by

Ingin Lebih Menarik? Ini Program-Program di Hari Santri Nasional

Setiap tanggal 22 Oktober, Indonesia merayakan Hari Santri Nasional. Biasanya setiap instansi dan lembaga sekolah diwajibkan untuk berpakaian ala santri yaitu menggunakan sarung, baju muslim dan berkopiah. Tentunya pegawai dan siswa yang diwajibkan ialah yang beragama Islam saja.

Tentunya, kebijakan ini cukup bagus dalam rangka refleksi bahkan kontemplasi tentang bagaimana perjuangan para santri ketika melawan penjajah. Apalagi keseruan perang 10 November di Surabaya yang pecah pasca ada resolusi jihad dari KH Hasyim Asyari. Jangan dilupakan, karena perang inilah, maka secara aklamasi kedaulatan Indonesia layak untuk diakui oleh masyarakat dunia.

Pertanyaannya ialah, apakah cukup hanya dengan berbusana ala santri lalu dinisbatkan sudah mengenang jasa para santri? Apakah tidak lebih baik, di hari itu, seluruh unsur masyarakat di-santrikan dalam hal perilaku dan kegiatannya. Terkait dengan hal tersebut, maka di bawah ini akan dijelaskan, program apa saja yang layak ada saat perayaan Hari Santri nasional. Ini program yang dimaksud:

1. Sholat Dhuha Berjamaah

Sholat Dhuha merupakan ibadah sunat yang dilaksanakan sendiri atau tanpa berjamaah. Tetapi jika nyantri di pondok pesantren, biasanya ini dilakukan berjamaah demi untuk melatih kebiasaan mereka. Nah, sesungguhnya tidak salah, jika lembaga sekolah non agama, dan institusi serta kedinasan, untuk menerapkan juga hal ini, toh hanya satu-dua hari saja.

Karena tidak dipungkiri, masih banyak masyarakat yang belum paham tentang tata cara sholat yang dilaksanakan demi kemurahan rizki tersebut. Termasuk doa-doa yang dilantunkan di dalamnya. Ini lebih bermanfaat daripada sekadar merayakan hari santri hanya sebatas meniru bajunya saja.

Bahkan kalau bisa, para pegawai, guru dan siswa harus menginap di kantor dan lembaga sekolahnya untuk melaksanakan Sholat Tahajud berjamaah. Artinya, suasana pondok pesantren dan santri, harus dibawa ke dalam instansi. Ini baru substansi dari kegiatan yang lebih bagus, untuk merayakan sebuah hari besar yang lahir dari peristiwa yang juga besar dan heroik.

Baca Juga  Cerpen: Misteri Hutan Terlarang
2. Mengadakan Lomba-Lomba Islami

Ketika bertepatan dengan tanggal 17 Agustus biasanya seluruh masyarakat mengadakan lomba-lomba tujuh belasan. Seperti sepak bola joget, tarik tambang, bola volly, lari bakiak dan lain sebagainya. Luar biasanya, yang melaksanakan kegiatan ini bukan hanya di kampung-kampung tetapi juga di kantor dan sekolah.

Seharusnya, ketika ada hari santri, maka juga harus diadakan even semacam ini dengan lomba yang islami. Seperti lomba tartil Quran antar kantor, lomba adzan, lomba cerdas cermat keislaman antar instansi, lomba pidato dan lain sebagainya. Tentunya ini menjadi sebuah kegiatan yang bagus dan pasti ditunggu-tunggu.

Dijamin, Hari Santri tidak hanya melahirkan kebahagiaan ala santri saja tetapi juga kekhusu’an yang bagus. Dan ini juga bisa dijadikan sebagai momentum untuk membangun psikologi dan mental santri di dalam jiwa masyarakat. Paling tidak, di dua hari atau tiga hari tersebut, kecerdasan terkait agama Islam semakin meningkat.

3. Menonton Film Sejarah Resolusi Jihad

Sekarang ini banyak masyarakat tidak paham tentang sejarah resolusi jihad. Yang mereka tahu Hari Santri Nasional hanya identik dengan sarungan dan apel santri saja. Makanya wajar, jika di setiap upacara, resonansinya tidak segemuruh ketika upacara tujuh belasan atau hari pahlawan.

Oleh sebab itu, seharusnya di setiap masuk Hari Santri, harus diagendakan pemutaran film sejarah terkait Resolusi Jihad. Jadi, hari terpilih tersebut, tidak hanya dijadikan sebagai seremonial semata. Kalau ini dilaksanakan, tentunya siapapun pelaksananya boleh berkoar kalau telah merefleksikan perjuangan para santri di Hari Santri.

Lain daripada itu, kegiatan nobar ini juga bisa dijadikan sebagai alat refreshing terutama para guru dan pegawai. Sehingga kerumitan pekerjaan bisa sedikit dilupakan diganti menjadi pikiran yang lebih nyaman dan rileks. Efek selanjutnya, mereka pun bisa kembali bekerja dengan optimis, berprestasi dan minim kesalahan.

Baca Juga  Cerpen: Miss You Too
4. Tutup Semua Pintu Kemaksiatan

Ketika tiba hari santri, maka tutup semua pintu kemaksiatan. Karena idealisme dari santri sendiri adalah melaksanakan amar makruf nahi mungkar. Nah, ini merupakan tugas pihak berwajib baik dari kalangan Kepolisian, TNI, maupun dari sipil seperti Satpol PP. Yang dimaksud pintu kemaksiatan di sini seperti warung minuman keras, prostitusi, karaoke dan sejenisnya.

Tentunya menjadi hal yang sangat ironis, ketika masyarakat merayakan hari santri, pintu-pintu ini tidak ditutup. Berarti hari santri tersebut hanya ada di retorika saja namun tidak membekas ke dalam jiwa. Pertanyaannya ialah, tidak mampukah penutupan dilakukan selama satu dua hari saja? Kalau tidak bisa, bagaimana ingin menutup secara permanen?

5. Pegawai, Guru dan Siswa Ngaji Kitab Kuning

Resolusi Jihad dikeluarkan oleh KH Hasyim Asyari yang merupakan pendiri komunitas umat Islam terbesar di Indonesia, yaitu Nahdhotul Ulama yang disingkat NU. Pesantren NU identik dengan kitab kuning, dan inilah yang dibelajarkan kepada para santri. Nah, sesungguhnya ini merupakan ruang untuk melahirkan program Hari Santri Nasional yang menarik.

Program yang dimaksud ialah, mengagendakan seluruh pegawai dan siswa sekolah yang beragama Islam untuk mengaji kitab kuning. Silakan diundang para ulama-ulama NU ke instansi maupun lembaga sekolah untuk mengajarkan tentang hal tersebut. Sekalipun hanya satu dua hari, tetapi pasti ada hasil yang didapatkan selain pahala yang besar.

Sekarang, sudah waktunya menjadikan Hari Santri Nasional sebagai momentum untuk menyantrikan seluruh umat Islam. Termasuk di dalamnya pegawai kantor, guru, dan siswa sekolah. Karena ketiga unsur inilah yang paling getol dan taat mengikuti setiap kebijakan terkait hari yang spesial tersebut. Diharapkan dengan nyantri satu dua hari, bisa menghilangkan keinginan untuk menjadi oknum di dalam pekerjaan untuk selama-selamanya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Publikasi Terkait Lainnya