oleh

7 Risiko Jadi Pengangguran, Pahami dan Hindari ya Sobat!

Beberapa praktisi sosial mengatakan, kalau esensi kemanusiaan akan terakui jika si manusia tersebut memiliki pekerjaan alias tidak menganggur. Pandangan ini ada benarnya juga karena jika tidak bekerja tentu manusia tidak akan mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Di sisi lain, juga ada resiko jadi pengangguran yang terbilang cukup menyakitkan.

Pengangguran terbagi menjadi dua yaitu menganggur karena memang sulitnya lapangan kerja, sedangkan yang kedua karena memang malas untuk berikhtiar. Nah, sedangkan yang dimaksud risiko pengangguran di sini ialah pandangan masyarakat secara umum, yang dinisbatkan pada kalangan-kalangan yang dimaksud. Ini risiko tersebut:

1. Mendapatkan Cap Buruk dari Masyarakat

Orang yang pengangguran otomatis akan mendapatkan cap buruk dari masyarakat, terutama yang secara usia sudah masuk ke usia kerja. Nah, hukum sosial semacam ini lebih pedih daripada hukum pemerintah karena nisbatnya akan terjadi terus menerus selama yang bersangkutan masih belum mendapatkan pekerjaan.

Bahkan ada yang secara sarkas mengatakan kalau pengangguran tidak lebih dari “sampah” masyarakat. Kadang saking jengkelnya ada sebagian warga yang menegur orang tersebut agar segera mencari kerja. Nah, tak ayal, ini kadang menjadi konflik akibat rasa tidak nyaman, merasa harga dirinya tercoreng dan lain sebagainya.

2. Diputuskan Hak-Hak Sosialnya

Ada beberapa orang yang sejatinya tidak ingin bergaul dengan orang yang menganggur. Bahkan seluruh keluarganya pun dilarang untuk akrab dengan orang tersebut, dengan argumen takut mengajarkan tentang hal yang tidak baik. Jika sudah seperti ini, maka interaksi sosial menjadi rusak.

Yang paling miris adalah ketika tetangga ada hajatan, maka orang yang masih menganggur tidak akan diundang ke acara tersebut. Padahal yang lain mendapatkan undangan secara resmi. Tentunya ini hal yang menyakitkan karena sudah tidak lagi dianggap sebagai tetangga yang secara sosial harusnya disamaratakan.

Baca Juga  Cara Memulai Bisnis Makanan Online Paling Marak Saat Ini

Maka dari itu, carilah pekerjaan yang sesuai dengan bakat minat serta keilmuan. Setelah mendapatkan tekuni dan cintai pekerjaan tersebut supaya Anda benar-benar lebur di dalamnya. Alhasil, tidak ada lagi keinginan untuk berhenti karena di satu sisi, menganggur memang merupakan satu kenyamanan yang semu karena tidak perlu lelah beraktivitas.

3. Sulit Mendapatkan Pasangan

Di dalam konteks kekinian, tentunya argumentasi masyarakat paling minimal yang akan dijadikan calon pasangan bagi anaknya adalah mereka yang memiliki pekerjaan tetap. Itu artinya, orang yang menganggur akan kesulitan untuk mendapatkan pasangan, karena selalu mendapatkan penolakan-penolakan dari orang tua insan yang diincarnya.

Sejatinya jodoh itu urusan riski dari Allah yang tidak bisa ditawar lagi. Cuma di sisi ini pemikiran materialistik kadung menghegemoni masyarakat terutama di kalangan perkotaan. Nah, untuk mengidealkan antara doa dan ikhtiar, maka penuhi kemapanan diri demi menyambut jodoh dengan cara bekerja sekalipun penghasilannya belum sesuai yang diharapakan.

4. Menimbulkan Kecurigaan dari Masyarakat

Terkadang ada orang kaya yang terlihat tidak bekerja akan mendapatkan kecurigaan-kecurigaan dari masyarakat. Mereka menyangka bagaimana orang tersebut mendapatkan harta toh tidak ada penghasilan yang kasat mata. Padahal kadang, mereka bukan tidak bekerja tetapi memang pekerjaan tidak terlihat seperti menjadi pebisnis online.

Orang yang seperti itu saja masih mendapatkan kecurigaan, apalagi yang benar-benar menganggur. Tentunya kecurigaan itu akan menjadi bola panas, disebabkan tidak ada bantahan dari yang bersangkutan. Kalau sudah seperti ini, maka kehidupan serasa tidak bersahabat bahkan diri akan terlempar dari pergaulan.

5. Akan Dijauhi di Dalam Pergaulan

Risiko jadi pengangguran yang berikutnya ialah akan dijauhi di dalam pergaulan. Dirinya sendiri pun enggan bergaul terutama dengan masyarakat lain yang notabene memiliki pekerjaan tetap. Sungguh tidak ada kebanggaan di dalam hidup semacam ini, karena sejatinya manusia terikat dengan sosial kemasyarakatan minimal di kampungnya.

Baca Juga  7 Langkah Cerdas untuk Menjadi Penulis Profesional yang Dibayar

Jika sudah tidak dianggap di dalam pergaulan, tentu interaksi sosial juga buntu. Semisal tidak akan bisa berhutang, enggan meminta bantuan tetangga, tidak diikutsertakan di dalam kegiatan-kegiatan kampung dan lain sebagainya. Makanya, jika sudah siap terjun ke masyarakat, langkah pertama ialah bekerja.

6. Stres dan Frustasi

Bagi orang yang sibuk mencari kerja tetapi belum mendapatkannya, tetap jangan patah semangat dan teruslah berdoa dan berusaha serta jangan sampai stres. Sebaliknya, bagi yang malas bekerja, sadarilah karena ada masanya ketika usia sudah tidak lagi memungkinkan untuk diterima kerja. Nah, di sini kadang muncul frustasi yang luar biasa.

Pengangguran karena malas bekerja akan benar-benar mendapatkan tekanan secara psikis dan sosial. Ini yang terkadang membuat konsentrasi berpikir menjadi hilang. Sebuah alasan mengapa orang yang di-PHK juga rawan stres jika tidak segera mendapatkan pekerjaan yang baru.

7. Muncul Pikiran Menghalalkan Segala Cara

Setiap manusia pasti ingin mencukupi segala kebutuhan hariannya. Akan tetapi, jika malas untuk bersusahpayah dalam bekerja, tentu dikhawatirkan ada keinginan untuk menghalalkan segala cara. Bagi mereka yang terpenting mendapatkan uang dengan mudah sekalipun dengan cara-cara yang tidak bermoral.

Banyak sekali kasus kejahatan yang mana si pelakunya sejatinya tidak memiliki pekerjaan. Mereka sudah kadung getol dengan caranya sekalipun dilarang oleh agama dan hukum pemerintah. Tentunya mereka beralibi, kalau hanya pekerjaan itulah yang dia bisa. Padahal yang namanya pekerjaan adalah hasil jerih payah tanpa harus menyakiti orang lain.

Nah, risiko jadi pengangguran di atas, sejatinya tidak diinginkan oleh siapapun yang berpikir normal dan sehat. Untuk itu, bagi usia kerja, memiliki pekerjaan adalah harga mati tanpa melihat status pekerjaan dan finansial yang didapatkan selama halal dan tidak merugikan orang lain. Maka dari itu, bekerjalah karena sesungguhnya dengan  bekerja Anda sudah menjadi manusia.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Publikasi Terkait Lainnya