by

Pernyataan-pernyataan Mendasar Filsafat yang Paling Populer

Filsafat merupakan cara berpikir untuk menemukan kebenaran sebuah ilmu. Tanpa kehadiran filsafat, mungkin ilmu tidak akan menjadi maju disebabkan oleh tidak adanya pemikiran-pemikiran baru untuk memperbaharui temuan keilmuan sebelumnya.

Nah untuk itu, tentunya ada pernyataan-pernyataan mendasar filsafat (epistemologi), yang menjadi dasar acuan berpikir secara filsafati.

Terkait dengan argumentasi di atas, maka saya akan mencoba untuk menguraikan pernyataan paling fundamental yang memungkinkan orang bersedia berpikir secara filsafat. Dan selama manusia masih berpikir, maka sejatinya dia telah berfilsafat sekalipun secara verbatim dan ideologi, mungkin dia menolak filsafat. Ini dia pernyataan-pernyataan yang dimaksud:

1. Dalam Filsafat, Kemunculan Ilmu Diawali dari Pertanyaan

Pernyataan mendasar filsafat yang pertama adalah kemunculan ilmu pasti diawali dari pertanyaan. Tanpa pertanyaan, mungkin ilmuan zaman dulu tidak akan tertarik untuk melakukan riset, demi melahirkan sebuah ilmu pengetahun yang kelak akan berguna untuk kehidupan masyarakat.

Kita ambil contoh, Sir Issact Newton tidak mungkin menemukan teori gravitasi, kalau dia tidak bertanya tentang berapa kecepatan benda yang jatuh dari atas dengan ketinggian tertentu. Thomas Alva Edison pun tidak akan bisa menemukan lampu pijar, kalau si ilmuan tidak bertanya bagaimana cara agar masyarakat tidak tinggal di dalam kegelapan.

Seorang tukang bangunan tidak akan mengetahui cara membuat tangga dari besi, kalau tidak didasari pertanyaan bagaimana cara paling aman bagi tukang untuk naik ke lantai dua dan seterusnya. Intinya, semua ilmu yang muncul pasti didasarkan pada pertanyaan-pertanyaan.

2. Dalam Filsafat, jangan Pernah Berhenti Mencari Tahu

Di dalam filsafat, tidak cukup Anda sebatas bertanya tetapi juga harus terus mencari tahu. Adagium masih ada langit di atas langit menandakan kalau masih ada banyak pengetahuan yang harus terus digali sepanjang hayat sekalipun esensi yang ada, tidak ada seorang pun manusia yang pengetahuan di dalam pikirannya sudah penuh dan selesai.

Baca Juga  Hal-hal Apa Saja yang Dilakukan Setelah Lulus Atau Gagal SNMPTN

Mencari tahu di sini bisa dengan membaca buku, belajar dari pengalaman, mendengarkan dialog dan selainnya. Namun, ingat esensi filsafat adalah mencari tahu pada informasi-informasi yang masuk akal (logis) dan tidak bertentangan dengan pengalaman (empiris). Maka dari itu, filsafat tidak bisa digunakan untuk menafsirkan agama karena agama memiliki logika dan empiris yang berbeda.

Bagi siapapun yang mencari kebenaran agama melalui filsafat, maka yang ada dia akan tersesat bahkan menjadi ateis. Apakah seorang ateis itu mencoba melogikakan perjalanan Rasulullah, dari Masjid Nabawi Madinah ke Masjid Al Aqsa Palestina hanya dalam waktu sepertiga malam? Hanya keimanan kita yang membenarkannya karena akal manusia tidak akan mampu menjangkaunya.

3. Dalam Filsafat, Semua Benar Hanya Dari Sudut Pandang Berbeda

Jika ada tiga orang buta, dan dipaksa untuk menafsirkan seekor gajah, maka masing-masing dari ketiga orang buta tersebut langsung memegang tubuh gajah. Orang yang pertama memegang gading, orang yang kedua memegang telinga sedangkan orang yang ketiga memegang kaki.

Ketika ditanya seperti apa gajah tersebut, maka orang yang pertama akan menjawab gajah seperti tulang yang kuat, orang yang kedua akan mengatakan gajah lembek dan bergelambir, sedangkan orang yang ketiga menyatakan gajah tinggi seperti tiang listrik. Akhirnya ketiga orang buta ini bertengkar karena saling mengakui kalau dirinyalah yang paling benar.

