by

Cerpen: KAMARKU TEMPAT KENYAMANANKU

Setelah bel pulang sekolah berbunyi, saya langsung pulang kerumah dengan perasaan badmood.

“Elin,kenapa wajahmu seperti itu?”Tanya Bibi Ririn

“Tidak ada kok, Bi. Lagi badmood saja.”

Saya langsung ke kamar dan mengganti baju. Selesai menganti baju dan membereskan buku-buku pelajaran sekolah, saya langsung berbaring di kasur dan mulai memutarkan lagu kesukaanku.E ntah kenapa saya rasa hatiku ini sangat sunyi sekali, seperti tidak ada rasa bahagia dan menyenangkan yang membuat saya nyaman dengan diri saya sendiri. Saya rasa harus mencarikan orang yang membuat saya nyaman.

Sudah sebulan berlalu, saya belum menemukan orang yang pas untukku.

Saya mulai menyerah saja dan membiarkan hatiku ini terasa sunyi.

Saat di tengah perjalanan pulang di persimpangan,saya bertemu dengan sahabat SD saya yang sudah lama pindah rumah dan akhirnya bisa bertemu lagi, hati saya bahagia melihat sahabat saya sudah kembali.

“Kamu Elin kan?Apa kabar? Waa,kamu sudah tinggi saja, dulu itu kamu pendek dari aku, sekarang kamu lebih tinggi dari aku. Btw..sudah lama ya kita tidak bertemu lagi, sudah 4 tahun berlalu,kini sekarang kita udah SMA aja.”

“Allhamdulillah saya baik baik saja, iya sudah lama sekali kita tidak bertemu dan tidak berkomunikasi lagi. Saya kangen sama kamu, kamu juga apa kabar?”

“Allhamdulillah saya baik juga.”

Kami asik mengobrol hingga saya lupa waktu untuk pulang kerumah,s aya berpamitan dengannya dan pulang ke rumah.Hati saya yang sebelumnya sunyi kini kembali ceria lagi.

Esok harinya, seperti biasa saya berangkat ke sekolah.

Bel berbunyi, semua siswa-siswi masuk ke kelasnya masing-masing. Saya terkejut melihat guru bersama sahabat saya di kelas. Ternyata sahabatku ini pindah lagi di sini dan bersekolah dengan saya, saya sangat senang akhirnya saya mempunyai teman lagi.

“Halo semuanya, perkenalkan nama saya Meliza Nan Zoeya, kalian bisa memanggil saya Melza, salam kenal semuanya.”

“Halo,Melza, salam kenal juga”Teriak para siswa siswi kelasku.

Aku tersenyum ke arah Melza, dan Melza juga tersenyum kepadaku.Alangkah bahagianya hatiku ini. Para siswa siswi mulai memperkenalkan diri ke Melza dan saya juga, walau saya dan Melza sudah saling kenal.

Hari haripun telah berlalu, kini Melza lama kelamaan mulai agak menjauh dariku. Saya yang mulai mengetahui itu ,tapi saya tidak berani bertanya kenapa Melza seperti itu. Biasanya Melza selalu bersamaku dan tidak seperti sekarang. Walaupun Melza itu sahabatku tapi sebagai sahabat tidak boleh mencurigai sahabat sendiri, dan tidak memaksakan sahabat untuk berteman baru lagi, itukan haknya dia.

½bulan kemudian, Kini Melza sudah mulai berubah, bukan seperti Melza yang saya kenal lagi. Dia sudah mulai membuat gengnya yang bernama”MeNdaSniFiAh”singkatannya Melza, amiNda, jeSni, saFina, ifAh. Memang nama gengnya terdengar susah bilangnya apalagi diingat.

Melza ingin saya memasuki gengnya, tapi saya menolaknya, karena saya tidak suka hal-hal yang kotor, apalagi membuat kelompok seperti itu. Saya ingin mengingatkan dia, tapi dia merupakan sahabat saya satu satunya, dan saya kenal Melza orangnya seperti apa, jadi saya tidak menghiraukannya dan percaya dengannya.

