by

Inilah 3 Tradisi di Nusantara yang Jarang Diketahui!

Nusantara memiliki arti atau menggambarkan sebuah wilayah kepulauan yang membentang dari sabang sampai merauke. Hal ini menyebabkan banyaknya suku di wilayah Nusantara hingga melahirkan suatu tradisi di Nusantara.

Tradisi ini biasanya akan dijaga secara tumurun karena ini merupakan warisan budaya dan dapat menjadi sebuah pengetahuan bagi para penerus. Selain itu, tradisi pun mengajarkan toleransi yang sangat kuat. Hal ini karena setiap tradisi memiliki sejarah serta mengandung makna tersendiri. Lalu apa saja 5 tradisi Nusantara yang jarang diketahui?

1. Tradisi Gigi Runcing, Suku Mentawai-Kalimantan
Menilik Uniknya Tradisi Gigi Runcing Sebagai Tanda Kecantikan Suku Mentawai | Sahabat Lokal
adira.co,id

Tradisi pertama berasal dari Suku Mentawai, tepatnya dari wilayah Kalimantan. Setiap wilayah memiliki standar kecantikan tersendiri, begitupun dengan Suku Mentawai. Biasanya para perempuan dari suku ini, memiliki kebiasaan yang unik untuk mempercantik diri mereka.

Kebiasaan atau tradisi tersebut mencakup, tubuh yang dipenuhi oleh tato, telinga yang panjang dan gigi yang runcing. Meruncingkan gigi, dianggap atau dipercaya sebagai pelengkap atau menambah kecantikan dari perempuan Suku Mentawai ini.

Mungkin kamu bertanya, mengapa harus meruncingkan gigi? Ini ternyata ada sejarahnya loh! Seperti yang sudah dikatakan di awal sebuah tradisi lahir pasti memiliki sejarah dan makna tersendiri bagi mereka yang percaya.

Sejarah

Masyarakat Suku Mentawai meyakini bahwa manusia itu memiliki dua bentuk atau wujud, dimana dua wujud ini tidak akan musnah. Dua wujud ini terdiri dari tubuh dan arwah. Mereka pun percaya, jika mereka tidak menyukai bentuk fisik mereka, maka mereka akan terkena penyakit.

Sehingga mereka perlu untuk menyukai diri mereka dan tradisi meruncingkan gigi ini, dilakukan agar para wanita dari Suku Mentawai merasa cantik sehingga umur mereka panjang dan mereka bahagia.

Baca Juga  Ingin Sekolah Gratis? Berikut Tips Mencari Beasiswa dan Lolos Seleksinya

Selain itu, tradisi ini dilakukan oleh perempuan yang akan segera menikah atau sudah siap menikah. Hal ini menandakan bahwa mereka adalah perempuan yang sudah dewasa dan juga cantik.

Mereka pun menganggap semakin runcing gigi perempuan di sana, maka semakin cantik lah mereka. Meruncingkan gigi pun bukan hanya dianggap sebuah simbol kecantikan, melainkan dapat menjadikan tubuh maupun jiwa mereka seimbang.

Kepercayaan ini tentunya dilakukan dan dipercayai secara tumurun. Meskipun, sekarang perempuan dari Suku Mentawai diberikan kebebasan untuk meruncingkan gigi mereka atau tidak. Namun, tradisi ini masih dipegang erat oleh istri dari orang penting atau orang yang paling dihormati di sana.

Proses Meruncingkan Gigi

Kamu pernah membayangkan mengkerik gigimu? Pasti mendengar kalimat tadi saja kita sudah ngilu duluan, bukan? Lalu bagaimana caranya perempuan dari suku ini dapat bertahan ketika melakukan tradisi tadi?

Nah, para perempuan dari suku ini biasanya akan menggigit buah pisang yang masih mentah ketika proses peruncingan khan. Hal ini dilakukan untuk mengurangi rasa sakit dari meruncingkan gigi. Tahukah kamu, untuk meruncingkan gigi saja memerlukan waktu kurang lebih 30 menit dan gigi yang diruncingkan ada 23 gigi.

