by

Dumbeg, Jajanan Tradisional yang Menjadi Khas dan Populer di Tuban

Eits, sudah tahu belum jajanan pasar yang satu ini?

Dumbeg, merupakan sebuah jajanan pasar tradisional yang berasal dari Rembang, Jawa Tengah, hingga menjadi popouler di Jawa Tengah dan Jawa Timur, kabupaten Tuban khususnya. Sebuah makanan tradisional yang terbuat dari tepung beras, kelapa dan gula yang dibungkus daun siwalan.

Hingga merambat ke daerah yang dijuluki bumi wali ini, karena Tuban juga merupakan wilayah yang banyak ditumbuhi pohon Siwalan, oleh karena itu penduduk memanfaat pohon tersebut dengan berbagai kerajinan maupun sebagai bahan makanan dan minuman. Nah, salah satunya adalah jajanan yang satu ini.

Sejarah singkat dumbeg

Sebelum bicara lebih jauh saya penasaran nih dengan asal mula dumbeg, kenapa bisa dinamakan dumbeg? Yuk kita simak ceritanya!

Nama dumbeg ternyata memiliki arti tersendiri yakni sebagai lambang laki-laki yang disebut dengan lingga. Menurut tradisi Jawa kuno, pasangan dumbeg adalah jadah yang kerapkali menjadi simbol perempuan. Sehingga kedua makanan tradisional tersebut melambangkan kesuburan dan tonggal dari peradaban manusia.

Jika kita mengorek sejarahnya, kita dapat menengok ke belakang pada jaman para wali. Pada abad ke 15 sampai 16, di Pulau Jawa bagian pesisir Utara pada saat itu menjadi sasaran dakwah para wali. Karena kawasan pantura sangat cocok sebagai pusat perdagangan.

Konon dumbeg ini menjadi makanan atau camilan favorit para wali. Selain itu juga menjadi suguhan para tamu yang datang ke rumah. Makanan tradisional ini tidak hanya populer di Jawa Tengah, tapi juga di Jawa Timur yakni Tuban, Lamongan dan Gresik.

Dumbeg khas Tuban

Bahannya yang sederhana dan murah namun dapat membuat perut cukup kenyang dan  menggugah selera. Makanan ini mempunyai ciri khas baik dari segi rasa maupun bentuk maupun rasa.

Baca Juga  Rekomendasi Tempat Wisata di Singapura yang Bagus dan Populer

Rasanya yang legit karena terdapat campuran gula merah, teksturnya kenyal karena terdapat campuran santan kental dan baunya harum dengan aroma daun siwalan, karena pembungkusnya menggunakan asli daun siwalan atau orang Jawa menyebutnya daun lontar.

Sedangkan yang menjadi ciri khas dari bentuknya, adalah pembungkusnya yang menggunakan daun siwalan dan dibentuk seperti terompet yang dililitkan, bagian ujung bawah dibentuk seperti segitiga sama sisi sebagai tumpuannya.

Cara pembuatannya isian dumbeg ini simpel banget, yuk kita intip bahan-bahan yang diperlukan:

Bahan-bahan yang digunakan adalah tepung beras, gula aren/ gula merah, daun pandan, garam dan santan.

Tapi cara membuat pembungkusnya yang terbuat dari daun siwalan ini, mungkin agak sulit karena butuh kekreatifan tangan kita agar terbentuk menjadi lebih bagus dan rapi. Kita simak dulu yuk, gimana sih caranya?

Kita siapkan daun siwalan dibelah menjadi dua dan diambil tulang daunnya agar tidak kaku, buat panjangnya  -+ 15 cm dan -+ 30 cm, bagian yang panjangnya -+ 15 cm dibuat bentuk segitiga sebagai tumpuannya.

Sedangkan bagian yang panjangnya -+ 30 cm disambungkan dan dilingkar-lingkarkan sehingga berbentuk kerucut. Pada ujung kerucut lontar dililitkan sebagai pengunci, Ingat, rangkaian harus rapat agar saat adonan dituangkan tidak bocor

Cara membuat adonannya pun cukup simpel:

Rebus air hingga mendidih ke dalam panci dengan api sedang, setelah air mendidih masukkan tepung beras secukupnya dan aduk merata jangan sampai menggumpal.

Kemudian masukkan gula merah/gula aren yang diiris halus agar cepat larut, aduk-aduk lagi agar tidak menggumpal, masukkan garam kemudian daun pandan agar adonan wangi.

Kalau santan disarankan untuk dimasukkan ke rute terakhir ketikan mau diangkat agar rasa santannya lebih kental, jadi pastikan rasa sudah pas baru dimasukkan santan kemudian aduk lagi.

Baca Juga  Pencinta Kopi Udah Tahu Belum? 4 Jenis Kopi Terbaik Lokal yang Mendunia Dari Indonesia

Boleh juga santan dibuat yang kental dan bening, jadi santan bening dimasukkan pada saat garam, sedangkan santan kental dimasukkan saat adonan akan diangkat dan didihan terakhir. Tekstur adonan harus sedang, jangan terlalu encer dan jangan terlalu kental, agar menghasilkan cetakan yang sempurna dan menarik.

Karena rasanya yang khas tersebut, sehingga disukai banyak kalangan mulai anak-anak sampai dewasa, selain harganya yang murah juga mudah ditemukan.

Jajanan tradisional ini tidak hanya ditemukan di pasar-pasar tapi juga di pusat oleh-oleh, biasanya di pasar-pasar kawasan kabupaten Tuban dijual dengan harga Rp. 1000 /buah, tapi kemasan sudah dalam bentuk ikatan yang menggunakan tali daun siwalan juga, satu ikat berisi 5 buah dumbeg.

Jika kamu belum pernah mencoba atau belum pernah melihat sosoknya, silahkan kunjungi di pasar-pasar tradisional Tuban dan sekitarnya. Jajanan ini bisa dibilang legendaris, karena sudah ada sejak tahun 70-an sampai sekarang.

“Ukuran kemasanya pun tetap sama sampai sekarang, soal rasa lebih nikmat jaman dulu,” kata salah seorang konsumen yang dari masa kecil sampai sekarang sebagai penggemar jajanan dumbeg ini, sekarang umur beliau sudah hampir 40 tahun.

Soal rasa lebih nikmat pada zaman dulu, maklum lah ya!

Zaman dulu dengan sekarang sangatlah berbeda. Mulai dari bahan makanan yang bisa dibilang murah dan mudah ditemukan tanpa harus membeli, alias memetik dari kebun sendiri seperti kelapa yang banyak orang memiliki pohonnya sendiri pada saat itu, bahan bakar yang masih menggunakan kayu sebagai tungku terkadang minyak tanah yang dibutuhkan tidak terlalu banyak sebagai bahan bakar kompor sumbu.

Meskipun terdapat perubahan rasa, tetap saja tidak meninggalkan rasanya yang khas daun lontar dan sampai sekarang masih banyak penggemar jajanan tradisonal ini.

Comment

Berikan Komentar Untuk Tulisan Ini

Artikel Terkait