Saat hendak dalam perjalanan ke rumah saya lihat Melza dan gengnya memarahi adik kelas dan memukulnya. Apa mungkin adik kelas itu ada salah yang membuat geng Melza marah, saya kembali kerumah dan saya diam sejenak di sofa memikirkan kejadian tadi, apa mungkin mereka ada maksud lain, itu terus muncul diisi kepala saya.

2 hari kemudian tepatnya hari Minggu, saya melihat Melza lagi, kini Melza lagi bermesraan sama om-om itu, apa dia akan berhubungan. Pikiran negatifku sudah semakin parah, dan kini saya perlu mengawasi Melza dan perlu tau, biar pikiran negatifku hilang. Dan Melza bukan orang seperti itu dan mungkin saja itu adalah pamannya.

Saat saya melihat lebih dekat lagi, saya terkejut melihat Melza mulai memanaskan, saya melihat adegan itu langsung berlari dan beristighfar.

“Astagfirullah, apa Melza lakukan itu, saya harus memberi tahunya, kalau perbuatan itu terlarang.”

Esok harinya, bel istirahat, Melza sendirian dan gengnya ke kantin duluan. Ini waktu yang pas untuk saya memberi tahunya.

“Mel, boleh kita bicara berdua saja sebentar?”

“Oke,  silahkan mau bicara apa?”

“Sebenarnya saya mau menasihati kamu kalau kamu tidak boleh berbuat keji seperti kemarin, saya harap kamu berubah seperti dulu lagi yang aku kenal”

“Maksud kamu itu apa? Kamu ngintip ya?”meletakkan handphonenya.

“Oke..oke..tenang, saya harus berani, dia itu sahabatku, aku harus memberitahunya sekarang, kalau dibiarikan malah makin parah”(batinku).

Dan saya mulai memberanikan diri dan menceritakan masalahnya dengan jujur dan benar, tapi saat saya bercerita sedikit Melza terus memotong pembicaraan saya, tapi saya terus melanjutkannya. Selesai bicara itu, Melza malah makin marah-marah,bukannya sadar akan perbuatannya.

“LO ITU KENAPA SIH!SUKA-SUKA AKU DONG, BUKAN URUSANMU, KENAPA? KAMU TAKUT, KALAU SAHABATMU INI TELAH BERBUAT KEBURUKAN DAN KEJAHATAN?”

Baca Juga  Cerpen: Bukan Bab Patah Hati

“Bukan begitu,  kamu itu harus mendengar penjelasan saya dulu, jangan memotong pembicaraan aku terus, saya ini bermaksud berbuat baik dan mengingatkan kamu, emang benar kamu itu sahabatku dari SD, tapi saya ingin kamu sadar akan perbuatanmu itu.”

“HALAH.. MENDING LO ITU URUSIN AJA SENDIRI, NGATUR-NGATUR HIDUP ORANG.”

“Saya seperti ini karena saya cemas dan khawatir dengan kamu, Mel. Aku takut masa depanmu hancur berantakan dan suatu saat kamu akan menyesal”

“APA! MENYESAL? HAHA,L O AJA YANG MENYESAL, SEWOT BANGET JADI ORANG.”

“Melza sadarlah, perbuatan burukmu itu sudah melampaui batas, banyak dosa-dosa yang kamu perbuat seperti pelac*r, saya tidak suka kamu seperti itu dan menjahati orang-orang yang tidak bersalah termasuk adik kelas.”

“SOK ALIM LO, MENDING CERAMAHNYA DI MASJID BUKAN DI SINI, SALAH TEMPAT LO YA?DARIPADA SEPERTI INI TERUS, MENDENGAR OCEHAN KAMU YANG GA PENTING, MENDING PERTEMANAN KITA SAMPAI SINI AJA DEH. SAKIT KEPALA GUE TAU..HUBUNGAN PERTEMANAN KITA SAMPAI DI SINI AJA. PUASS LO SEKARANG,ELINA DWI SAFITRII!!(Pergi meninggalkan kelas dengan perasaan marah dan kesal)

“Melzaa~”

Sejak hari itu, hubungan pertemanan saya dengan Melza sudah retak, saya tidak pernah lagi bersapaan dengannya apalagi ketemuan, malahan tatap mata sekejap saja dan saling menghindar. Sekarang saya mulai kesepian lagi, lagi, dan lagi. Hatiku hancur berantakan, tapi kucoba memendamkan rasa tangisanku ini.