Proses peruncingan ini pun dilakukan tanpa istirahat, paling hanya rehat untuk menghela nafas saja setelah itu proses ini pun dilakukan kembali. Lalu siapakah yang membantu para perempuan dari Suku Mentawai untuk meruncingkan gigi?

Orang yang melakukan ini ternyata bukan sembarangan, melainkan oleh ketua adat sendiri. Alat yang digunakan pada proses ini merupakan sebuah besi atau kayu yang sudah diasah dengan tajam. Proses ini memang menyakitkan tetapi ternyata tradisi ini memiliki makna yang dalam.

Baca Juga  Bukan Hanya karena Uang Saja, Ini Seharusnya Alasan Luhur Menjadi Guru

Dimana makna yang terkandung dalam proses ini adalah setiap rasa sakit yang dirasakan oleh para perempuan Suku Mentawai, diharapkan dapat membawa mereka kepada penemuan jati diri dan pendewasaan.

2. Tradisi Brobosan, Jawa
Tradisi Brobosan, Bentuk Penghormatan Terakhir Masyarakat Jawa
goodnewsfromindonesia.id

Brobosan ini berasal dari suku Jawa, dimana tradisi ini dilakukan ketika upacara kematian. Tradisi ini dilakukan dengan cara menerobos atau berjalan secara bergantian di bawah keranda yang diangkat tinggi (mulai dari sebelah kanan, lalu sebelah kiri, lalu ke depan dan kembali ke posisi awal yaitu di sebelah kanan), hal ini dilakukan sebanyak tiga kali.

Brobosan tidak dilakukan pada upacara kematian orang sembarangan, biasanya dilakukan kepada seorang tokoh atau sesepuh. Hal ini dilakukan karena mereka percaya bahwa hal ini akan mendapatkan keberkahan.

Selain itu, apabila tradisi ini dilakukan pada seseorang yang memiliki ilmu yang tinggi, maka ilmu dari seseorang yang meninggal tersebut akan turun kepada orang yang melakukan tradisi brobosan. Namun, bila dilakukan kepada jenazah yang memiliki umur panjang, maka mereka percaya hal ini akan mempengaruhi umur keluarga maupun saudara yang ditinggalkan.

Tradisi ini pun, dilakukan untuk menghibur keluarga yang ditinggalkan dan sebagai suatu bentuk penghormatan yang terakhir kali dilakukan untuk jenazah. Biasanya, brobosan dilakukan di halaman rumah sebelum dimakamkan.

Lalu ubo rampe atau makanan dalam sesajen akan disiapkan, biasanya disiapkan oleh kerabat dan dibantu oleh para tetangga. Setelah itu, dari pihak keluarga akan berpidato untuk meminta maaf kepada orang-orang yang datang, mewakili orang yang sudah meninggal. Lalu setelah itu, alam ditutup oleh doa bersama lalu melakukan tradisi Brobosan.

3. Tradisi Menggelitik Al-qur’an, Bali

Di pulau ini ternyata tersimpan Alquran yang sudah berumur, bahkan dapat dikatakan tertua dan akan dibuka ketika bulan Muharram, tepatnya pada tanggal 9-10 Muharram. Nantinya, Alquran ini akan diarak (Menggelitik) mengelilingi kampung Bugis sebanyak tiga kali oleh penduduk kampung Bugis.

Baca Juga  4 Bahan Ajar Membaca Permulaan pada Anak Selama Belajar di Rumah

Prose arak ini dimulai dari Masjid lalu ke utara dengan membaca doa dan shalawat. Lalu pada tanggal 10 Muharram, penduduk kampung Bugis biasanya akan mengadakan syukuran. Nah, tradisi ini dilakukan untuk menolak bala.

Hal ini dilakukan karena pada zaman dahulu, daerah ini sering terkena wabah penyakit sampai akhirnya leluhur mereka melakukan tradisi ini, hingga daerah itu pun tidak terserang wabah penyakit lagi. Hal ini pun masih rutin dilakukan sampai sekarang.

Tradisi di Nusantara memang unik dan memiliki sejarah serta makna tersendiri. Sehingga menjadi suatu ciri khas bahkan suatu identitas suatu bangsa. Dari ketiga tradisi di Nusantara ini, mana yang benar-benar baru kamu ketahui?

Comment

Artikel Terkait