Titik

“Ir, aku kena pelet.” Irma tersedak. Andaikan ia tak sempat membekap mulutnya, niscaya pentol bakso terlontar laksana peluru meriam membelah udara. “Masa, sih? Dari mana kamu tahu?” selidik Irma setelah

Curahan Hati Yuli

Bu, maaf, saya datang terlambat. Mas Teguh menyampaikan kabar Ibu sedang sakit keras. Lama saya berpikir dan menimbang-nimbang. Akhirnya, saya memutuskan untuk pulang. Bagi saya, ini bukanlah perkara mudah. Sepuluh

Gadis Berkebaya Putih Gading

Damar tersentak bangun. Tubuhnya bermandikan keringat. Gadis itu, gadis berkebaya putih gading, hadir lagi dalam mimpinya. Mimpi Damar tentang sosoknya selalu sama; seperti penggalan adegan film yang diputar berulang-ulang. Gadis

Album Foto

Aku mengintip ke dalam rumah. Kakek sedang duduk membelakangi pintu. Tampaknya ia tengah serius membaca buku. Ini kesempatanku untuk menyelinap. Aku berjingkat-jingkat di balik punggungnya. Kuhitung langkahku dalam hati. Satu,

Gombal

Jupri memarkirkan sepeda motornya dekat warung nasi uduk Nyak Rodiah. Warung itu sejatinya sebuah lapak sederhana di bawah pohon mangga; terdiri atas sebuah meja besar dikelilingi tiga bangku panjang dari

Ziarah

Dimas melihat Hendry berulah saat upacara bendera. Anak itu sengaja menjatuhkan sekeping koin ketika semua kepala tertunduk melangitkan doa. Suasana hening pun pecah oleh denting logam yang membentur lantai lapangan.

Cikunyit Fashion Week

Asep Suharja duduk mencangkung di depan rumah. Ia merenungi pertemuan tempo hari di kelurahan. Lurah Cikunyit mengingatkan seluruh ketua RW bahwa musim penghujan segera tiba. Semua warga—terutama anak muda harus

Geng Bund’r

Maemuna menunggu dengan tak sabar. Zainal, suaminya, sedang menghidupkan mesin motor matic. Tampak laki-laki itu mengentak engkol starter manual berkali-kali. Motor menggerung kemudian senyap. “Akinya soak,” keluh Zainal sembari menghapus

Roman Picisan

Aku menghampiri meja guru. “Maaf, Pak. Saya terlambat.” Pak Hermawan menurunkan kacamatanya. Sambil memandangku tajam, ia bertanya, ”Jam berapa sekarang?” ”Jam enam lewat tiga puluh tujuh menit, Pak,” jawabku setelah

Tokek

Ganang berpapasan dengan Lik Kusno di jalan setapak menuju ke sungai. Baginya, senyuman Lik Kusno serupa ringisan akibat beban berat di bahunya. Laki-laki itu sedang memikul rumput untuk pakan kambing.

Matahari Kecil

Asti duduk di muka cermin. Tangannya mengulas lipstik penuh semangat. Garis merah marun melampaui sudut bibirnya. Sesaat kemudian, tabung mungil itu ia letakkan di meja rias. Mulutnya mengerucut lalu menganga,

Pohon Jambu yang Patah Hati

Di halaman rumahku, tumbuh sebatang pohon jambu air. Pohon itu sedang sakit keras. Kulitnya kering dan retak-retak. Tersisa sehelai daun menguning pada rantingnya. Barangkali, saat daun terakhir gugur nanti, pohon

Prank!

Aris sabar menunggu di balik pohon asam. Dari sudut paling sempurna untuk merekam video, serta terlindungi oleh semak belukar, Ma’mar dan Dhani memantau keadaan. Kamera ponsel sudah menyala. Punggung Aris