Sekarang hari-hariku sunyi lagi, setiap hari saya kerjaannya sekolah-pulang,s ekolah-pulang saja. Saya ingin bertemu ibu dan ingin sekali memeluknya lagi, ibuku meninggal saat aku masuk SMP, karena ibu meninggal akibat kanker dan ayah sudah lama bercerai dengan ibu, karena ayah sudah tidak tahan melihat ibu penyakitan. Saya tidak punya siapa-siapa lagi selain hanya ada Bibi Ririn (adik dari ibuku), yang menjaga saya dari dulu hingga sekarang dan Bibi menganggap saya sebagai anaknya, karena Bibi Ririn tidak dikaruniai seorang anak dan Paman(istri dari Bibi Ririn)meninggal karena akibat kecelakaan saat bekerja.

Saya ingin mengadu kejadian ini dan perasaan saya ini kepada ibu tapi saya hanya bisa berdoa saja. Saya ingin curhat ke Bibi, tapi Bibi selalu sibuk bekerja karena mau mencari uang untuk biaya sekolahku dan untuk masa depanku, jadi ga sempat curhat. Dan saya selalu memendamkannya.

Tidak ada lagi yang bisa aku bercerita sepuasnya dan menangis sejadi-jadinya hanya selain tuhan saja yang saya bisa berbicara, tapi saya susah sekali berbicara seperti kaku kalau mau membicarakan masalah apalagi menulis tentang masalah, padahal saya mau gitu berbicara dan menulis.Tapi saya tidak jadi dan membiarkan masalah saya pendam dengan sendirinya. Saya hanya bisa nangis sambil tiduran dan menutup kepala dengan bantal, agar tidak kedengaran tangisanku ini.

Hanya tempat ini yang bisa saya menangis sekencang-kencangnya dan seperti rasa sudah ada orang yang mau mendengar ceritaku walau hanya didalam hati saja bukan ke orang lain. (Entah mengapa kalau bicara ke orang atau menulis seperti susah sekali giliran bicara masalah dalam hati bisa dan mudah)

Lama kelamaan, saya seperti menyukai kamarku ini, kamarku ini memberikan kenyamanan bagiku dan selepaskan rasa sedihku yang kupendam selama ini. Sudah bertahun-tahun saya menangis di kamar dan baru inilah yang saya sadar dan mulai menyukai kamarku ini. Tempat inilah yang membuat saya nyaman sekarang.

Seminggu kemudian, saya seperti mendapatkan semangat hidupku ini, sepertinya saya harus berubah menjadi terbaik lagi dan menjaga attitudeku ini. Saya mulai mempelajari motivasi di buku dan di internet. Sekarang isi handphoneku ini menjadi isi motivasi dan kata kata mutiara yang bagus untukku, dan saya sudah menemukan hobi baruku yaitu mendesain kamarku supaya saya nyaman terus melihatnya, dan suka mempelajari hal-hal yang baru dan menyelesaikannya.

__

Tak terasa setahun sudah berlalu, kini saya sudah berada di kelas 12. Di kelas 12 ini saya mulai giat belajar untuk persiapan ujian nanti dan semoga masuk universitas yang saya inginkan.

Saat masuk kelas, saya tidak melihat Melza lagi dan terdapat gengnya saja. Saya mencoba menanyakan mereka, walau apapun jawaban dari mereka.

“Permisi, kenapa Melza tidak sekolah lagi? apa Melza pergi berliburan?”

“Oh Elin, kau cari Melza ya? Melzanya ga bakalan sekolah di sini lagi, dia sudah berhenti”Jawab dari Ifah

“Kalau boleh tau, kenapa Melza berhenti sekolah?”

