by

Tunggu Saja, Hal-hal Menjelang Pemilu Segera Tiba dan Pasti Ada!

Hal-hal menjelang pemilu memang layak dibahas bahkan menarik kalau diulas secara detail. Uniknya, dinamika ini pasti melibatkan seluruh unsur masyarakat tanpa melihat status sosial, profesi, gender dan selainnya. Namun sayangnya, setiap menjelang pemilu pasti ada aktivitas-aktivitas negatif di dalamnya selain yang positif juga banyak.

Perlu diketahui, dua tahun lagi atau tepatnya tahun 2024, masyarakat Indonesia akan melangsungkan pemilu atau pemilihan umum untuk memilih presiden dan calon presiden yang baru. Nah, sebelum tiba ke masa tersebut, pasti ada kegiatan-kegiatan yang populer yang bahkan disebut sebagai pernak-pernik pemilu. Ini kegiatan yang dimaksud:

1. Kampanye Calon

Biasanya beberapa bulan sebelum pemilu, para calon akan melaksanakan kampanye demi memperkenalkan visi dan misi kerjanya. Di sini, pihak pemenangan akan memilih lapangan yang luas supaya bisa menampung ribuan para simpatisan. Setelah itu, si calon akan berbicara di depan orang banyak yang berisi janji-janjinya ketika terpilih.

Terkadang kampanye diiringi oleh hiburan-hiburan yang menyenangkan masyarakat. Sedangkan konser musik adalah hiburan yang paling sering digunakan para calon yang akan bertanding saat pemilu. Menariknya, para artis yang diundang biasanya memang dari kalangan simpatisan si calon bukan dari kalangan lawan.

2. Bagi-Bagi Kaos Gratis

Ketika menjelang musim pemilu, biasanya partai-partai politik mulai memborong kaos untuk diberikan kepada simpatisan. Tata cara membagikannya juga cukup unik, ada yang dibagikan pada waktu road show, kampanye tetapi juga ada yang diberikan langsung ke rumah-rumah penduduk. Tentunya yang membagikan adalah tim pemenangan, relawan dan simpatisan.

Yang paling sering membagikan kaos ialah pada waktu kampanye. Pasalnya pada waktu itu, kaos bisa langsung digunakan supaya bisa menjadi shock terapi bagi calon lawan. Bagaimana tidak akan gentar kalau ribuan orang di sebuah lapangan menggunakan kaos yang sama. Padahal, belum tentu orang-orang tersebut merupakan simpatisan dari calon yang berkampanye.

Baca Juga  Cerpen: KAMARKU TEMPAT KENYAMANANKU
3. Bakti-Bakti Sosial Menjamur

Ketika menjelang pemilu, kegiatan bakti-bakti sosial memang menjamur di tengah-tengah masyarakat. Strateginya bermacam-macam seperti santunan anak yatim, sunatan massal, bagi-bagi sembako dan lain sebagainya. Tentunya ini menjadi kampanye politik yang positif apalagi sampai diagendakan setiap saat.

Tentunya calon maupun partai akan menolak bakti sosial tersebut dianggap sebagai kampanye politik. Akan tetapi, mengingat agendanya yang berdekatan dengan pemilu, tentu masyarakat akan mengaitkan hal tersebut apalagi bakti sosial tidak dilakukan sebelum-sebelumnya. Makanya sekuat apapun untuk menyanggah, pandangan masyarakat tidak akan berubah.

4. Masa Tenang

Masa tenang adalah satu waktu yang diharapkan masyarakat tidak membangun opini buruk tentang pertarungan calon. Biasanya, masa ini diberlakukan satu atau dua hari sebelum hari H. Jika di masa orde baru, masa tenang benar-benar diawasi secara serius. Bahkan kabarnya ada aturan yang diberlakukan dan ada tindakan tegas kalau dilanggar.

Bahkan orang yang kumpul-kumpul di poskamling saja langsung diusir oleh aparat keamanan, sekalipun tidak membicarakan politik. Sesungguhnya aturan ini hanya sebatas kehati-hatian supaya tidak ada provokator yang menghasut masyarakat untuk membuat pemilu menjadi ricuh saja.

5. Politik Pencitraan

Politik pencitraan ialah para calon melakukan kegiatan-kegiatan yang sekiranya akan dibaca oleh masyarakat kalau dirinya itu baik. Padahal sebelum-sebelumnya kegiatan ini tidak pernah dijalankan. Biasanya, politik pencitraan ini dilakukan oleh personal atau si calon sendiri bukan tim sukses apalagi relawan.

Kalau melihat di televisi, politik pencitraan mulai bermunculan. Padahal pemilu masih panjang atau masih sekitar dua tahun lagi. Akan tetapi, ini sudah menjadi pernak pernik pemilu yang mana setiap personal pasti ingin mengambil stand lebih awal. Cuma ini tidak identik dengan kemenangan bahkan masih terlalu jauh sekalipun hanya sekadar membahasnya.

Baca Juga  Cerpen: Pengelana

Mungkin mereka takut dianggap sebagai pengekor atau strategi ini digunakan untuk membaca persaingan. Namun ini tidak melanggar hukum, selama di dalam politik pencitraannya tidak digunakan untuk merendahkan calon yang lain. Akan tetapi, kalau strateginya hanya untuk merusak calon lain, berarti politik yang digunakan politik yang busuk.

6. Berita Hoax/Palsu

Ada pernak pernik pemilu yang bersifat negatif yaitu munculnya berita hoax atau palsu. Tentunya, berita tidak benar semacam ini dibuat bukan tanpa alasan, tetapi memang digunakan untuk mengganggu posisi salah satu calon. Sekalipun demikian, semoga di pemilu yang akan datang, berita semacam ini tidak muncul karena efeknya bagi persatuan sangat membahayakan.

Yang sangat disayangkan, berita semacam ini menyasar ulama dan ustadz, bahkan juga menyerang agama. Kadang kasusnya sepele, yaitu masalah perbedaan partai dan bahkan perbedaan calon yang diusung saja. Pemilu memang menjadi euforia yang harus dinikmati oleh masyarakat, namun tidak juga dengan cara-cara yang tidak beretika semacam ini.

7. Foto Calon Di Mana-Mana

Ketika menjelang pemilu, jalanan tidak hanya ramai dengan kendaraan, tetapi juga ramai dengan foto-foto calon. Foto-foto ini dibuat dengan berbagai ukuran, dari yang paling besar hingga yang terkecil pasti ada. Pemasangan perangkat sebagai bentuk kampanye memang tidak masalah, selama tidak mengganggu para pengendara.

Akan tetapi kalau melanggar aturan jalan raya, maka pihak terkait harus memberikan tindakan tegas. Baleho atau foto tersebut harus diturunkan secara paksa karena nyawa orang di perjalanan lebih berharga daripada sekadar pesta politik. Tidak peduli dari partai apa dan siapa calonnya, kalau sudah melanggar harus ditertibkan.

Silakan dicermati dari hari ini sampai tahun 2024, pasti pernak pernik menjelang pemilu di atas akan disuguhkan kepada masyarakat. Namun dicamkan, di sistem demokrasi, masyarakat tetap memiliki hak menentukan calon sesuai hati nuraninya. Jadi, jangan jual hak tersebut hanya demi kaos dan sembako, karena yang dipertaruhkan adalah kehidupan lima tahun ke depan.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Publikasi Terkait Lainnya