Cerpen: Kamu Bukan Jodohku

“Num, kenapa bengong?” Aku terkejut dengan Ruri yang tiba-tiba sudah di sampingku, padahal dia tadi pergi keluar untuk mengangkat telpon bang Rahmat, calon suaminya. Seperti kata Ruri mereka akan menikah

Cerbung: Nur Jannah (Part 5)

Jarum jam menunjukkan angka 10, awan gelap tampak begitu tebal menutup langit pagi. Sanah hanya berdiri di depan pintu rumahnya, mencoba menerka-nerka akankah hujan turun atau tidak? Dalam hati Sanah

Cerbung: Nur Jannah (Part 4)

Surat Nur Wa’alaikumsalam Alhamdulillah aku dalam keadaan sehat tak kurang satu apapun, begitu juga kuharap semoga Allah selalu melindungi bang Hasan. Suratmu telah kuterima, aku sangat bahagia mendapat surat darimu,

Menggenggam Semu

Menggenggam Semu Oleh: Rahma Riza Adalah kita Penyembunyi rasa yang tak pernah utarakan rasa Hanya mata saling tatap Dibaliknya, kita tahu cinta menggelora bagai samudra Adalah kita Dua kepala yang

,

Cerpen: Hilang, Namun Dia Ada!

Sepi, malam seakan alunkan nyanyian duka, gesekan dedaunan bagai suara rintihan jiwa-jiwa yang mengambang, dentingan waktu seakan menandakan akan datangnya ketakutan itu, lebih dalam dan lebih dalam lagi. Dia masih

Cerpen: Akhirnya Ke Turkey Juga

Tidak ada kata-kata yang mampu meluapkan rasa bahagianya. Syukur itu terlalu dalam, dia menghirup udara belahan dunia lain itu dengan sangat pelan, menikmati detik perdetik disetiap helaan nafas. Tak disangka

Cerbung: Nur Jannah (Part 3)

Seminggu yang lalu! Gampong Seberang tampak cerah hari ini, riuh burung-burung seolah bertasbih mensyukuri hangatnya sinar matahari pagi. Jarum jam menunjuk angka 08.00. Hasan sedang duduk dipematang sawah tepat di

Cerbung: Nur Jannah (Part 2)

Seminggu berlalu, berita penolakan keluarga Yusuf oleh keluarga Nur masih menjadi topik hangat didalam kampung bahkan di luar kampung Beurandeh. Bagaimana tidak, keluarga yang menduduki kasta sosial paling tinggi dikampung

Cerbung: Nur Jannah (part 1)

Beurandeh : 1985 Siang menjelang, matahari tampak merangkak menanjak hampir menggapai puncak, angin berhembus membungkus serta hawa panas kesetiap sudut desa. Hamparan sawah dengan padi yang setengah menguning tampak meliuk-liuk

Puisi : Mawar Merah

Biarkan… Biarkan aku tetap disini Hingga jawaban ku temui Dimana sesungguhnya luka Luka yang tak sengaja ku gores Aku memang hanya duri Duri yang telah melukai Aku memang tak kan

Cerpen: Apa Kabar Senja?

Apa kabar senja?, masihkah sehangat dulu?, sudikah mendengar ceritaku?.sudah tiga januari berlalu, ku kira ku sudah lupa, ternyata dia masih saja melintasi pemikiranku. Mengusik ketenangan hati untuk kesekian kalinya.Telpon tadi

Cerpen: Kenapa Mereka bercerai?!

Jarum jam menunjuk angka 12.30, sudah setengah jam sejak aku menaiki Bus transportasi umum menuju rumah nenek. Untung aku hanya perlu menunggu 1 jam setengah lagi, jika sedikit saja lebih

Puisi : Guruku

Karya : Fathur Rizqa, Siswi kelas 4 SDN 112 Pekanbaru-Riau