“Kamu ga tau ya, kalau Melza mengidap penyakit kanker, dan sudah lama dia masuk ke rumah sakit, sejak kenaikan kelas ini dia sudah masuk rumah sakit aja dan karena ga lekas sembuh juga akhirnya orangtuanya Melza mengajukan kepala sekolah untuk berhenti sekolah, soalnya sudah kelas 12 banyak ujian dan persiapan kan, olehnya Melza ga sembuh-sembuh dan lama banget, akhirnya ya berhenti sekolah aja, kalau melza sembuh, dia akan tetap sekolah di sini tapi tetap kelas 12 aja. Sayang ya kalau dia jadi adik kelas kita haha….oh iya lupa, kalau kau sama Melza bukan temenan lagi” Jawab dari Safina.

Baca Juga  Cerpen: Pandemi Merugikan Atau Menguntungkan?

“Kalau boleh tau dimana rumah sakit yang sekarang Melza tempati?”

“Nah kurang tau”Jawab dari Safina

“Lah bukannya kalian temennya Melza ,masa ga tau rumah sakitnya dimana, emang kalian tau dari mana kalau Melza sakit dan dia berhenti sekolah? dan kenapa kalian ga menjenguk Melza?”

“Kami tau dia sakit dan berhenti sekolah saat dia chat kami dan katanya dia sakit dan berhenti sekolah, tapi kami tidak bertanya rumah sakit mana, sebab kami tidak peduli. Kami hanya bertanya dia sakit apa dan kenapa berhenti sekolah,itu saja .Dan untuk apa menjenguk orang penyakitan seperti Melza dan pelac*ur seperti dia, malahan kita saja jijik melihatnya sekarang, saat dia kirimkan foto ke kami. Karena jijik lihatnya sekarang kami blok kontaknya Melza,agar dia tidak bisa lagi deh chat kita terus dan bertanya-tanya kapan kalian menjengukku.”Jawab dari Jesni

“Emang Melzanya seperti apa sekarang?coba lihat fotonya yang dikirimkan ke kalian saya mau lihat.”

“Kami tidak ada lagi foto yang dikirimkannya, karena kami hapus. Jijik tau lihat fotonya. Mending kamu lihat sendiri deh. Bukannya kamu ga temenan lagi sama Melza? Untuk apa khawatir sama orang yang menghancurkan persahabatannya sendiri dan dia saja suka menggunjing kamu terus, bilang kalau kamu itu hanya boneka baginya saja. Melza itu hanya berteman sama kamu agar dia ga merasa kesepian dan Melza hanya berteman pas butuhnya doang. Giliran kau kesepian dianya tinggalin kamu begitu doang. Itu namanya bukan sahabat yang baik, kamu aja yang kira kalau selama ini Melza itu orang yang baik tapi buktinya dia itu tinggalin kamu begitu aja, baik di depan tapi dibelakang hatinya busuk. Jadi kamu ga usah lagi deh khawatir sama dia, kalau kau ga percaya tanya saja sama siswa-siswi kelas kita ini, mereka semua tahu.”Jawab dari Aminda

“Apa benar Melza mengatakan seperti itu?”

“Hadeuh, kau ini ga percaya, oke kalau gitu”

“Semuanya yang ada di kelas ini, saya mau menanyakan 1 hal nih,a dakah Melza ngomongin keburukan Elin ke kalian?”Teriak Jesni

“Iyaa adaa” Teriak semua siswa-siswi di kelas

“Si Melza bilang apa saja ke kalian, biar si Elin tau”

“Melza bilang kalau si Elin itu orangnya bawel, sok alim, cerewet, tukang ngintip, anak piatu, ayahnya tukang selingkuh dan nikah lagi ,ibunya penyakitan, baginya Elin itu hanya boneka baginya, cengeng, kerjaannya sekolah-pulang aja ga ada kerjaan gitu, sukanya ngatur ngatur hidup orang, anak rumahan kerjaannya main hp teross, orangnya ga asik gitu, sok polos, kesepian ga ada temen, kata Melza bosan..aku terus jadi temennya, aku ini hanya berpura-pura menjadi sahabatnya saja, si Elin mudah percaya banget jadi orang dan masih banyak lagi deh kata-kata Melza ke kami”Teriak siswa-siswi satu per satu kata.

