasaan tidak nyaman bagi korbannya. Bookshaming adalah tindakan mengomentari buku bacaan seseorang sedemikian rupa, sehingga orang yang dikomentari merasa tidak percaya diri dengan bacaannya. Terkadang pelaku bookshaming tidak menyadari kalau perbuatannya merugikan, sehingga dia dapat berulang kali melakukannya.

Barangkali kamu pernah menjadi korban bookshaming atau tidak sengaja menjadi pelaku bookshaming. Agar lebih jelas seperti apa komentar yang termasuk kategori bookshaming, kamu perlu mengenali tanda-tanda bookshaming pada lontaran kalimat-kalimat seperti berikut.

1. “Sudah gede, tapi kok masih baca komik?”

Mengenali tanda-tanda bookshaming sebenarnya tidak sulit, karena banyak yang tanpa sadar melakukannya. Contohnya pada komentar yang beranggapan bahwa komik adalah bacaan untuk anak-anak semata. Banyak yang masih beranggapan demikian.

Pada kenyataannya, komik layak dibaca oleh siapa pun, mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa. Tentunya, komik yang dibaca harus disesuaikan dengan jenjang usia pembacanya. Sama seperti buku bacaan lain, komik merupakan media bersifat umum, sehingga pembacanya tidak hanya anak-anak.

2. “Ngapain baca buku cinta-cintaan? Baca buku sains, dong! Biar tambah pinter!”

Istilah book shaming merujuk pada orang yang suka menghakimi bacaan orang lain, karena menurutnya bacaan tersebut tidak akan memberikan hal yang sepantasnya diterima pembaca. Hal ini dapat terjadi ketika pelaku bookshaming merasa bacaannya lebih bermanfaat dibandingkan bacaan orang lain.

Misalnya, dia merasa membaca buku filsafat lebih berkualitas daripada membaca buku romance. Akibatnya, ketika ada orang membaca buku yang berbeda dengannya, dia akan men-judge orang tersebut dengan menghina bacaannya.

 3. “Bikin malu aja baca buku bekas. Memangnya kamu gak bisa beli buku baru?”

Membaca artinya memahami isi teks dan mendapatkan pengetahuan dari apa yang dibaca. Jadi, tidak ada persyaratan “harus membaca dari buku baru”. Lagipula, membeli buku bekas banyak kelebihannya, loh. Seperti mendapatkan buku bacaan yang baik dengan harga hemat, merupakan sikap ramah terhadap lingkungan, dan lebih berpeluang mendapatkan buku yang sudah sulit dijumpai di pasaran.

Baca Juga  Begini Susunan Acara Pelantikan OSIS yang Benar
 4. “Eeeh, anak kecil gak boleh baca buku tebel! Sana, cari buku tipis aja!”

Mengaitkan tebal-tipisnya bacaan dengan usia seseorang tidaklah bijaksana. Tidak ada aturan yang mengharuskan orang dewasa membaca buku tebal, remaja membaca buku setengah tebal, dan anak-anak membaca buku tipis. Selama isi bacaan tersebut sesuai umur pembacanya, tidak masalah buku tersebut tebal atau tipis. Buku kumpulan dongeng anak-anak sedunia adalah contoh buku tebal bagi anak-anak. Jadi, wajar saja jika anak-anak suka membaca buku tebal tersebut.

 5. “Jangan baca buku terus, nanti kacamatamu tambah tebel, loh!”

Anggapan seperti ini sebaiknya tidak ada lagi. Orang berkacamata (tebal) belum tentu dia gemar membaca. Dan, orang yang gemar membaca pun belum tentu berkacamata (tebal). Jika seseorang membaca dengan tepat, yaitu dengan jarak pandang yang pas dan penerangan yang cukup, ditambah kesehatan mata prima, kemungkinan kecil orang tersebut akan memakai kacamata, walaupun dia gemar membaca.

