oleh

5 Penyebab Kegagalan di Bidang Usaha Kuliner yang Perlu Kamu Ketahui!

Membuka usaha di bidang kuliner adalah sebuah pilihan yang sangat banyak diminati orang, karena bisa dimulai dengan modal kecil dan merupakan jenis usaha yang tidak mengenal musim. Orang akan selalu membutuhkan makanan walaupun dalam keadaan ekonomi sulit atau di tengah pandemi. Banyaknya orang yang tertarik untuk membuka usaha kuliner menyebabkan persaingan di bidang ini menjadi sangat ketat.

Sayang sekali, pejuang-pejuang bisnis kuliner ini pada perkembangannya banyak yang terpaksa berhenti di tengah jalan dan menderita kerugian yang seringkali tidak sedikit. Di antara mereka bahkan banyak yang mengalami berkali-kali mengganti jenis makanan yang dijual dan tetap tidak berhasil. Supaya tidak mengalami kegagalan yang sama, kita perlu mengetahui 5 penyebab kegagalan di bidang usaha kuliner.

1. Salah Memilih Lokasi

Sebelum membahas tentang rasa, penampilan dan harga makanan, hal yang lebih penting adalah lokasi atau tempat berjualan makanan. Bagaimana orang akan tahu tentang rasa atau harga makanan jika tempat berjualannya saja sulit ditemukan?

Pilih lokasi berjualan sesuai dengan jenis makanan yang akan kita jual. Jika kita akan menjual makanan untuk anak-anak muda seperti burger, kebab, siomay atau bakso, maka kita harus memilih tempat berjualan di sekitar kampus, sekolah, taman-taman terbuka, atau tempat berkumpulnya anak-anak muda lainnya.

Jika produk makanan kita adalah berbagai jenis lauk matang seperti gudeg, pepes, atau aneka jenis soto, maka kita harus memilih tempat berjualan di dekat pasar, kompleks perumahan, atau tempat-tempat berkumpul ibu-ibu yang lain, karena sasaran pembeli kita adalah ibu-ibu yang tidak memasak.

Pentingnya pemilihan lokasi ini terutama jika kita bermaksud untuk berbisnis kuliner dengan cara penjualan langsung. Kita juga harus memilih tempat berjualan yang ramai dan mudah terlihat. Untuk penjualan secara daring melalui media sosial atau aplikasi ojek, maka tempat yang ramai tidaklah terlalu penting.

Baca Juga  8 Kesalahan Dalam Berniaga yang Bikin Pebisnis Bangkrut

Spanduk yang besar dengan warna menyolok lebih penting agar mudah ditemui oleh pengemudi ojek. Kita sering menemui tempat berjualan melalui aplikasi ojek, yang letaknya di dalam gang kecil tetapi tetap laris, hanya bermodalkan sebuah spanduk yang besar.

2. Gambar atau Spanduk yang Tidak Menarik

Gambar atau spanduk sangat dibutuhkan bagi tempat berjualan makanan, baik yang berjualan secara langsung ataupun secara daring. Spanduk yang tidak menarik dan kurang eye catching membuat calon pembeli malas untuk singgah. Pilihlah spanduk dengan warna dan gambar yang menyolok dan tetap mudah dilihat walaupun di malam hari.

Jika memilih untuk berjualan secara daring melaui media sosial ataupun aplikasi ojek, maka gambar atau foto makanan menjadi unsur yang sangat penting. Kita bisa mempelajari cara membuat foto-foto makanan yang bagus secara cuma-cuma, di saluran youtube atau memakai jasa fotografer khusus makanan, yang banyak tersedia dengan biaya terjangkau.

Berjualan melalui aplikasi ojek online, juga harus menguasai cara-cara melakukan promosi dengan memberikan potongan harga atau bonus makanan. Jasa untuk melakukan promosi dalam aplikasi ojek online juga bisa kita dapatkan dengan mudah saat ini.

3. Nama Produk Makanan yang Tidak Menjual

Percaya atau tidak, ternyata banyak orang yang membeli suatu makanan hanya dari namanya. Jadi, pendapat yang mengatakan “Yang penting rasanya” saat ini tidak terbukti kebenarannya. Ciptakan nama yang keren, agak nyeleneh, dan membuat orang menjadi penasaran.

Daripada hanya memberi nama “Ayam geprek pedas” mungkin “Ayam geprek sambal dower” akan lebih menjual. Kita tentu tidak menyangka, bahwa kegalagalan dalam usaha kuliner bisa saja hanya disebabkan oleh pemilihan nama produk makanan yang tidak tepat.

Baca Juga  5 Aplikasi Belajar Matematika Android yang Akan Membuat Anda Mahir Berhitung
4. Kekurangan Pada Rasa Makanan

Sebelum memulai usaha berjualan makanan, sebaiknya kita melakukan uji coba berulang kali untuk membuat makanan yang akan dijual, hingga menemukan formula yang pas dengan rasa yang enak. Bandingkan juga dengan hidangan sejenis yang dijual oleh para kompetitor.

Saat ini banyak sekali pedagang atau pakar-pakar memasak yang sudah berbagi resep melalui saluran youtube. Peluang ini bisa dimanfaatkan untuk menciptakan produk makanan yang lezat dan bisa bersaing di pasaran. Satu hal penting lainnya adalah masalah konsistensi rasa. Banyak produk makanan yang rasanya berubah-ubah sehingga pembeli malas untuk kembali lagi.

5. Kesalahan dalam Pengelolaan Keuangan

Kita sering melihat bahwa banyak usaha kuliner yang sudah berjalan dengan baik dan penjualannya berkembang pesat, lalu tiba-tiba gulung tikar. Hal ini tidak hanya terjadi pada usaha kuliner kecil-kecilan atau rumahan, tetapi juga yang sudah mempunyai nama besar.

Salah satu penyebab terjadinya hal tersebut adalah kesalahan dalam pengelolaan keuangan. Buatlah perencanaan keuangan yang jelas sebelum memulai usaha. Jangan mengira bahwa usaha rumahan yang dimulai dengan modal kecil tidak membutuhkan rencana pengelolaan keuangan.

Pelajari cara mengelola keuangan dari berbagai buku atau internet. Para pakar di bidang keuangan banyak yang membagi ilmu secara cuma-cuma, asalkan kita mau mempelajarinya. Jangan menyerahkan urusan keuangan kepada karyawan yang tidak dikenal dengan baik, apalagi pada masa awal berjualan.

Jika usaha kita sudah berjalan dengan stabil selama beberapa waktu, jangan terburu-buru menggunakan keuntungan yang sudah didapat, untuk melakukan pengembangan usaha dengan memperbanyak produk makanan atau membuka cabang. Lebih baik menjaga dan mempertahankan usaha yang sedang berjalan, daripada terburu-buru melakukan pengembangan usaha.

Baca Juga  3 Tujuan "Negosiasi" Yang Perlu Anda Ketahui

Dengan mempelajari berbagai penyebab kegagalan dalam usaha di bidang kuliner, tentunya dapat kita jadikan pelajaran agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Di luar semua penjelasan di atas, untuk menjadi pebisnis kuliner yang sukses, kita juga harus mempunyai mental baja yang tidak mudah menyerah dan siap bangkit jika mengalami kegagalan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Publikasi Terkait Lainnya