Orang yang berfilsafat sejatinya seperti tiga orang yang melihat dengan jelas alias tidak buta, tetapi memegang tubuh gajah secara berlainan. Tentunya, pertengkaran tidak akan pernah terjadi, karena ketiganya tidak mengklaim kebenaran melainkan sepakat semuanya benar cuma melihat dari sudut pandang berbeda. Ada yang dari sudut pandang taring, telinga dan kaki gajah.

Baca Juga  Bosan Belajar Online? Ini 5 Tips Belajar Daring Agar Tetap Semangat Selama Pandemi Covid-19

Konsep berpikir semacam ini yang sejatinya harus dimiliki oleh manusia. sehingga tidak ada egosentris dan permusuhan yang muncul. Sayangnya, masih banyak manusia yang menolaknya sekalipun penolakan pun sejatinya mereka telah berpikir filsafat ya selama masih dia berpikir.

4. Dalam Filsafat, Ilmu Dibangun atas Dasar Berpikir Logis dan Empiris

Pernyataan-pernyataan mendasar filsafat yang berikutnya ialah, ilmu pasti dibangun di atas dasar berpikir logis dan empiris. Logis berarti ilmu yang dirancang harus didasari pada konsep berpikir tertentu, sedangkan empiris ialah dasar pengambilan sebuah ilmu harus sesuai dengan pengalaman manusia.

Contoh yang paling dasar adalah “ilmu parenting” yang mengkhususkan diri pada keluarga. Ilmu ini pasti muncul dari asas pikiran logis, yaitu “kalau keluarga tidak diatur dengan baik, pasti akan menimbulkan keretakan dan kehancuran”, misalnya perceraian akibat perselingkuhan. Logika membenarkan hal tersebut, baik setelah Anda membaca buku, bertanya maupun selainnya. Lantas apakah dasar pengambilan kesimpulan ini sesuai dengan kaidah empiris atau pengalaman?

Maka kembali kepada diri kita, apakah hidup ini sudah memberikan contoh peristiwa yang membenarkan logika di atas atau tidak. Tidakkah banyak keluarga memang hancur karena perselingkuhan yang berujung perceraian? Nah di atas dua dasar inilah, maka muncul ilmu parenting yang sejatinya untuk menjaga keluarga agar tetap harmonis dan baik.

5. Filsafat adalah Metode Berpikir Bukan Aliran Pikiran

Filsafat sejatinya hanya metode berpikir bukan aliran pikiran. Maksudnya adalah, filsafat hanya jalan untuk manusia mempermudah menemukan kebenaran lalu menjadi bijaksana atas kebenaran yang sudah didapatkan. Sedangkan filsafat sebagai aliran pikiran, adalah sebuah kebenaran falsafi saklek yang terkadang digunakan untuk merusak kebenaran yang lain.

Ketika filsafat dijadikan sebagai aliran pikiran, maka lahirlah filsafat sosial ala Marxisme, Filsafat komunis ala Mao Tse Tung dll yang justru dilarang untuk dihadirkan di Indonesia. Sedangkan filsafat sebagai cara berpikir, tentu selama manusia tersebut masih berpikir, berarti dia telah bersinggungan dengan filsafat.

Baca Juga  5 Cara Membuat Ringkasan Materi Anti Bosan

Itulah pernyataan-pernyataan mendasar filsafat yang populer baik di kalangan akademisi maupun masyarakat luas. Namun, camkan cara berpikir filsafat hanya bisa diterapkan pada ilmu seperti ilmu politik, sosial, seni, budaya, sejarah dan selainnya. Sedangkan agama tidak membutuhkan filsafat, karena agama adalah pengetahuan yang didasarkan pada wahyu yang hanya bisa dijelaskan dari sisi keimanan bukan semata akal.

Penulis : Agus Heriyanto

Gravatar Image
Saya adalah seorang penulis artikel online yang telah menekuni profesi selama 8 tahun lebih. Ini Saya lakukan semata untuk memberikan informasi yang berharga kepada seluruh pembaca online di seluruh Indonesia.

Comment

Artikel Terkait