“Kapan Melza bilang begitu, kok saya ga tau tentang itu?”

“Sudah lama sejak kau ga bertemanan dengan Melza, dan Melza suka ngomongi kau di belakang selama ini. Dan kenapa kamu selalu ga punya temen, karena Melza yang menyuruh kita agar ga usah bertemanan sama kamu, dan menjauh darimu, karena Melza benci denganmu karena dia bilang kalau ibu Elin tukang ngutang, dan ibu Elin meninggal dan terpaksa keluarga Melza pindah karena di sana ada kerjaan dari ayahnya. Sebenarnya kata Melza, dia ga suka utang uang dari orangtuanya terus, apalagi orangtuanya baik sekali dengan ibunya Elin, kata Melza,orangtuanya kasihan melihat ibunya Elin yang terkena penyakit kanker dan membiayai dan menafkahi Elin, karena ayahnya cerai. Dan uang orangtuanya untuk keluarga Elin saja ga usah dibayar dan sebagai sedekah. Jadi katanya dia ingin kamu membayar uang dari orangtuanya dan jadinya kamu menderita dan kesepian, biar utang ibu kamu udah lunas.”

“Nah kamu sudah mendengarnya kan semuanya? Apa kamu ga percaya, apa telingamu ga kedengaran atau peka, apa mungkin kami harus ngulanginya keras-keras biar kamu tau dan percaya gitu, kami begini karena kami peduli denganmu, dan memberitahumu semua.”Jawab Ifah dan Aminda.

“Sudah cukup, saya percaya kok omongan kalian. Terima kasih ya sudah peduli kepadaku dan mau memberitahuku semuanya. Saya permisi izin pergi ke toilet dulu.”(Pergi meninggalkan kelas dan menuju ke toilet)

Mendengar perkataan siswa-siswi lainnya dan perkataaan gengnya Melza, saya sakit hati, selama ini saya hanya dianggap boneka olehnya bukan dianggap sebagai sahabatnya, dia hanya mau berteman dengan saya karena dia dulu kesepian, dan juga dia ingin saya rasa kesepian agar utang ibu saya lunas.

Saya merasa kecewa dan kenapa saya bodoh banget dan percaya dengan ya begitu aja. Apalah dayaku ini, sudah dibohongi dan menghina saya di depan siswa-siswi lainnya dan menyebarkan keburukanku dan keluargaku, saya masih saja ada perasaan kasihan dengannya karena dia sakit. Melza boleh saja membicarakan keburukan saya, tapi janganlah membicarakan keburukan orangtua saya apalagi ke semua orang.

Baca Juga  Cerpen: Akar Berpulas Tak Patah

Pulang sekolah saya menangis sekencangnya di kamar dan mengadu kejadian menyedihkan ini, walau hanya teriak di dalam bantal saja. Saya tidak menyangka Melza berani berbuat seperti itu kepadaku. Tapi saya sabar saja, ini cobaan yang berat untukku, saya terima saja nasib ini dan memaafkan kesalahannya. Untuk menghilangkan rasa sedihku ini saya hanya perlu kata tamparan online yang cocok untuk suasana seperti ini dan memutarkan musik ceria dan santai bukan musik galau.

Semenjak Melza sakit, mantan geng Melza mengganti nama gengnya menjadi Lady Buddy.

Sehari kemudian, saya ingin menjenguk Melza, walau semua siswa-siswi di kelas saya tidak menyetujui saya menjenguk Melza. Tapi saya nekad menjenguk Melza dan tidak perduli dengan omongan orang di sekitarku. Tapi saat saya ingin menjenguk Melza, saya tidak tahu dimana rumah sakitnya, saya bertanya-tanya sama tetangga rumahnya Melza tapi mereka tidak tahu sama sekali.

Dan saya mulai mencari di rumah sakit di sekitar sini dan bertanya ke suster itu mencari pasien bernama Melza. Tapi di rumah sakit itu tidak ada pasien bernama Melza. Saya terus menanyakan setiap rumah sakit di tempat saya.