6. “Seharian cuma baca 10 halaman? Kalau aku, paling 1 jam sudah selesai baca.”

Membaca buku bukan kompetisi untuk membanding-bandingkan. Membandingkan banyaknya buku yang dibaca dalam waktu 1 bulan, membandingkan kecepatan baca, dan sebagainya. Bukan hal-hal semacam itu.

Namun, hingga saat ini masih ada anggapan bahwa kualitas membaca dihitung dari berapa banyak buku yang dibaca dalam kurun waktu tertentu. Harus disadari bahwa setiap buku memiliki bahasan yang berbeda. Bahasan yang sulit dipahami memerlukan waktu lebih lama untuk dibaca dibandingkan buku lain yang memiliki bahasan lebih ringan.

7. “Pengarangnya gak dikenal. Ngapain bukunya dibaca?”

Setiap bacaan pasti memiliki dampak pada pembacanya, baik fiksi maupun nonfiksi, baik pengarangnya terkenal ataupun baru terdengar. Mengapa? Karena membaca adalah kegiatan yang dapat membantu seseorang memperkaya pengetahuan dan wawasannya.

Baca Juga  7 Penyebab Hubungan Menantu dengan Mertua Tidak Harmonis

Orang yang suka membaca buku fiksi sering diremehkan karena masih banyak yang menganggap cerita fiksi hanyalah khayalan penulis yang mengada-ada. Padahal, di dalam cerita fiksi banyak nilai kehidupan yang dapat dipelajari. Begitu pula jika pengarang buku tidak terkenal, kecenderungan buku tersebut akan diremehkan. Bukankah sebaiknya baca dulu buku tersebut sebelum memberikan penilaian?

8. “Laki-laki kok baca novel? Sampai nangis? Cengeng banget!”

Mengenali tanda-tanda bookshaming melalui komentar yang “menyebalkan” ini, barangkali pernah kamu alami. Novel dapat berisi bacaan ringan untuk mengisi waktu luang, ada juga yang isinya merupakan bagian dari sejarah perubahan. Contohnya, novel-novel klasik berjudul Layar Terkembang, Siti Nurbaya, dan Salah Asuhan dianggap sebagai penentu tonggak kebangkitan nasionalisme dan feminisme di tanah air.

Banyak laki-laki yang menyukai novel tersebut. Di sekolah pun, anak laki-laki dan perempuan sering mendapat tugas membaca novel. Jadi, komentar bookshaming di atas sama sekali tidak berdasar, bukan?

9. “Bacanya jangan buku misteri terus, dong! Kalau temen-temen-mu menjauh, gimana?”

Setiap orang memiliki jenis bacaan kesukaannya. Sama dengan jenis makanan, tiap orang punya makanan favoritnya. Jadi, janganlah mencemooh jenis bacaan orang lain. Entah dia penyuka buku misteri, romance, karya klasik, komik, horor, detektif, sejarah, petualangan, dan sebagainya.

Selain itu, ada atau tidaknya seseorang mempunyai teman, tidak tergantung dari jenis bacaannya. Apakah orang yang suka membaca buku humor lantas mempunyai banyak teman? Tidak begitu juga, kan?

Setelah mengenali tanda-tanda bookshaming melalui kalimat-kalimat seperti yang disebutkan tadi, yang perlu kamu lakukan sekarang adalah tidak lagi melakukan bookshaming. Namun, jika kamu menjadi korbannya, cara termudah agar dirimu tidak kehilangan minat membaca adalah dengan mengabaikannya.

Baca Juga  5 Penyebab Kegagalan di Bidang Usaha Kuliner yang Perlu Kamu Ketahui!

Pelaku bookshaming biasanya tidak memiliki kebiasaan membaca. Jika kamu mengajaknya turut dalam kegiatan membaca, barangkali dia akan mengubah sikapnya. Seru kan mendapat tambahan teman yang memiliki hobi sama?

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Publikasi Terkait Lainnya