Seminggu kemudian, saya sudah mencatat nama-nama rumah sakit di sekitar sini dan hanya satu rumah sakit yang belum saya kunjungi, karena rumah sakit itu jauh sekali,t api saya nekad pergi kesana untuk menjenguk Melza.A khirnya sama menemukan pasien bernama Melza. Tanpa basa basi, saya langsung menuju kamar Melza yang diberikan oleh suster itu.

Saat saya mengetuk dan membuka pintu,saya terkejut melihat keadaan dan penampilan Melza. Rambutnya gundul karena kanker dan badannya kurus sekali, tapi saya tidak menertawakannya malahan saya merasa iba kepadanya. Melza yang melihatku langsung menangis di hadapanku,dia sekarang sudah menyesal atas perbuatannya, dia ingin saya mau memaafkan atas kesalahannya, dan saya sudah memaafkan kesalahannya dari dulu. Setelah itu Melza mengucapkan pesan terakhir kepadaku.

“Elin, kamu itu orangnya sangat baiknya ya, padahal saya jahat sekali padamu. Kamu masih sempat menjengukku, tapi teman-temanku tidak ada yang menjengukku satupun, kecuali kamu saja. Aku menyesal sudah mengakhiri hubungan persahabatan kita.

Saya harap waktu berjalan mundur, saya pasti bisa merubah semua perbuatan saya dan kita masih berteman sampai sekarang. Tapi itu tidak bisa diubah lagi, waktu telah berlalu.Hiks..hiks..saya ingin kamu menjaga diri baik-baik ya, walau ga ada aku. Kamu jangan nangis terus dan jangan cengeng seperti anak kecil lagi, saya mau kamu bahagia dan menemukan orang atau tempat yang membuatmu nyaman, saya harap kamu bisa masuk universitas yang kamu impikan sejak dulu, rajinlah belajarnya semangat terus dan saya ingin kamu mempunyai teman yang baik kepadamu bukan seperti aku.. Ini adalah pesan terakhirku untukmu.

Terima kasih ya sudah menjadi sahabatku dari SD dan sudah menjengukku, pasti kamu capek mencari-cari rumah sakit yang saya tempati. Dan maaf ya atas perkataan dan perbuatanku selama ini,terimakasih ya sahabatku~”Tiba-tiba sesak napas dan…

Aku yang melihat itu, langsung memanggil dokter dan kedua orangtua Melza datang, saat dokter memeriksa Melza, kata dokter itu Melza sudah tiada, saya langsung menangis memeluk Melza erat-erat dan berteriak memanggil nama Melza, saya tidak percaya Melza sudah pergi begitu saja. Saya melihat orangtua Melza menangis atas kepergian anak perempuan satu-satunya.

Saat Melza tiada, saya teringat pesan terakhir yang Melza katakan, saya akan menuruti perkataannya itu dan tidak akan menangis lagi.S aya pasti yakin kalau saya menuruti perkataannya, Melza akan tenang dan bahagia di atas sana.

1 tahun kemudian.  Impian saya menjadi kenyataan, saya diterima masuk universitas yang saya inginkan dari dulu dan saya telah menemukan teman yang baik kepadaku.

Saya juga masih menganggap kamarku menjadi tempat kenyamananku.D an saya sudah menuruti semua perkataan Melza.

Saya berziarah ke makam Melza dan sekalian berziarah ke makam ibu saya, saya berdoa dan menceritakan bahwa saya sudah diterima masuk universitas dan bertemu teman baru yang baik, dan saya harap ibu dan Melza bahagia disana dan tidak mengkhawatirkan aku lagi.

Saya akan giat belajar agar menjadi pengusaha dan berutang Budi kepada Bibi Ririn, karena sudah merawat saya dari dulu hingga sekarang dan menjadi beban Bibi Ririn.

Dan kamarku selama ini menjadi tempat kehangatanku dan kenyamananku.

_(Selesai)_

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment

Berikan Komentar Untuk Tulisan Ini

Artikel Terkait